1. A.      Siklus Ekonomi atau Bisnis

Siklus ekonomi adalah fluktuasi ekonomi yang melanda produksi nasional, pendapatan, kesempatan kerja, yang biasanya berlangsung selama 2 sampai 10 th, yang ditandai dengan adanya kontraksi dan ekspansi di seluruh sektor ekonomi.

Menurut Kusnendi (dalam Modul Makroekonomi), siklus bisnis ekonomi adalah fluktuasi pertumbuhasn ekonomi disekitar trendnya yang meliiputi masa depresi,recovery,boom, dan resesi.

Menurut Yanuar,SE,MM (dalam modul pengantar ekonomi makro), Siklus ekonomi adalah pasang surutnya kegiatan ekonomi di sekitar trend setelah dilakukan penyesuaian musiman

Siklus ekonomi adalah putaran kegiatanperekonomian, kadang kegiatan ekonomi lesu- banyak pengangguran, kadang kegiatan ekonomi bergairah-pengangguran kecil-produktivitas naik. (Magistra Media Maya Community Samarinda Option,pdf)

Siklus bisnis adalah suatu deretan masa resesi dan masa kemakmuran yang berulang-ulang dengan teratur dan yang meluas ke mana-mana.  Siklus siklus bisnis ini harus dibedakan dari variasi musiman (berkurangnya penjualan baju hangat pada musim panas) dan kecenderungan (trend) sekular (terutama yang berhubungan dengan populasi seperti ledakan kelahiran bayi). Tahapan-tahaan dari siklus bisnis ini adalah tahapan kulminasi, kontraksi, resesi, nadir, perbaikan, dan ekspansi. (John Petroff. Translation 2005 Roy Sukamto)

Slump / Resesi / Lembah

Resesi adalah penurunan aktivitas ekonomi yang meluas ke mana-mana. Penurunan semacam ini biasanya menyebabkan banyak pekerja yang kehilangan pekerjaannya. Suatu resesi yang serius biasanya disebut depresi.

  • Pengangguran Tinggi
  • Tingkat permintaan beli rendah atau daya beli yang rendah bila dibandingkan dengan daya produksi yang terpasang / tersedia untuk menghasilkan barang konsumsi. Yang berakibat pada rendahnya laba perusahaan
  • Perusahaan bisa merugi
  • Keyakinan akan masa depan makin kecil / menipis. Bisa ditandai dengan anjloknya Index harga saham gabungan
  • Perusahaan tidak bersedia mengambil resiko investasi baru.
  • Jika lembah ini cukup dalam = RESESI

Pemulihan / Recovery

  • Mesin – mesin tua mulai diganti
  • Kesempatan kerja, pendapatan serta pengeluaran konsumsi meningkat
  • Harapan akan masa depan makin cerah (IHSG naik)
  • Penjualan dan laba meningkat
  • Investasi yang tadinya (pada lembah/resesi) dianggap beresiko kembali diminati karena pandangan atau keyakinan akan masa depan berbalik dari pesimisme menjadi optimisme
  • Karena permintyaan meningkat, sedangkan pada fase slump tersedia fasilitas produksi twerpasang yang banyak maka perusahaan denganm udah dapat meningkatkan produksi dengan cara mempergunakan kembali apa yang ada serta menggunakan tenaga kerja yang menganggur

Puncak / Peak

  • Penggunaan kapasitas terpasang pada kondisi tertinggi
  • Mulai merasakan kurangnya tenaga kerja, terutama tenaga kerja ahli / terampil
  • Kekurangan bagan baku
  • Output hanya dapat ditingkatkan dengan menambah investasi baru yang memerlukan waktu
  • Kenaikan permintaan diikuti dengan kenaikan harga, DEMAND > SUPPLY
  • Biaya cenderung meningkat (COST Meningkat) namun Price (harga jual ==>> Sales) juga meningkat
  • Kegiatan usaha umumnya masih sangat menguntungkan
  • Hingga mencapai BOOM, ditandai dengan IHSG Super BULLISH.

Resesi / Slump ==>> Jatuhnya GNP Riel

  • Permintaan menurun
  • Pendapatan rumah tangga menurun
  • Laba usaha turun
  • Investasi yang tadinya menguntungkan dengan kurangnya permintaan akan barang menjadi tidak menguntungkan / tidak menarik / makin beresiko

Suatu siklus dalam kegiatan ekonomi mencerminkan fluktuasi (gerak menaik dan menurun) secara bergelombang pada kegiatan ekonomi dalam kehidupan masyarakat. Fluktuasi serupa itu terjadi secara berulang dalam suatu jangka waktu tertentu. Secara umum dapat dikatakan bahwa siklus kegiatan ekonomi terulang secara periodic, akan tetapi tidak mutlak perlu bersifat regular; artinya, jangka waktu itu dalam masing-masing siklus tidak harus selalu sama lamanya.

Pola siklus ekonomi mencakup tahap ekspansi yang pada suatu saat berbalik menuju tahap kemunduran yang kelak disusul oleh pemulihan ke arah ekspansi lagi. Tahap ekspansi ditandai oleh kegiatan ekonomi yang semakin meningkat dan meluas secara bersam-sama di berbagai ragam kehidupan. Tahap ekspansi disusul oleh tahap kemunduran umum yang bersifat resesi. jika kemunduran itu berlangsung terus menerus selama masa waktu yang lebih panjang, maka resesi menjurus pada tahap depresi dimana dialami proses kontraksi (kegiatan ekonomi berkurang menjadi tersendat-sendat dan terbelakang).

Siklus ekonomi menyangkut segala segi ekonomi dalam kehidupan masyarakat yang akhirnya tercermin pada produk nasional dan pendapatan nasional.

Pengertian tentang teori siklus ekonomi sangat relevan dalam rangka pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi yang menyangkut kebijaksanaan Negara untuk melakukan perubahan structural dalam tata susunan ekonomi masyarakat  tak dapat tiada meliputi usaha jangka panjang yang memakan masa waktu beberapa generasi serta selalu dihadapkan dengan berbagai rupa hambatan dan rintangan.

Oleh sebab itu, sudah masuk akal bilamana kita menempatkan kembali pelajaran yang menyangkut siklus kegiatan ekonomi sebagai jalur pemikiran yang saling berkaitan dengan pemikiran yang saling berkaitan dengan pemikiran dalam teori ekonomi umum, bahkan sebagai bagian integral daripadanya.

  1. Asal mula pemikiran perihal siklus ekonomi

Pada pertengahan abad 19 oleh John Stuart Mill, principle of political economy (1848) telah diungkapkan tentang adanya krisis-krisis komersial (commercial crisis) yang muncul secara periodic. Dalam tahun yang sama, oleh Marx dan Engels dalam Communist Manifesto juga dinyatakan tentang krisis komersial yang dialami secara ulang dan periodic sebagai salah satu cirri pokok system kapitalis.

Kemudian seorang ilmuwan Perancis, Clement Juglar, dibeberkan secara lebih empiris-sistematis sifat dan corak krisis komersial yang berulang secara periodic. Juglar pula yang pertama kali menggunakan istilah siklus (cycle) dengan menonjolkan perkiraan-perkiraan tentang lamanya masa waktu menaik menurun-nya kegiatan ekonomi di antara dua krisis. Dengan kata lain ditunjukkannya pada panjang pendeknya gelombang dalam sesuatu siklus kegiatan ekonomi : dari titik terendah sampai titik terendah berikutnya.

Pada akhir abad 19 atau awal abad 20, dunia ilmu ekonomi diperkaya oleh buah pikiran ekonom Rusia, Tugan-Baranowski. Tugan-Baranowski telah dapat menyajikan suatu kerangka analisis dan dasar teori yang kelak menjadi landasan bagi pemikiran modern dalam ilmu siklus ekonomi. Tugan-Baranowski pula lah yang mengawali perkembangan teori-teori siklus ekonomi yang selama ini dikembangkan dan dipaparkan sejumlah tokoh pemikir lainnya,yang ternyata dalam kajian-kajiannya sudah terdapat telaahan dan kajian penting mengenai teori investasi dan peranannya dalam kegiatan usaha dan pembentukan pendapatan serta adapula yang menekankan pada arti dan fungsi konsumsi. Akan tetapi hal itu masih belum jelas terungkapkan secara terpadu mengenai kaitan anatara factor-faktor yang berpengaruh itu. Lagipula perkembangan teori di bidang ilmu siklus ekonomi selam itu berlangsung dalam suatu jalur pemikiran tersendiri, seakan-akan terpisah dari teori ekonomi umum. Namun hal tersebut menjadi berkaitan dan memiliki keterpaduan dalam kerangka analisis dan system pemikiran yang dikembangkan oleh Keynes yang kemudian disusun secara lebih kohesif-sistematis oleh Hansen.

Dari kerangka analisis Keynes mengenai fluktuasi dalam gerak kegiatan usaha sering ditandai oleh goncangan-goncangan yang membawa dampak luas terhadap ekonomi masyarakat secara menyeluruh,terutama melalui goncangan pada pendapatan dan kesempatan kerja. Keynes juga memperhatikan perkembangan pemikiran yang telah dirintis oleh pakar ekonomi di Eropa Kontinental, sehingga pemikiran-pemikiran mereka diandalkan dalam karya Keynes.

Kerangka analisis dan pola pendekatan dalam system pemikiran Keynes merupakan perkembangan lanjutan secara logis dari perkembangn pemikiran yang sebelumnya berlangsung di Eropa continental. Namun yang mengherankan ialah bahwa setelah Keynes-Hansen, pemikiran teoritis tentang permaslah fluktuasi dalam gerak kegiatan ekonomi seolah-olah diabaikan. Sikap tersebut di akalngan ahli seakan-akan gejolak fluktuasi ekonomi sudah dapat ditanggulangi secara memadai oleh kebijksanaan fiscal yang kontra-siklis atau oleh langkah tindakan di bidang moneter.

Perkembangan selama dasawarsa-dasawarsa ’70 dan ’80 membuktikan bahwa anggapan-anggapan serupa itu tidak dibenarkan oleh kenyataan empiris. Baru beberapa tahun terakhir ini timbul lagi perhatian dan minat untuk mempelajari dan memahami secara lebih mendalam hal-hal yang menyangkut gerak gelombang kegiatan ekonomi. terutama pada serangkaian factor dinamika yang mengambilperanan strategis dalam perkembangan dalam jangka menengah dan jangka panjang.

  1. Jenis Siklus Ekonomi

Dari karya Joseph Schumpeter, terdapat empat jenis siklus ekonomi.

1.   Siklus jangka pendek, menyangkut gerak gelombang kegiatan ekonomi selam 3-4 tahun (rata-rata berkisar pada 40 bulan) dari tingkat terendah sampai tingkat terendah berikutnya. siklus ini dikenal dengan siklus Kitchen (Joseph Kitchen), yang membeberkan adanay siklus ekonomi dengan menunjuk pada cirri pokoknya. Faktor dinamika yang sangat mempengaruhi perkembangan dalam siklus jangka pendek berkenaan dengan investasi dalam persediaan stok barang-barang.

2.   Siklus jangka menengah, meliputi masa waktu 7-11 tahun (rata-rata berkisar pada 9 tahun) dan disebut Siklus Juglar. Pola dan arah perkembangannya dipengaruhi terutama oleh investasi dalam barang modal atau perlatan modal fisik yang bersifat tetap.

3.    Siklus jangka menengah/panjang meliputi masa waktu 15-22 tahun (rata-rata kurang dari 20 tahun) dan disebut Siklus Kuznets. Kuznets menunjuk pada berlangsungnya siklus ini yang berada di antar masa waktu Siklus Juglar dan Gelombang Kondratieff (jangka panjang). dalam siklus ini kegiatan sector konstruksi dianggap mengambil peranan penting; bukan hanya sebagai cermin kegiatan usaha konstruksi, melainkan pada gilirannya dilakukan berbagai investasi yang bersangkutan dengan sector prasarana, bangunan,perumahan.

4.    Gerak kecenderungan jangka panjang menyangkut gelombang ekonomi selama masa waktu 40-60 tahun (rata-rata 54 tahun) dan disebut denga gelombang Kondratieff (Nicolai Kondratieff), berdasarkan penelitiannya ada empat factor kekuatan mendasar yang mempengaruhi pola dan arah gerak kecenderungan dalam ekonomi jangka panjang yaitu : (1) inovasi dan teknologi, (2) peperangan dan revolusi, (3) produksi emas, (4) SDA, khusus sector pertanian.

faktor-faktor kekuatan strategis dalam tiga siklus di atas sedikit banyak bersifat endogen, artinya factor tersebut terkandung dalam proses kegiatan ekonomi sendiri yang berlangsung dalam tata susunan ekonomi. sedangkan dalam gelombang jangka panjang, perkembangan ekonomi sangat dipengaruhi serangkaian factor dinamika yang bersifat eksogen.

 

  1. 1.        Siklus Kitchen Dalam Perkembangan Jangka Pendek

Oleh Joseph Kitchen, dalam Cycles and Trend s in Economic Factors, Review of economic Statistics no.5 (1923) dibentangkan tentang gerak kegiatan ekonomi yang meningkat dan menurun dalam jangka pendek. Satu sama lain terlihat pada produksi dan kesmpatan kerja, dan juga pada perkembangan harga komoditi primer. Fluktuasi yang dimaksud berlangsung tidak begitu lama dan berkaitan dengan bertambahnya atau berkurangnya investasi dalam stock barang-barang yang diperlukan dalam satuan-satuan usaha. oleh sebab itu, siklus Kitchen juga dipandang sebagai inventory cycle (inventaris barang).

Faktor-faktor utama yang mendorong fluktuasi dalam kegiatan ekonomi jangka pendek bersifat endogen. Dalam tahap ekspansi di kala kegiatan ekonomi meningkat dan meluas, oleh dunia usaha dilakukan penambahan investasi ke dalam persediaan stok. Pada titik puncak perkembangan jangka pendek, kegiatan ekspansi mengalami beberap kendala,seakan-akan mengalami kejenuhan. kendala-kendala yang dimaksud ada sangkut pautnya dengan tercapainya suatu keadaan dimana kapasitas produksi yang terpasang dalam masyarakat sudah digunakan sepenuhnya dengan kesempatan kerja penuh. Adapun dalam proses ekspansi ekonomi mengalami kesulitan-kesulita dalam lalu lintas pembayaran luar negeri. Dengan batasan-batsan tersebut proses ekonomi menjadi terseret. perkembangannya menurun dan menuju pada tahap resesi. Dalam keadaan ini, dialami surplus dalam persediaan stok barang-barang sebagai akibat investasi di tahap selanjutnya.

Dalam praktek biasanya terjadikelambatan pada pihak dunia usaha maupun pihak kebijaksanaan pemerintah dalam respons dan reaksinya terhadap perekmbangan keadaan yang sudah berubah. dengan kata lain, sering dialami ketinggalan waktu ataupun time-lag dalam reaksi dan respons terhadap perubahan-perubahan ekonomi. unsure time-lag sangat penting artinya,di kala hendak dilakukan langkah tindakan kontra-siklus,timingnya sudah tidak tepat dan (jauh) terlambat sehingga hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Permasalhan inikurang diperhatikan dalam pola pendekatan dalam system analisis pemikiran Keynes dan golongan Neo Keynes. Hal ini pun oleh Galbraith dianggap sebagai asimeuri politik (political asymery).

Dengan begitu, secara umum dapat dikatakan bahwa perkembangan ekonomi di Negara-negara industry memang secara berkala mengalami goyangan dalam jangka pendek. Kebanyakn Negara berkembang mempunyai corak ekonomi terbuka yang dewasa ini sangat tergantung dari produksi dan ekspor komoditi primer. Negara tersebut senantiasa mengalami dampak dari factor eksternal yang bersumber dari naik turunnya kegiatan ekonomi di Negara-negara industry. Hal itu menimbulkan fluktuasi pada permintaan akan komoditi primer dari Negara-negara berkembang.

Hal itu tentu membatasi ruang gerak kebijaksanaan pemerintah di bidang neraca pembayaran luar negeri. Dengan kata lain, goncangan siklis-konjungtural menyulitkan konsistensi dan kontinuitas akan kebijaksanaan structural dalam rangka pembangunan ekonomi. Hal yang sama berlaku mengenai ramifikasi (akibat pengaruh ang bercabang-cabang di berbagai ragam kegiatan ekonomi) dari siklus jangka menengah.

 

  1. 2.        Siklus Juglar dalam Perkembangan Jangka Menengah

Clement Juglar, penulis Des Crises commerciales et de leur retour périodique en France, en Angleterra et aux Etats – Unis (1861, edisi revisi 1889) harus dipandang sebagai seorang pionir dalam ilmu siklus ekonomi. Sebab, ialah yang untuk pertama kali memaparkan secara sistematis hasil pengamatannya dan kajiannya mengenai sebab krisis dan depresi yang secara berulang terjadi dalam siklus kegiatan ekonomi.

Clement Juglar sebenarnya adalah seorang dokter kesehatan yang tidak mendapat pendidikan formal sebagai ekonom profesional. Meskipun begitu dalam penilaian Schumpeter, Juglar adalah seorang genius yang dari segi penguasaan metode ilmiah dan berdasarkan karyanya dibidang ekonomi harus dianggap sebagai seorang pakar ekonomi besar sepanjang masa.

Judul karya Juglar sudah jelas mencerminkan pengamatannya tentang peristiwa krisis yang muncul secara berulang (retour) dan berkala (périodique) dalam fluktuasi siklus kegiatan usaha. Studinya menyangkut perkembangan ekonomi di tiga buah negara : Perancis, Inggris, dan Amerika Serikat. Ketiga negara itu merupakan negara-negara industri yang terkemuka dalam bagian kedua abad XIX.

Analisis Juglar didukung oleh banyak data statistik yang secara luas meliput berbagai segi ekonomi : harga komoditi, tingkat bunga, kredit perbankan, perkembangan penduduk, tingkat perkawinan, dll. Pendekatannya terhadap permasalahan yang dipelajari menunjukkan pandangan terpadu antara fenomena ekonomi, perspektif sejarah dan statistik-empiris. Dengan demikian, Juglar dapat memberi gambaran tentang hubungan/ korelasi (jalan perkembangan yang seiring-searah) diantara data-data mengenai berbagai bidang kegiatan yang dimaksud di atas. Satu sama lain memberi pengertian yang lebih jelas mengenai proses dan mekanisme silih-bergantinya secara susul-menyusul tahap ekspansi-kemakmuran dan tahap resesi-depresi. Dalam kerangka pemikiran Juglar siklus ekonomi meliputi tiga tahap : (1) tahap ekspansi dalam kegiatan ekonomi yang menuju pada kemakmuran (prosperity); (2) tahap krisis; (3) tahap likuidasi. Krisis tidak dapat dihindarkan dalam berlangsungnya siklus ekonomi, tetapi dapat diperkirakan sebelumnya. Ternyata bahwa perkiraan-perkiraan Juglar mengenai perkembagan yang dimaksud juga akurat.

Oleh Juglar sendiri tidak dikemukakan suatu kurun waktu yang pasti yang memisahkan satu krisis dari saat terjadinya krisis yang berikut; ia hanya menunjuk pada masa jangka menengah yang meliputi minimal 7 tahun dan maksimal 11 tahun, sedangkan dalam perkembangan sejarah masa rata-rata berkisar pada 9 tahun.

Penelitian Juglar pada awalnya ditujukan kepada perkembangan harga barang selama berlangsungnya siklus yang mencakup beberapa tahap yang susul-menyusul. Sejalan dengan itu dipantau peranan tingkat bunga dan pengaruh kredit perbankan dalam perkembangan yang menuju ke arah krisis. Tahap ekspansi yang ditandai oleh kecenderungan kenaikan harga selalu menjurus kepada keadaan krisis. Pada saat ini, perkembangan berbalik dan kegiatan usaha menurun sampai mencapai tingkat rendah dan tertekan. Timbulnya suatu krisis tergantung dari konstelasi umum keadaan ekonomi masyarakat. Walaupun terjadi peperangan misalnya, atau musibah alam, atau penyalahgunaan kredit perbankan dan/ atau terlalu banyak uang dicetak, segala sesuatu bisa mempercepat kejadian krisis. Akan tetapi peristiwa krisis itu sendiri baru timbul dikala situasi ekonomi sudah mencapai suatu tahap tertentu ketika krisis tidak dapat dihindarkan lagi. Krisis itu didahului oleh kegiatan ekonomi yang semakin meningkat dan kemudian ditandai oleh rupa-rupa gejala; ciri-ciri ekspansi menjadi sedemikian rupa sehingga dapat diperkirakan perkembangan ekonomi sudah mendekati tahap krisis.

Menurut Juglar krisis dan depresi merupakan akibat dari distorsi-distorsi yang terjadi dalam tahap ekspansi sebelumnya. Dengan kata lain, sebab-musabab krisis dan depresi sudah terkandung dalam perimbangan-perimbangan keadaan yang berkembang selama tahap ekspansi.

Krisis dan depresi adalah reaksi dari sistem ekonomi terhadap kegiatan ekspansi dalam tahap sebelumnya; ataupun suatu proses adaptasi (penyesuaian) dan restrukturasi dengan perubahan kondisi yang merupakan akibat dari perkembangan ekspansi itu sendiri. Salah satu sebab diantaranya ialah perkembangan harga yang semakin meningkat sehingga pada suatu saat dianggap terlalu tinggi oleh para calon pembeli. Harga umum barang-barang jatuh dan mulailah krisis, yang kemudian menjadi depresi. Dalam tahap itu, terjadi likuidasi yang meluas dalam dunia usaha.

Juglar menunjuk pada perkembangan harga sebagai fenomena. Nampak kurangnya dikaji dan dijelaskan tentang sebab yang lebih mendalam yang berkaitan dengan jatuhnya tingkat harga umum itu, selain pengamatannya bahwa kegiatan ekspansi yang disertai oleh kenaikan harga sudah mencapai tingkat yang terlalu tinggi.

Sementara itu karya Juglar telah meratakan jalan bagi pengembangan analisis modern mengenai siklus kegiatan ekonomi. Menurut Schumpeter gagasan Clement Juglar dan pengaruhnya harus dinilai berdasarkan tiga macam pertimbangan.

Pertama, Juglar menggunakan bahan empiris dalam metode serial waktu (time series) mengenai perkembangan harga komoditi, tingkat bunga, dan neraca-neraca bank sentral. Pekerjaannya dilakukan secara sistematis yang ditujukan pada sasaran-sasaran yang jelas dengan pengkajian mendalam terhadap fenomena permasalahan yang diidentifikasikan. Hal itu merupakan metode pendekatan fundamental dalam analisis modern mengenai tahap-tahap dalam gerak kegiatan ekonomi masyarakat. Oleh sebab itu, wajar bilamana Clement Juglar dianggap sebagai pelopor dalam teori siklus ekonomi (di jaman itu dikenal sebagai teori konjungtur).

Kedua, Juglar selain menemukan siklus ekonomi yang berjangka 7-11 tahun (rata-rata 9 tahun) juga mengembangkan semacam morfologi (pengertian atas gambaran tentang struktur dan bentuk luar) dari siklus yang dimaksud, yaitu identifikasi tentang urutan pentahapan (sequence) ekspansi, krisis, dan likuidasi. Morfologi modern mengenai gerak gelombang kegiatan ekonomi masyarakat bersumber pada karya Juglar. Begitu pula mengenai munculnya fenomena secara berulang dan periodik (retour périodique).

Ketiga, kesimpulan pokok dalam analisis Juglar ialah bahwa sebab utama terjadinya krisis dan depresi sudah terletak pada perimbangan-perimbangan keadaan dalam tahap ekspansi yang sebelumnya. Krisis dan depresi merupakan reaksi dan proses adaptasi terhadap berbagai ketimpangan yang terciptakan oleh perkembangan ekspansi yang mendahuluinya. Tentu kesimpulan tersebut mengandung pertanyaan : apa yang menjadi sebab pokok yang membangkitkan suatu keadaan ke arah ekspansi dan faktor-faktor yang manakah yang mendorong kegiatan ekspansi ke arah tingkat puncaknya.

Dalam hal ini analisis Juglar ternyata kurang memuaskan.

Baru pada awal abad XX segi permasalahan tersebut diteliti dan dikaji secara lebih mendalam yaitu oleh Tugan-Baranowski dan berikutnya oleh Arthur Spiethof.

Berdasarkan landasan pemikiran yang telah diletakkan oleh Clement Juglar dan dengan memanfaatkan bahan-bahan bangunan dalam analisisnya, oleh Tugan-Baranowski dan Spiethof ditonjolkan faktor investasi sebagai peran utama dalam gerak siklus kegiatan ekonomi. Memang harus dicatat bahwa dalam gagasan Juglar sendiri peran investasi kurang disoroti secara spesifik dan terinci.

Dalam periode pasca Perang Dunia II pemikiran-pemikiran Juglar, Tugan-Baranowski, Spiethof dll seakan-akan terlupakan oleh para ekonom profesional. Baru sejak awal dasawarsa ’80 ada lagi perhatian khusus terhadap bidang permasalahan ini. Hal itu terungkapkan dalam karya Miyohei Shinohara, seorang tokoh ekonomi dari Jepang yang menunjuk kepada arti dan relevansi hasil pemikiran Juglar (dan Kondratieff) bagi perkembangan ekonomi dunia dewasa ini dan dasawarsa-dasawarsa mendatang.

Dalam penafsiran Shinohara atas kerangka landasan pemikiran Juglar, dijabarkan secara eksplisit bahwa gerak siklus ekonomi jangka menengah yang dibeberkan oleh Juglar bersangkut-paut dengan investasi dalam peralatan modal fisik yang bersifat tetap (berbeda dengan investasi dalam stok barang seperti terdapat dalam Siklus Kitchen). Penafsiran Shinohara atas gagasan Juglar ini menurut hemat saya mempunyai dasar yang kuat.

Menurut Shinohara teori Juglar dan teori Kondratieff mengandung makna yang besar bagi pengertian kita tentang perkembangan ekonomi dunia setelah Perang Dunia II dalam abad XX ini, khususnya sebagaimana yang selama ini berlangsung di kawasan Asia-Pasifik.

Munculnya Jepang sebagai kekuatan ekonomi yang menonjol, diikuti oleh perkembangan dinamis sejumlah negara industri baru di Asia Timur dan berlangsungnya proses pembangunan di negara-negara Asia Tenggara, semuanya sulit dipahami tanpa memperhatikan serangkaian pikiran yang semula dirintis oleh Juglar dan Kondratieff. Untuk perkembangan jangka menengah, hal itu khusus berkaitan dengan investasi dalam peralatan modal tetap yang terlaksana di Jepang, maupun di Korea Selatan, Taiwan, Hongkong, dan Singapura dan kemudian diikuti oleh negara-negara Asia Tenggara. Pertumbuhan ekonomi di negara-negara tersebut ditandai oleh berlangsungnya siklus-siklus Juglar dengan adanya beberapa puncak tingkat investasi di awal dasawarsa ’60 dan awal dasawarsa ’70. Sedangkan dalam perkembangan jangka panjang selama dasawarsa ’50 dan ’60 sampai terjadinya krisis minyak pada pertengahan dasawarsa ’70, boleh dikatakan tidak dialami depresi yang berkepanjangan, meskipun beberapa kali memang terjadi resesi. Akan tetapi, resesi-resesi yang dimaksud bersifat agak lunak dan hanya berlangsung selama waktu yang relatif pendek.

 

  1. 3.        Siklus Kuznets dalam Perkembangan Jangka Menengah/ Panjang

Pandangan Simon Kuznets pada umumnya dihubungkan dengan karya besarnya mengenai perhitungan nasional dan penjabarannya tentang unsur-unsur komponen dalam pendapatan nasional. Hal itu telah disajikan di bagian lain dalam tinjauan kita mengenai perkembangan teori umum.

Di sini hanya ditelaah pemikiran Kuznets yang khusus menyangkut siklus kegiatan ekonomi, Economic Change (1953).

Kuznets menunjuk pada dinamika yang bersangkutpaut dengan kegiatan di sektor konstruksi yang meliput prasarana, bangunan komersial dan industri, perumahan, dsb. Kegiatan konstruksi di berbagai bidang ekonomi merupakan faktor yang sangat penting karena pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan oleh pemerintah, oleh dunia usaha, dan pengeluaran pembangunan dalam masyarakat pada umunya. Pengeluaran yang secara langsung dan tidak langsung berkenaan dengan kegiatan konstruksi itu juga mengalami fluktuasi.

Siklus Kuznets menjangkau masa waktu antara 15-22 tahun, lebih lama dari Siklus Juglar dan lebih pendek dari Gelombang Kondratieff. Pengamatan empiris-statistik dalam abad XX mengungkapkan jangka waktu rata-rata siklus ini berkisar pada 16-17 tahun : terdiri atas 11 tahun kegiatan ekspansi dan disusul oleh 5-6 tahun proses kontraksi. Satu sama lain berkenaan dengan pengaruh sektor konstruksi, yaitu meningkatnya dan menurunnya kegiatan di sektor tersebut.

Pengeluaran konstruksi melibatkan kegiatan di serangkaian ragam industri lainnya, seperti diantaranya kayu, semen, besi dan baja, perabotan, barang pecah-belah, dan lain-lain sebagainya untuk keperluan gedung komersial dalam rumah tangga keluarga. Dampak multiplier (pengaruh berganda) terhadap pendapatan dan kesempatan kerja memang meluas dan sangat berarti dalam ekonomi masyarakat.

Arti dan peranan konstruksi dalam pertumbuhan ekonomi harus dilihat dalam kaitannya dengan serangkaian variabel ekonomi maupun variabel demografi : tumbuhnya generasi demi generasi, perkembangan jumlah rumah tangga keluarga, gerak arus imigrasi, dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi biaya tenaga kerja, harga bahan bangunan, tingkat bunga, dsb. Semuanya itu secara bersamaan sangat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi maupun fluktuasinya dalam gerak kegiatan ekonomi.

Siklus Kuznets juga dianggap sebagai ciri penting dalam proses pertumbuhan dan sehubungan dengan itu, pola pemikiran dalam sistem Kuznets merupakan sumbangan yang berarti bagi perkembangan teori pertumbuhan. Bisa saja terjadi bahwa dalam rangka siklus Kuznets gerak kegiatan ekonomi sedang menanjak dalam suatu tahap ekspansi, akan tetapi dilihat dalam perkembangan jangka panjang (dalam rangka gelombang Kondratieff) sudah berada dalam tahap kecenderungan yang sedang menurun

Gelombang Kondratieff disebut di muka sebagai salah satu diantara empat jenis siklus ekonomi. Gagasan Kondratieff kelak akan dibahas lebih lanjut dan secara lebih luas dalam bagian tersendiri. Kerangka analisis dan pendekatan dalam sistem pemikiran Kondratieff ditujukan kepada permasalahan dalam perkembangan jangka panjang. Pola dan arah perkembangan tersebut dipengaruhi oleh serangkaian faktor dinamika yang bersifat eksogen.

Sebelumnya terlebih dahulu akan disimak pokok-pokok pemikiran siklus ekonomi sebagaimana yang dikembangkan oleh sejumlah pakar ekonomi dalam bagian pertama abad XX : mulai dengan Tugan-Baranowski di awal abad ini sampai dengan pemikiran Keynes-Hansen pada pertengahan abad. Pemikiran-pemikiran yang dimaksud pada umumnya berkisar pada gerak kegiatan ekonomi jangka pendek dan menengah dengan menekankan pada peranan faktor dinamika yang lebih bersifat endogen.

Dalam tinjauan ini, diadakan pembedaan antara beberapa kelompok teori siklus ekonomi. Tolok ukur bagi masing-masing kelompok berkenaan dengan fakor dinamika yang dianggap sebagai variabel strategis yang menyebabkan fluktuasi dalam perkembangan ekonomi : arti dan peranan investasi, arti dan peranan konsumsi, arti dan peranan fakor moneter.

  1. 4.        Peranan Investasi dalam Siklus Ekonomi : Mikhailov Tugan-Baranowski (1865-1919); Arthur Spiethof (1873-?)

Dalam pandangan kelompok ini menaik-menurunnya kegiatan ekonomi bersangkutpaut dengan perubahan-perubahan pada volume dan tingkat investasi, khususnya investasi riil (barang modal fisik yang bersifat tetap).

Dalam hubungan ini harus dibedakan antara investasi riil dan investasi finansial. Investasi riil berkenaan dengan pembuatan peralatan barang modal yang baru. Hal itu berarti secara riil terjadi tambahan netto pada barang modal (nett capital formation) dari berbagai jenis dan ragam barang di berbagai bidang, apakah itu dalam bentuk mesin, gedung komersial, perumahan, dsb.

Di pihak lain, investasi finansial terjadi dalam hal pembelian/ pengalihan milik mengenai surat-surat berharga seperti saham atau obligasi, surat perbendaharaan negara, surat berharga komersial dalam dunia usaha, dsb.

Dibidang investasi riil lazim diadakan pembedaan antara : (i) investasi dalam barang modal tetap yang meliputi a.l. peralatan pabrik, peralatan modal, konstruksi bangunan; (ii) investasi dalam inventaris : stok persediaan barang berupa bahan baku, bahan penolong/ setengah jadi, suku cadang, produk akhir.

Mikhailov Tugan-Baranowski dengan bukunya Studien zur Theorie und Geschichte der Handelskrisen in England (1901), terjemahannya dalam bahasa Perancis, Les Crises indrustrielles en Angleterre (1913), dapat dianggap sebagai pakar ekonomi paling terkemuka diantara pemikir-pemikir ekonomi berbangsa Rusia yang sangat menonjol dalam abad XX sampai zaman pasca revolusi Bolsyevik tahun 1917. Sebagaimana hanlnya dengan pakar-pakar ekonomi Rusia lainnya, pola pendekatan Tugan-Baranowski  terhadap masalah-masalah ekonomi masyarakat sangat dipengaruhi oleh pandangan Karl Marx. Selain kemahirannya dalam teori ekonomi, Tugan-Baranowski juga sangat mendalami ilmu sejarah dan selalu melakukan perpaduan antara pemikiran ekonomi dengan perkembangan sejarah. Dalam pada itu, ia juga mengenal dan terus-menerus mengikuti perkembangan teori ekonomi di pusat-pusat pemikiran di Wina, Austria, dan di Cambridge, Inggris. Tugan-Baranowski bukan merupakan pemikir Marxis yang dogmatis, bahkan dalam banyak hal penting ia mengadakan pengkajian kritis terhadap ajaran Marx.

Tugan-Baranowski melengkapi dan menyempurnakan seperangkat pikiran yang landasannya telah diletakkan oleh Clement Juglar. Suatu siklus dalam kegiatan ekonomi, menurut Tugan Baranowski, boleh panjang atau pendek tergantung dari kondisi dan konstelasi ekonomi yang secara nyata berlangsung pada tahap-tahap tertentu dalam sejarah. Ia juga membenarkan hasil kajian Juglar tentang adanya krisis-krisis yang terjadi secara berulang dalam perkembangan jarak waktu 7-11 tahun.

Inti pokok dalam teori siklus ekonomi yang dikembangkan oleh Tugan Baranowski berkisar pada saran pendapatnya tentang investasi sebagai faktor pendorong utama dalam kegiatan ekonomi. Fluktuasi (perubahan-perubahan yang menaik-menurun) pada investasi menyebabkan fluktuasi dalam kegiatan ekonomi mesyarakat secara menyeluruh. Ciri perkembangan ekonomi inilah yang kurang dijelaskan dalam sistem pemikiran Juglar.

Kenyataan empiris menunjukkan bahwa fluktuasi besar dalam kegiatan ekonomi adalah fluktuasi yang ada sangkutpautnya dengan perubahan-perubahan dalam produksi barang modal. Hal ini mengandung ramifikasi luas bagi kegiatan di sektor-sektor lainnya, termasuk industri untuk barang konsumsi. Dalam hubungan ini, diungkapkan tentang adanya interdependensi antara berbagai ragam kegiatan ekonomi dan cabang industri dalam tata susunan ekonomi secara menyeluruh. Produksi barang modal menimbulkan permintaan akan barang-barang lain. Dalam tahap ekspansi akumulasi pembuatan barang modal meningkatkan permintaan umum akan hasil produksi industri lain. Dalam proses tersebut, pendapatan masyarakat bertambah secara berlipat sebagai akibat tambahan netto pada investasi riil.

Dengan kata lain, disini sudah mulai terlihat paham tentang multiplier sebagaimana akan dikembangkan puluhan tahun kemudian oleh Keynes dan para pengikutnya. Dalam kerangka pemikiran Tugan-Baranowski masalah ini belum ditanggulangi secara lengkap tuntas karena tidak ditemukan atau dikembangkannya paham mengenai hasrat marginal berkonsumsi.

Ekspansi kegiatan ekonomi dibiayai dari tiga sumber : (1) tabungan dan cadangan yang tersedia yang belum digunakan; (2) tabungan berjalan dari peningkatan pendapatan; (3) kredit perbankan yang menjadi semakin longgar.

Produksi barang modal riil mulai berkurang dan akan berakhir pada tahap dimana sumber dana pembiayaan semakin menciut, khususnya dari kredit perbankan.

Krisis dibidang industri terjadi setelah adanya krisis finansial. Namun menurut pendapat Tugan-Baranowski, kesulitan moneter bukan menjadi sebab utamanya, melainkan merupakan fenomena sekunder sebagai akibat dari ebab yang lebih mendasar. Hal terakhir ini berkenaan dengan ketidakseimbangan dan disproporsionalitas antara akumulasi sumber daya produktif dan kemampuan untuk berkonsumsi.

Krisis yang disusul oleh resesi dan pada gilirannya menjurus ke depresi berarti kegiatan ekonomi semakin berkurang dan menurun sampai tingkat yang rendah dan tertekan. Hal itu menyebabkan adanya ketidakseimbangan dan ketimpangan dalam alokasi dan penggunaan sumber daya produksi secara proporsional diantara berbagai sektor ekonomi dan berbagai ragam industri. Dengan kata lain, terjadi distorsi dalam alokasi atau pola penggunaan sumber daya produksi. Ada beberapa jumlah cabang ekonomi dimana dialami produksi yang berlebihan, ada cabang-cabang lain dimana dirasakan kekurangan produksi. Dalam keadaan demikian, keseimbangan antara penawaran agregatif dan permintaan agregatif juga menjadi goncang. Hal itu menyebabkan apa yang oleh Tugan-Baranowski dimaksud sebagai “kelebihan produksi diatas kemampuan berkonsumsi”. Tetapi pengertian tersebut harus dianggap dalam arti relatif, karena menunjuk pada ketimpangan dalam penggunaan sumber daya produktif diantara sektor-sektor ekonomi. Dari segi lain, hal ini juga dapat dilihat sebagai ketimpangan antara tabungan dan investasi.

Semua itu mengakibatkan timbulnya kesulitan dibidang uang dan kredit. Faktor lain yang mempertajam disparitas dan distorsi dalam proses produksi dan konsumsi ialah terjadinya banyak spekulasi dikala kegiatan ekspansi semakin meningkat.

Kelak suatu keseimbangan yang baru hanya bisa tercapai dengan tersisihnya sebagian peralatan modal di sektor-sektor yang mengalami ekspansi secara berlebihan (menjadi usang atau berkarat sehingga kehilangan arti ekonomis dan teknis).

Keadaan stagnasi umum menyusul tahap ekspansi. Siklus ekonomi beralih dari tahap kemakmuran menjadi resesi dan menuju tahap depresi. Dalam tahap depresi itu, kemudian akan terjadi lagi akumulasi sumber dana pembiayaan. Tersedianya dana modal tersebu akan mendorong penggunaannya dalam investasi barang modal. Hal ini memulihkan keadaan ekonomi dan membangkitkan kegiatan usaha ke arah tahap ekspansi yang kemudian menuju ke titik puncaknya. Terjadilah krisis lagi dan keadaan berbalik menjadi resesi menuju depresi. Dengan begitu siklus kegiatan ekonomi berjalan menurut suatu gelombang yang baru.

Fakor strategis dalam penentuan siklus ekonomi terletak pada pihak investasi, dan bukan pada pihak konsumsi. Fluktuasi pada volume dan tingkat investasi mempengaruhi dan mengendalikan siklus kegiatan ekonomi, sedangkan konsumsi menaik dan menurun sebagai respons dan reaksi terhadap gerak kegiatan tersebut.

Menurut Tugan Baranowski terjadi banyak fluktuasi pada tingkat investasi. Sebaliknya tabungan dari pendapatan relatif konstan dan tidak mengalami banyak perubahan.

Dalam tahap ekspansi, investasi melebihi tabungan berjalan (current savings), yaitu tabungan yang disisihkan dari pendapatan yang sedang diterima dalam jangka waktu tertentu. Permintaan untuk investasi yang melampaui tabungan berjalan menimbulkan kesenjangan. Kesenjangan tersebut diisi atau dilengkapi dengan dilepaskannya cadangan dan/ atau tabungan dari zaman sebelumnya atau karena diperoleh kelonggaran dalam kredit perbankan.

Sebaliknya pada tahap depresi, investasi menjadi berkurang dan jatuh dibawah tabungan berjalan. Sisa kelebihan tabungan ini dimasukkan ke dalam persediaan cadangan dana atau digunakan untuk pembayaran kembali utang-utang kepada bank.

Oleh Tugan-Baranowski belum dijelaskan secara memuaskan tentang faktor apa dan pertimbangan yang mana yang sebenarnya menyebabkan awal mulanya peningkatan investasi yang mendorong kegiatan ekonomi ke tahap ekspansi. Sebaliknya, apa sebabnya volume dan tingkat investasi itu pada suatu waktu akan menurun ?

Dalam teori Tugan-Baranowski investasi meningkat karena didorong terutama oleh pihak yang memiliki atau menguasai dana yang sedang bertambah. Pihak terakhir itu mencari peluang untuk saluran investasi (investment outlet) dan berhasrat memberi pinjaman.

Akan tetapi dalam kerangka pemikirian ini kurang diperhatikan bahwa selain dorongan dari pihak pemilik dana modal, mungkin sekali juga ada semacam pull, sikap hasrat dari pihak pengusaha untuk menarik dan mengerahkan dana modal. Satu sama lain karena pertumbuhan ekonomi yang meningkat, atau meluasnya pasaran karena penduduk bertambah dengan pendapatannya meningkat, ataupun (mungkin yang paling penting) karena perkembangan teknologi yang baru.

Penjelasan Tugan-Baranowski mengenai kendala terhadap berlangsungnya investasi ialah karena pada suatu tahap sumber dana pembiayaan menjadi semakin langka dan dilakukan pembatasan atau pengurangan kredit oleh pihak perbankan. Hal tersebut menyebabkan investasi menurun. Akan tetapi tidak disebut oleh Tugan-Baranowski tentang kemungkinan semakin langkanya kesempatan untuk menyalurkan dana ke dalam investasi karena oleh pihak pengusaha dianggap sudah kurang menarik. Atau dengan menggunakan istilah “modern” (Keynes) karena menurunnya efisiensi marginal dari investasi modal.

Segi permasalahan yang diungkapkan di atas mengenai sebab utama baik menaik-menurunnya (hasrat) investasi dirasakan sebagai kekurangan pokok dalam analisis Tugan-Baranowski.

Arthur Spiethof, dengan bukunya Krisen dalam Handwörterbuch der Staatswissenschaften (1925) seorang pakar ekonomi bangsa Jerman melengkapi dan memantapkan kerangka dasar pemikiran yang sebelumnya diletakkan oleh Tugan-Baranowski. Hal itu menyangkut satu bagian yang penting yang justru belum terampung secara memuaskan oleh Tugan-Baranowski, yakni segi permintaan (akan dana modal) untuk investasi dalam pembuatan barang modal tetap. Dalam gagasan Tugan-Baranowski gerak menaik-menurunnya kegiatan ekonomi berkaitan dengan tersedianya atau terbatasnya dana pembiayaan; jadi, dari pihak pasok dana modal.

Sebaliknya Spiethof menitikberatkan pada peran investasi yang bersumber dari pihak permintaan akan dana investasi untuk digunakan dalam produksi barang modal tetap. Spiethof sendiri memang beranggapan bahwa pemikirannya dan pemikiran Tugan-Baranowski saling melengkapi. Tugan-Baranowski menekankan faktor dorongan (push) yang datang dari pihak pemilik atau pengelola dana untuk mencari peluang saluran investasi. Sedangkan Spiethof lebih mementingkan adanya daya tarik (pull) dari pihak para usahawan yang terwujud pada permintaannya akan dana modal untuk investasi produksi barang modal.

Tahap ekspansi dan tahap depresi dalam siklus ekonomi bersangkutpaut dengan meningkatnya dan berkurangnya produksi barang modal tetap. Bisa saja perkembangan tersebut disertai oleh banyaknya atau langkanya sumber dana pembiayaan. Namun, hal itu adalah sekunder. Tahap ekspansi berawal dari perkembangan teknologi (penemuan-penemuan baru) dan/ ataupun oleh pembukaan kawasan-kawasan teritorial baru, baik dalam benuanya sendiri atau di belahan-belahan lainnya di dunia.

Satu sama lain menciptakan peluang bagi produksi barang modal sehingga menimbulkan permintaan akan dana modal untuk digunakan sebagai investasi dalam produksi barang modal yang bersangkutan. Kegiatan ekspansi kemudian semakin meluas dan menuju ke tingkat yang tinggi. Pada tingkat inilah peluang-peluang untuk investasi baru menjadi semakin terbatas; tambahan pada barang modal kurang ada gunanya dan secara ekonomis menjadi kurang menarik.

Dengan istilah “modern” (Keynes-Hansen) pada tahap itu hal efisiensi marginal dari (investasi) modal sudah menurun. Memang kemungkinan besar bahwa di sisi lain pada saat tersebut sumber dana pembiayaan juga semakin berkurang. Namun faktor yang lebih menentukan ialah pertimbangan dan minat yang semakin menurun pada pihak usahawan untuk menggunakan dana modal karena peluang investasi sudah menjadi terbatas dan investasi baru kurang menarik dalam imbalan jasanya.

Dalam tahap depresi berlangsung akumulasi dalam sumber dana pembiayaan yang semakin bertambah. Akhirnya dikala kegiatan ekonomi sudah berada pada tingkat yang rendah, maka akan ada dorongan dari pihak pemilik/ pengelola dana untuk menyalurkan dana itu dengan mencari berbagai peluang investasi. Dengan tersedianya banyak dana modal, tingkat bunga juga menurun. Namun, hal itu belum menjamin bahwa investasi riil dengan sendirinya akan meningkat secara berarti. Untuk itu harus ada perangsang khusus bagi pengusaha/ calon investor untuk melakukan investasi secara besar-besaran dalam produksi barang modal. Perangsang yang dimaksud lazimnya timbul dengan penemuan-penemuan baru dalam perkembangan teknologi dan/ atau dengan perluasan pasar, baik di wilayahnya sendiri maupun dengan membuka/ menguasai/ merebut kawasan-kawasan geografis baru dalam benua-benua lain.

Perkembangan dalam tahap akhir ekspansi dikala kegiatan ekonomi sudah mendekati titik baliknya menjurus ke resesi dan depresi, sering dipertajam oleh gerak-gerik spekulasi yang berlebihan yang disertai oleh goncangan harga. Sementara itu, dibawah permukaan gejala spekulasi dan goncangan harga, sebab-musabab mendasar bagi menaik-menurunnya kegiatan ekonomi berkisar pada dua faktor yang telah disebut tadi : (1) permintaan akan (investasi) barang modal riil menjadi inelastis, disertai oleh (2) persediaan dana modal menjadi langka.

Dalam kerangka pemikiran Tugan-Baranowski nampaknya akumulasi dana dianggap berlangsung secara tetap/ konstan. Akumulasi dana tersebut semakin didorong ke berbagai saluran investasi dalam produksi riil barang modal.

Di pihak lain, permintaan untuk investasi tidak berjalan secara reguler atau konstan. Dikala ekspansi semakin meningkat, permintaan untuk investasi melampaui persediaan dana yang relatif menjadi langka. Ketimpangan tersebut menjadi kendala terhadap berlangsungnya investasi sehingga perkembangan akan berbalik menjadi resesi dan depresi.

Dalam pandangan Spiethof, justru dipersoalkan apa sebabnya permintaan untuk investasi tidak berjalan secara mulus, sehingga penyaluran dana juga tidak lancar. Penjelasan Spiethof ialah karena permintaan tersebut dipengaruhi oleh dua faktor yang memang dalam sifatnya tidak pernah berjalan secara reguler, yaitu perkembangan teknologi dan pembukaan kawasan geografis-teritorial yang baru. Karena kedua faktor tersebut tidak reguler, terjadilah fluktuasi (perubahan menaik-menurun) pada perminaan akan investasi. Fluktuasi pada investasi itu menyebabkan gerak kegiatan ekonomi secara bergelombang : investasi merupakan faktor dinamika dalam siklus ekonomi.

 

  1. 5.        Investasi, Tekhnologi, Inovasi; Peranan Entepreneur : Joseph  A. Schumpeter ( 1883 – 1950)

Joseph Schumpeter, dengan bukunya Theorie der Wirischafilichen Eniwicklung ( 1912), terjemahan dalam bahasa Inggris Theory of economic Development( 1934 ); Business cycles, 2 Vols ( 1939); History of Economic Analysis (1954), kelahiran bangsa Austria, mula-mula pakar di pusat ilmu ekonomi di Wina yang terkenal pada akhir abad XIX dan selama beberapa dasawarsa abad XX ini (dikenal sebagai mazhab Austria). Kemudian dalam dasawarsa ’30 sebelum peter, bersama banyak ilmuwan terkemuka di berbagai bidang ilmu pengetahuan, meninggalkan eropa sehubungan dengan perkembangan politik menjelang  Perang Dunia II. Schumpeter  pindah ke Harvard University, Amerika Serikat, di mana oa menjadi salah seorang pengajar dan pemikir ekonomi utama yang sangat menonjol sampai wafatnya di tahun 1950

Schumpeter adalah seorang ilmuwan besar dengan cakrawala pandangan luas yang tidak terbatas pada bidang ekonomi, melainkan mencakup ilmu – ilmu filsafah, sejarah, sosiologi, sastra, statistic. Satu sama lain sangat menonjol dalam pendekatannya terhadap masalah – masalah ekonomi. Pandangaanya didasari oleh pemikiran filsafah yang mendalam dan ditandai oleh paduan antara pangkal – pangkal haluan ekonomi-sosiologi-sejarah-statistik. Karya-karya ilmiah Schumpeter di bidang ekonomi meliputi teori pembangunan, teori siklus ekonomi, tinjauan sejarah pemikiran ekonomi, studi perbandingan berbagai system ekonomi, dsb. Sebagai pakar ekonomi arti dan bobot Schumpeter adalah setingkat dan sejajar dengan John Maynard Keynes.

Tinjauan kita disini dipusatkan dan dibatasi pada serangkaian pemikiran Schumpeter yang menyangkut siklus ekonomi.Gagasan Juglar dan kerangka landasan analisis Spiethof dikembangkan lebih lanjut oleh Schumpeter, dan disempurnakan serta dilengkapi oleh sebuah konsep baru dalam kajiannya tentang hakikat dan sifat gerak gelombang dalam proses ekonomi. Konsep baru yang dimaksud mencakup inovasi ( Innovation;dalam bahasa asli Schumpeter sedianya digunakan istilah neue Kombinationen) dan peranan entrepreneur yang menjadi factor penggerak inovasi.

Fenomena gelombang menaik dan menurun dalam perkembangan ekonomi ada sangkut pautnya dengan pasang-surutnya arus inovasi. Paham inovasi itu harus dibedakan dari hal penemuan tekhnik baru ( yang disebut sebagai invention). Pengertian kata innovation adalah lebih luas. Menurut definisi  Schumpeter inovasi  mengungkapkan perkembangan fungsi produksi ( production function) yang baru sana sekali, dalam arti tersusunya suatu kombinasi baru ( neue kombinationen) dalam penggunaan factor – factor produksi—baik secara kuantitatif maupun kualitatif – dalam proses produksi. Pengertian inovasi tidak hanya mencakup tekhnik produksi yang baru, melainkan juga jenis  komodity baru ataupun bahan material yang baru dalam produksi, organisasi usaha yang baru, pembukaan pasaran yang baru. Boleh dikatakan, seakan- akan inovasi mencerminkan suatu “loncatan” dari fungsi produksi yang lama ke fungsi produksi yuang baru. Kurva tingkat biaya marjinal tidak berlaku lagi ( menjadi using), dengan adanya kurva yang baru yang berkaitan dengan terselenggaranya suatu inovasi. Dengan kata lain, inovasi berarti suatu pergeseran (shift) pada produktivitas marginal.

Bahwasannya dalam keadaan tertentu secara potensial ada kemungkinan ataupun peluang untuk inovasi bukanlah berarti bahwa proses dan usaha inovasi dengan sendirinya akan terwujud dalm kegiatan praktis-operasional. Disinilah munculnya arti dan peranan entrepreneur ( wirausaha) dalam gerak kegiatan  ekonomi yang ditandai oleh adanya arus inovasi baru dalam perkembangan nya. Penemuan – penemuan baru dalam bidang teknologi pada dirinya belum menyebabkan tumbuhnya ekspansi dengan kegiatan ekonomi yang miningkat dan meluas. Inovasi hanya terjadi dengan peranan dan perilaku sekelompok oknum usahawan yang mempunyai cirri kepeloporan yang khas dalam pengelolaan usahanya, sehingga mereka itu tergolong kedalam kelompok wirausaha. Kelompok yang dimaksud sangat terbatas dalam jumlahnya, dalam keadaan apapun dan di zaman apapun .

Tabiat dan sifat seseorang wirausaha ialah kemampuan nya, kecerdasaannya dan keberaniannya yang di topang oleh ketetapan hatinya dan keteguhan jiwanya untuk melancarkan usaha yang serba baru dengan melihat kepada kemungkinan – kemungkinan potensial di masa depan dan berhasil menjelmakannya menjadi kenyataan efektif.

Hanya segelintir oknum manusia yang jumlahnya sedikit  sekali di antara kalangan pengusaha yang memiliki cirri – cirri khas serupa itu. Selain itu, Para wirausaha juga harus berhasil untuk mengerahkan dana modal secara besar-besaran guna menunjang rencana usahanya . Hal ini bukan sesuatu yang mudah, karena biasanya pihak banker, finansir, dan calon investor bersikap skeptic dan ragu – ragu terhadap setiap sesuatu yang bercorak baru, yang sebelumnya belum cukup dikenal.

Harus diperhatikan bahwa dalam alam pikiran Schumpeter pengertian wirausaha itu berlainan sekali dan harus di bedakan dari pengertian ‘pengusaha’. Keunggulan seorang usaha terletak pada sikap jelinya atas kemungkinan potensial yang terbayang dalam perkembangan masa depan, kemudian mampu merintis dan mengatur inovasi ( menempuh pola baru dalam penggunaan sumber dana dan daya produksi dalam suatu kombinasi optimal yang baru pula). Sehingga, segal sesuatu itu menjadi  realitas dalam perkembangan ekonomi masyarakat. Pengaturan dan penyelenggaraan inovasi dengan sendirinya mengandung banyak resiko dan ketidakpastian. Di sinilah menonjol segi yang amat penting pada peranan dan tanggung jawab seorang wirausaha.Sebab, dalam hubungan ini harus dibedakan pula secara tajam antara resiko ( risk) dan ketidak pastian .resiko adalah sesuatu yang biasa dihadapi dan dialami dalam dunia usaha dan pengusahaan.tetapi resiko dapat ditampung melalui asuransi dan hal itu juga sudah lazim dilakukan dalam kelembagaan asuransi. Sehingga dengan begitu risiko dapat diperhitungkan sebagai salah satu komponen biaya usaha.lain halnya dengan segi ketidakpastian, tidak dapat ditampung dalam asuransi, karena biasanya lembaga – lembaga asuransi itu tidak bersedia menampung hal-hal yang mirip dengan perkembanmgan yang tidak pasti.

Factor ketidakpastian itulah yang seluruhnya harus dipikul oleh wirausaha. Wirausaha menjadi penanggung jawab akhir .kalau ketidak pastian itu ternyata dapat ditanggulangi dan teratasi dan inovasi yang deselenggarakan wirausaha berhasil, maka hasil usahanya sangat besar. Sebaliknya jika usahanya mengecewakan, maka segala akibatnya ( sampai keruntuhan sekalipun) adalah tanggung jawab wirausaha.

Pada mulanya yang muncul bergerak hanya  terbatas pada seorang atau sekelompok kecil wirausaha yang menyelenggarakan inovasi usaha dan juga dapat meyakinkan pihak banker/finansir/calon investornya untuk memberikan dukungan dengan penyediaan sumber dana pembiayaan yang cukup besar.kelak begitu kelihatan bahwa usaha kelompok wirausaha itu menunjukkan kemajuan dengan hasil usaha yang nyata, biasanya jejak langkah wirausaha itu serentak diikuti oleh sejumlah banyak pengusaha yang secara berbondong – bonding berminat untuk berkecimpungan dalam bidang usaha yang serupa.

Pengusaha gelombang kedua biasanya tidak mengalami banyak kesulitan untuk mendapat bantuan dana berupa pinjaman bank dan/atau kesediaan calon investor untuk ikut serta dalam modal saham usaha. Sebab, pada tahap itu tampaknya pihak pemilik/pengelola dana sudah lebih tenteram dan merasa lebih aman untuk menyalurkan dananya ke bidang usaha yang bersangkutan.

Fenomena  tersebut, yaitu gerak prakarsi yang diperkasai oleh wirausaha atau sekelompok wirausaha dan berikut disusul oleh sejumlah banyak pengusaha secara berbondong-bondong, satu sama lain secara bersama  menjadi  tahap ekspansi dalam siklus ekonomi.

Kejadian-kejadian inovasi tidak berlangsung menurut suatu pola yang kontinu dan regular. Justru terdapat diskontuinitas dalam munculnya inovasi disertai oleh gerak kegiatan ekomnomi yang meningkat dan meluas sebaliknya perkembangan yang bersangkutan sewaktu-waktu bias menjadi tersendat-sendat.

Gerak  kegiatan usaha sewcara missal itu berlangsung secara kumulatif. Iklim usaha dan suasana umum ekonomi masyarakat menjadi semakin optimis dan mendorong laju ekspansi secara berlebihan sehingga perkembangan ekonomi mencapai titik baliknya dan berubah menjadi resesi dan depresi.

Terdapat prbedaan pandangan antara Schumpeter  disatu pihak dan Spiethof – Tugan Baranomski dipihak lain mengenai sumber awalnya tahap ekspansi maupun mengenai sebab dan sifayt berakhirnya ekspansi.

Dalam hubungan ini, Schumpeter mendukung pendapat Juglar yang mengatakan bahwa sebab utama timbulnya resesi dan depresi adalah perimbangan-perimbangan keadaan yang sebelumnya sudah terkandung di dalam ekspansi dan prosperity.

Dalam penfsiran Schumpeter, hal itu berarti tidak lain dari tahap depresi yang merupakan suatu reaksi dari suatu tat susunan ekonomi terhadap kegiatan ekspansi yang dalam perkembangannya ditandai oleh berbagai rupa ketimbangan. Dengan kata lain, suatu proses adaptasi terhadap ketimbangan-ketimbangan keadaan (beserta ketimpangannya)yang tercipta seelumnya dalam tahap ekspansi.

Suatu inovasi yang disertai gerak  kegiatan usaha secara missal  bagaimana pun juga dirasakan sebagai semacam kejutan dan gangguan  terhadap keadaan yang sedang berlangsung. Serangkaian kejutan san gangguan tidak jarang menggoyangkan  kerangka susunan ekonomi yang berlaku dan memaksa adanya proses adaptasi(perubahan yang bersifat penyesuaian). Depresilah yang dalam siklus ekonomi menjadi tahap berlangsungnya adaptasi yang  dimaksud.

Sejarah ekonomi modern sejak zaman kapitalisme industry senantiasa  ditandai oleh goncangan-goncanagan yang mengganggu struktur ekonomi yang berjalan. Terlaksannya inovasi dalam perkembangan ekonomi tidak segera mewujudkan keadaan ekuilibrium yang daru. Proses penyesuaian memerlukan waktu. Dalam perkembangan ekspansi banyak hal yang baru yanga diterapkan dan harus diserap kedalam system ekonomimasyarakat. Tetapi dalam proses serupa itu juga terjadi banyak likuiditas usaha.

Resesi menjurus ke depresi dikala kekuatan-kekuatan mengarah ke ekuilibrium(baru)tidaka sekuat serangkaian factor gangguan terhadap kostelasi (kerangka perimbangan-perimbangan keadaan)ekonomi yang berlangsung.

Masa depresi dapat ditafsirkan sebagai tahap sebagaimana sedang berjalan akomodasi terhadap situasi ekonomi industry yang baru. Situasi baru itu pada hakikatnya merupakan akibat dan konsekuensi dari inovasi-inovasi yang sebelumnya terselenggarakan dalam tahap ekspansi, sedangkan inovasi-inovasi itu sering dirasakan sebagai kejadian-kejadian yang timbul secara tiba-tiba. Dalam proses adaptasi dan akomodasi yang dimaksud diatas, tidak dapat dihindarkan reorganisasi dalam struktur produksi dan pendapatan maupun dalam, pembentukan harga. Satu sama lain harus disesuaikan pula dengan perubahan-perubahan yang menyangkut pola tingkat permintaan.

Pola perkembangan keasaan serupa itulah yang merupakan inti pokok sesuatu periode depresi. Dalam proses yang bersangkutan dialami banyak goncangan, kerugian, rintangan, bahkan kesengsaraan.

Kelangsungan depresi akan mencapai suatu tahanp dimana kegiatan ekonomi berada pada tingkat yang sangat rendah dan dalam keasaan yang tertekan.pada tahap itu juga terjadi akumulasi kekuatan-kekuatan produktif beserta akumulasi dan modal yang tersedia tetapi tidak digunakan. Keadaan tersebut pada gilirannya menguntungkan untuk mealakukan inovasi berdasrkan komninasi baru yang lebih optimal dalam penggunaan sumberdaya produktif dan dana modal.

Pandangan schumpeter mengenai gerak gelombang kegiatan  ekonomi yang intisarinya di ungkap di atas pada asasnya merupakan suatu teori siklus ekonomi yang didasarkan atas serangkaian dinamika yang bersifat endogen. Sebab dalam kerangka pemikirannya factor-faktor kekuatan yang menyebabkan naik turunnya kegiatan ekonomi secara bergelombang seakan-akan inherent (melekat)  di dalam tat susuna ekonomi. Artinya tata susunan  didalam dirinya sudah mengandung factor-faktor dinamikanya.

Dinamika yang dimaksud berkaitan dengan kekuatan yang terletak pada inovasi dan peran wirausaha. Dalam perkembangan ekonomi, suatu waktu muncul kelompok-kelompok wirausaha yang mengerahkan inovasi dan yang selanjutnya membawaperubahan dalam kontelasi ekonomi. Dengan kata lain, dalam kerangka garis pemikiran ini peran wirausaha dan inovasi dianggap sebagai factor dinamika yang sudah terkandung dan melekat didalam tat susunan ekonomi masyarakat.

Menurut hemat penulis, disni terdapat suatu kelemahan dalam gagsan Schumpeter.  Betapun kerangka  susunan pemikiran Schumpeter menakjubkan dalam kekuata menalarnya dan luas sudut pandangnya, gerak gelombang dalam perkembangan ekonomi bukan hasil atau akibat semata-mata dari peran wirausah san inovasi(disertai investasi sebesar-besarnya) yang seolah olah melekat pada suatu  organisme ekonomi. Satu sama lain harus dilihat dalam rangka perubahan structural yang lebih luas, tidak hanya dalam hal teknologis ekonomis, melainkan dalam seluruh masyarakat sekitar secara multidimensional. Factor-faktor yang bersumber dari luar tat susunan ekonomi sering dominan dampaknya terhadap pola dan arah perkembangan ekonomi, khusunya bila dilihat sebagai gerak kecenderungan jangka panjang(gelombang kondratif).

Sejarah prekonomian dunia baik yang menyangkut perekonomian Negara-negara yang dewasa ini maupun perekonomian Negara-negara yang kini sedang membangun, menandakan betapa perkembangan dibidang ekonomi  selalu mendapat stimulans atau dorongan ataupun juga gangguan dari serangkaian factor yang bersifat eksogen. Kekuatan-kekuatan eksogen itu sangat mempengaruhi, kadang-kadang menentukan, konstelasi ekonomi dalam kelangsungannya. Dalam proses tersebut terjadi suatu interaksi antara dinamika eksogen dan dinamka endogen . perbedaan interaksi  yang dimaksud tadi antara factor dinamika eksogen dan factor dinamika endogen dalam perbedaan ekonomi tidak atau kurang menonjol  dalam pandangan Schumpeter.

  1. 6.        Peranan Perilaku Konsumen Dalam Siklus Ekonomi – Albert Aftalion (1874- ?)

Albert Alfation, dengan bukunya  les crises periodiques de surproduction, 2 vols. (1913) adalah seorang pakar ekonomi bangsa Perancis. Ia melakukan sejumlah studi empiris mengenai perkembangan harga, upah, tingkat bunga, laba, biaya produksi dan produktivitas. Berdasarkan hasil pengamatan dan penelitiannya, dalam siklus ekonomi yang menyangkut produksi barang konsumsi, bahan baku dan barang modal.

Dalam perkemnangan pemikiran dalam siklus ekonomi, aftalion sangat sipengaruhi oleh Tugan – Baranowski dan Spiethof. Alfation mendukung pendapat Tugan – Baranowski dan Spiethof yang mengatakan bahwa naik turunnya kegiatan ekonomi dalam masyarakat ditandai oleh fluktuasi pada produksi barang modal tetap. Akan tetapi aftalion berbeda pendapat mengenai sebab yang mendasari fluktuasi yang dimaksud. Ia tidaka setuju dengan anggapan bahwa fluktuasi  pada investasi barang modal ditentukan oleh tersediannya volume dana modal yang penempatannya hendak disalurkan kedalam investasi riil. Sebagaimana hal itu diungkap sebagai tema pokok dalam analisis Tugan – Baranowski dan sebagai segi pelengkap dalam gagasan Spiethof.

Pokok pendirian Aftalion adalah bahwa fluktuasi investasi ditentukan oleh dinamika yang bersumber pada perubahan permintaan konsumen.Keputusan untuk mengadakan investasi didasarkan atas ekspektasi  para pengusaha. Ekspektasi tersebut berkaitan dengan permintaan yang datang dari pihak konsmen. Nilai harga barang modal diperoleh atau tersimpul dari nilai harga barang konsumsi yang dihasilkan oleh barang modal yang bersangkutan . dalam suatu pergaulan hidup, tujuan semua produksi pada asasnya adalah konsumsi. Perubahan akan permintaan pada barang modal hanya dapat dijelaskan dalam hubungannya dengan factor-faktor pada kebutuhan konsumen dan permintaan yang timbul dari kebutuhan konsumen itu.

Berakhirnya tahap kegiatan ekspansi bukanlan disebabkan oleh dana modal pembiayaan yang semakin langka. Tahap ekspansi akan berakhir menurut Aftalion, oleh karena itu jumlah konsumsi sudah demikian banyak sehingga permintaan konsumen sudah menjadi jenuh. Berkurangnya permintaan akan barang konsumsi pada gilirannya akan mengurangi hasrat dalam dunia usaha untuk membuat peralatan modal yang baru. Jadi, berkurangnya permintaan akan produk akhir akan mengurangi dan akhirnya menghentikan produksi barang modal tetap.

Semakin bertambahnya barang modal tetap, faedah yang diperoleh dari barang modal tersebut semakin cenderung menurun. Hal itu disebabkan oleh dua hal yaitu :

1. Saat jumlah barang modal bertambah, semakin berkurang juga kemungkinan untuk menggantikan factor-faktor produksi lainnya oleh peralatan modal.

2. Karena produksi barang konsumsi semakin bertambah, baik dalam jumlahnya maupun dalam jenisnya, maka nilai barang-barang konsumsi menjadi menurun dibandingkan dengan biayaproduksi dalam pembuatan barang modal.

Faedah marginal barang-barang konsumsi menurun disebabkan oleh semakin besarnya penawarannya. Harga barang konsumsi menurun dan dengan begitu menurun pula nilai peralatan modal yang menghasilkan barang konsumsi, dibandingkan dengan biaya barang modal yang bersangkutan. Faedah maginal barang konsumsi jatuh karenapersediaannya dan penawarannya terlalu berlebihan, dibandingkan dengan tingkat permintaan  yang ada dalam keadaan tertentu dan pada suatu tahap tertentu.

Dalam teori aftalion, diungkapkan adanya semacam gerak berirama dalam ekspektasi pada pihak para pengusaha yang terlibat dalam proses produksi. Kadang mereka terbawa oleh keadaan atau suasana terlalu optimis, kadang kala juga dihinggapi oleh persepsi dan perasaan terlalu pesimis.

Perubahan – perubahan pada ekspetasi  itu berkaitan dengan tekhnik produksi dalam masyarakat modern. Tekhnik produksi yang dimaksud didasarkan atas penggunaan peralatan barang modal tetap.Produksi dan konstruksi barang modal tu memakan waktu, dari bulanan sampai tahunan. Gerak berirama dalam ekspektasi tadi dari optimis menjadi pesimis dan sebaliknya, ada sangkut pautnya dengan factor jangka waktu dalam proses produksi.

Selain itu, sekali peralatan barang produksi itu terpasang, maka usia dan masa kerja barang modal tersebut juga bisa bertahan selama masa waktu yang agak panjang

Kerangka pemikiran aftalion mengandung tiga cirri pokok yang berkaitan dengan sifat dan tekhnik produksi dalam industry  zaman modern :

1)        Jangka waktu yang diperlukan dalam perancangan, pembuatan, dan konstruksi barang modal tetap. Hal ini menyulitkan penyesuaian penawaran barang modal dengan permintaan akhir ( final demand) yang berubah dalam jumlahnya maupun dalam sifat coraknya.

2)        Sekali peralatan barang modal sudah terpasang, barng modal itu bisa bertahan lama, dalam arti tekhnis kapasitas kerjanya. Factor ini juga bisa memperpanjang depresi.Akhirnya peralatan modal menjadi using sehingga kapasitas produksi dalam masyarakat menurun

3)        Fluktuasi yang mungkin relative kecil pada permintaan akan barang konsumsi akan menyebabkan adanya fluktuasi yang lebih besar dan lebih luas pada permintaan akan brang modal.

Kini kita lihat bahwa dalam kerangka analisis Aftalion sudah terungkapkan apa yang kita kenal dalam teori modern sebagai asas acceleration. Asas tersebut berkaitan dengan “ Permintaan secara tidak langsung” , yaitu, permintaan akan barang modal secara tidak langsung diperoleh dari permintaan akan barang konsumsi,principle of derived demand.

Pendapat mengenai fluktuasi pada investasi yang bersumber dari fluktuasi pada permintaan konsumen merupakan sumbangan pikiran Aftalion yang orginal dalam perkembangan teori siklus ekonomi. Dalam -hubungan ini pula pendapat aftalion berbeda sekali dengan pandangan Tugan-Baranowski dan Spiethof. Kedua pakar yang disebut terakhir ini menunjuk pada peran utama investasi sebagai sumber awal fluktuasi dalam siklus ekonomi.

Dalam analisis Aftalion disebutkan sebagai factor yang mempengaruhi perubahan dalam kebutuhan masyarakat (konsumen) dan perubahan permintaan efektif di pasar ialah yang dinyatakan berikut ini.

1)        Pertambahan penduduk menambah kebutuhan dan keinginan untuk memperoleh barang konsumsi dalam jumlah yang lebih banyak dan beraneka ragam. Permintaan yang meningkat dan meluas akan barang konsumsi berkenaan dengan pertambahan penduduk menciptakan permintaan yang lebih besar akan barang modal.

2)        Bertambahnya kebutuhan masyarakat konsumen ada kaitannya juga dengan penemuan – penemuan baru di bidang ilmu pengetahuan dan tekhnologi dan kemajuan dalam teknik produksi. Hal itu meningkatkan produktivitas dan daya beli dalam masyarakat. Selera golongan konsumen di satu pihak dan produksi  untuk memenuhi selera tersebut  di pihak lain mencakup sejumlah barang dalam berbagai jenis dan ragam yang meluas . sehubungan dengan itu, permintaan dan produksi barang modal melibatkan perancangan, kegiatan rekayasa, dan pembanguna pabrik-pabrik beserta perangkat peralatannya yang semuanya bisa menjadi sangat kompleks. Dalam kegiatan itu, adanya permintaan pasar akan produksi – produk jenis baru dan beraneka rupa menciptakan permintaan yang besar sekali terhadap  barang modal.

3)        Segi penting sekitar permintaan konsumen ialah bukan hanya meningkatnya permintaan, melainkan juga pergeseran di dalam pola dan komposisi permintaan itu. Dengan pergeseran yang dimaksud ialah adanya perubahan pada sifat dan corak permintaan terhadap barang-barang konsumsi walaupun volume dan tingkat permintaan itu mungkin tidak berubah dalam masyarakat  secara menyeluruh. Pergeseran serupa itu secara tidak langsung tetapi nyata juga mempengaruhi permintaan terhadap barang modal. Dampak suatu pergeseran dalam permintaan sama penting artinya dibandingkan dengan naiknya tingkat permintaan.

Dalam masyarakat industry modern, proses dan tekhnik produksi melibatkan penggunaan peralatan barang modal dalam skala besar dan kompleks. Perubahan pada permintaan konsumen menyebabkan terjadinya perubahan yang lebih besar lagi dalam produksi barang modal. Satu sama lain mengandung ramifikasi ( akibat pengaruh secara bercabang – cabang ) yang meluas terhadap kegiatan ekonomi masyarakat pada umumnya. Adanya kemampuan produksi untuk menambah jumlah dan jenis barang konsumsi secara esar-besaran juga mengandung akibat menurunnya  tingkat intensitas marginal pada kebutuhan, yang selanjutnya mempengaruhi  permintaan di pasar yang cenderung menurun,pada tahap itu terjadi fluktuasi dalam kegiatan ekonomi. Dalam keadaan tertentu, akan terjadi kelebihan relative mengenai barang konsumsi, sedangkan dalam perkembangannya berikutnya justru dialami kelangkaan.

Teori aftalion di dasarkan pada kecenderungan semakin menurunnya faedah marginal perihal barang konsumsi pada umumnya. Aftaliom menunjuk pada pengalaman empiris betapa sulinya untuk memelihara keadaan ekuilibrium dalam kontelasi ekonomi . perkembangan ekonomi senantiasa ditandai oleh oscillation ( goyangan keatas dan kebawah )yang mengitari keadaan ekuilibrium. Osilasi itu merupakan fenomena yang berkaitan dengan proses, tekhik dan sifat produksi dalam masyarakat modern. Khususnya hal itu menyangkut lamanya waktu yang diperlukan untuk pembuatan barang modal ( perancangan, rekayasa, konstruksi) dan panjangnya usia kerja perlatan modal setelah terpasang.bila terjadi goyangn osilasi di sekita equilibrium, maka akan terjadi  keadaan silih berganti antara kemakmuran dan tahap depresi, yang saling susul menyusul

Selain adanya osilasi  dalam perkembangan ekonomi, tekhnik, dan sifat produksi modern, juga mempengaruhi amplitude, jarak antara puncak gelombang dan garis titik rata-rata dari goyangan – goyangan. Faktor amplitudo  tersebut  menentukan panjang pendeknya masa prosperity dan depresi.

Fluktuasi permintaan tercermin pada harga dan laba, yang menimbulkan dorongan ataupun yang menjadi pengekang terhadap produksi. Ekspektasi mengenai permintaan dan produksi lazim didasarkan atas tingkat harga yang berlaku saat ini dan atas persepsi dan perkiraan tentang perkembangan masa akan dating. Akan tetapi permintaan dan harga yang berlaku sekarang merupakan indicator  yang sering kurang memadai, karena lamanya waktu pembuatan dan tahap kerja barang modal dal proses produksi. Perkiraan tentang perkembangan di masa dating mengandung banyak ketidak pastian, sedangkan penyesuaian dengan perubahan keadaan tidak dapat  dilaksanakan dalam waktu singkat.

Dari uraian diatas ternyata menyatakan bahwa asas permintaan secara tidak langsung (principle of derived demand) dan peranan acceleration sudah dikenal dalam karya Aftalion pada awal abad XX. Perubahan dan permintaan akan barang konsumsi menimbulkan perubahan yang lebih besar dan lebih meluas pada permintaan akan barang modal. Permintaan akan barang modal tidak hanya tergantung dari tingkat permintaan akan barang  konsumsi, melainkan juga dari cepat atau lambatnya bertambahnya permintaan. Dengan kata lain permintaan akan barang modal juga dipengaruhi oleh laju pertumbuhan pada permintaan  akan barang konsumsi.

Mungkin permintaan akan barang konsumsi masih saja bertambah, namun kalau laju pertambahan itu sudah menurun, maka permintaan akan tambahan netto pada barang modal mengalami penurunan secara absolute. Di kala permintaanakan barng konsumsi tidak bertambah lagi ( mengalami stagnasi), maka pada tahap ini tidak lagi dibutuhkan tambahan baru pada peralatan modal yang terpasang. Dalam keadaan itu, bagi industru pembuatan barang modal, tidak ada pekerjaan lagi, selain perawatan ataw pergantian peralatan modal yang sudah terpasang, sampai peralatan itu sudah menjadi usang / rusak.

Sementara itu, selama ekspansi berlangsung, kegiatan industry barang modal yang meningkat dan meluas pada dirinya juga menambah volume dan menaikkan tingkat konsumsi.

Dalam proses pembuatan barang modal, diberikan pekerjaan kepada tenaga kerja dalam jumlah yang lebih banyak. Hal itu meningkatkan permintaan akan barang konsumsi. Persediaan barang konsumsi dan peredarannya dalam masayrakat akan mengalami kelangkaan, kecuali jika produksinya dapat dinaikkan dengan segera. Untuk sementara, selalu ada masa peralihan ketika permintaan tidak terpenuhi dan harga barang naik.perkembangan ini semakin dirasakan pada tahap kapasitas produksiyang  terpasang sudah digunakan secara penuh. Dalam keadaan depresi, berlaku perkembangan yang sebaliknya, kapasitas peralatan modal yang terpasang tidak sepenuhnya digunakan, sehingga pengangguran terjadi pada industry barang modal. Hal ini mengurangi permintaan dan pembelian barang konsumsi, sehingga dirasakan adanya kelebihan relative mengenai barang konsumsi di pasar yang menyebabkan harga menurun. Pada gilirannya perkembangan ini membawa dampak yang lebih besar dan lebih luas lagi terhadap kegiatan industry modal.

Dalam kerangka anlisis dan landasan pemikiran Aftalion seperti dibentangkan diatas, maka pada tingkat pertama dan terakhir sebab fluktuasi dalam siklus ekonomi berasal dari perubahan pada permintaan terhadap barang konsumsi.

  1. 7.        Pemantauan Empiris – Statistik – Deskriptif : Wesley C. Mitchell (1874-1948)

Wesley Mitchell, dengan bukunya Businesess Cycles : The Problem and Its Setting (1972) adalah seorang pakar ekonomi bangsa Amerika. Dia adalah pendiri National Bureau of Economics Research, USA, sebuah lembaga penelitian ekonomi yang sampai sekarang masih dipandang di antara yang paling terkemuka di dunia. Mitchell mewakili kelompok aliran dalam ilmu ekonomi yang mengutamakan observasi empiris-statistik mengenai perkembangan ekonomi. Ciri ini mewarnai seluruh karya ilmiah Mitchell. Perkembangan ekonomi dilihat sebagai gerak kegiatan yang senantiasa mengalami fluktuasi. Dalam pada itu, osilasi (gerak goyangan ke atas dan ke bawah) dianggap bersifat lunak (moderate), sedangkan amplitudenya (luas ayunan, jarak antara puncak gelombang dan garis titik rata-rata) tidak diberi arti besar. Menurut Mitchell, tahap-tahap kegiatan dalam siklus ekonomi digerakkan oleh kekuatan-kekuatan yang terkandung di dalam tata susunan ekonomi sendiri. Tahap-tahap kegiatan ekonomi yang dimaksud berlangsung dalam suatu sequence, artinya mengkuti pola urutan tahapan secara susul-menyusul (sequential).

Mitchell berpendirian bahwa pembahasan masalah-masalah yang menyangkut siklus ekonomi harus bersifat analisis deskriptif. Tinjauan analisis ditunjukkan pada perubahan-perubahan kumulatif dalam dunia usaha yang menciptakan suatu konstelasi keadaan, yang berbeda dari perimbangan-perimbangan dalam tahap sebelumnya. Tema pokok dalam kerangkan pemikiran Mitchell ialah bahwa tiap tahap dalam siklus dalam siklus ekonomi muncul secara endogen dari kekuatan-kekuatan dalam tahap sebelumnya. Dengan kata lain, siklus ekonomi merupakan gerak kegiatan yang bergerak yang bersumber pada kekuatan-kekuatan yang telah terkandung di dalam tubuh ekonomi sendiri (self-generating movement). Hal itu tidak tergantung dari faktor-faktor eksogen dari luar sistem ekonomi. Misalnya, peranan teknologi dalam pandangan Mitchell tidak pernah dianggap sebagai faktor yang penting.

Dalam gagasan Mitchell, pertimbangan pokok dalam kegiatan ekonomi ialah usaha untuk memperoleh laba.

Prospek tentang laba itu berkaitan dengan sejumlah faktor sebagai berikut: (1) harga yang menentukan penerimaan usaha; (2) harga yang menentukan pengeluaran untuk biaya usaha; (3) volume penjualan; (4) mata uang digunakan sebagai alat pembayaran; (5) tersedianya kredit perbankan.

Perhatian para peneliti hendaknya ditujukan kepada lima faktor di atas dengan memantau interaksi di antara fluktuasi pada kelima faktor itu. Selanjutnya secara bagaimana faktor-faktor tersebut masing-masing dan bersamaan mempengaruhi prospek untuk mendapat laba di masa depan.

Dalam keadaan depresi, setelah beberapa waktu itu, akan tercipta beberapa kondisi yang menguntungkan bagi pemulihan ekonomi, di antaranya disebut : (1) tingkat biaya yang menurun, baik biaya langsung maupun tidak langsung; (2) persediaan stok (investasi) barang berkurang; (3) tingkat bunga menjadi rendah; (4) likuiditas dunia perbankan bertambah sehingga ada kelonggaran untuk memberi pinjaman; (5) di kalangan lain pun terkumpul akumulasi dana modal yang mencari saluran penempatan dana untuk investasi riil. Kombinasi dari lima faktor itu menciptakan iklim yang membuka kemungkinan untuk membangkitkan kegiatan usaha.

Walaupun begitu, keadaan demikian baru menyediakan peluang. Tidak diungkapkan secara jelas oleh Mitchell tentang faktor apa saja dan cara apa yang mendorong adanya pemanfaatan aktif dari kesempatan dan peluang itu. Misalnya, kemajuan teknologi dan inovasi merupakan faktor pendukung yang kuat bagi peningkatan pembentukan modal. Akan tetapi, hal itu tidak diberi tempat yang penting dalam kerangka pemikiran Mitchell mengenai jalannya siklus ekonomi. Tadi telah kita kemukakan bahwa dalam pandangan Mitchell, faktor-faktor dinamika yang berperan dalam siklus ekonomi bersifat endogen, terkandung dalam perimbangan-perimbangan keadaan di dalam tata susunan ekonomi sendiri. Akan tetapi, tidak dapat dikatakan bahwa perkembangan teknologi timbul dengan sendirinya dari tahapan siklus ekonomi, artinya seolah-olah secara otomatis muncul dari kondisi yang ada dalam tahap depresi sebelumnya.

Perubahan teknologi untuk sebagian besar bersangkut paut dengan serangkaian faktor kekuatan yang bersifat eksogen.

Pendapat Mitchell yang mengatakan bahwa seolah-olah perubahan-perubahan kumulatif yang terjadi dalam urutan tahapan siklus ekonomi semuanya bersumber dari variabel yang bersifat endogen, tidak mempunyai dasar yang cukup kuat dan sukar sekali untuk diterima begitu saja.

Selanjutnya dalam pemikiran Mitchell, tahap eksistensi akan berakhir dengan sendirinya. Hal itu disebabkan oleh meningkatnya biaya, sedangkan peningkatan biaya berkaitan dengan sifat ekspansi itu sendiri. Dalam proses semakin meningkatnya kegiatan ekspansi, akan terjadi akumulasi berbagai faktor yang masing-masing dan secara bersamaan cenderung menaikkan tingkat biaya, diantaranya: meningkatnya bunga, sewa rumah, sewa gedung komersial, depresi atau biaya pergantian (replacement) dari peralatan modal yang terpasang, bahan baku, upah buruh, dan lain-lain sebagainya.

Pengeluaran-pengeluaran biaya itu menjadi semakin besar, sedangkan di pihak lain dana untuk investasi berkurang. Penyediaan dana modal untuk dunia usaha tidak mencukupi lagi dibandingkan dengan permintaan. Lagi pula dana dana tersebut tidak dapat disediakan dengan tingkat bunga dari waktu sebelumnya. Pada tahap kegiatan yang dimaksud, persyaratan unutk pinjaman jangka panjang menjadi terlalu berat sehingga hasrat untuk investasi juga menurun.

Mitchell menekankan perhatiannya pada segi peningkatan biaya. Perkembangan tersebut tidak dapat disertai atau diikuti secara sepadan oleh peningkatan harga barang konsumsi dan produksi, karena peningkatan harga barang mengandung batasnya sendiri.

Dalam hubungan ini disebutkan serangkaian kendala terhadap peningkatan harga, di antaranya: (1) harga berbagai jenis barang modal mempunyai sifat kaku; (2) di kala biaya produksi dan konstruksi sangat meningkat dan begitu pula bunga untuk pinjaman jangka panjang, hal itu satu sama lain tidak mungkin dilimpahkan dengan begitu saja kepada para pemakai; (3) di beberapa sektor dan subsektor ekonomi terjadi kelebihan kapasitas produksi disebabkan oleh salah perkiraan semula.

Sekali keadaan ekonomi berbalik dan perkembangan mulai menurun, maka terasalah akibat proses kumulatif berbagai rupa perubahan dan keganjilan yang dimaksud oleh Mitchell di atas. Keadaan mengalami krisis diikuti oleh resesi yang (bisa) menjurus ke depresi.

Apa yang dibeberkan oleh Mitchell merupakan suatu uraian (deskriptif) mengenai berlangsungnya siklus dalam kegiatan ekonomi. Akan tetapi tidak ada penjelasan mengenai sebab-sebab dinamika yang menggerakan kegiatan tersebut, selain biaya yang semakin meningkat yang akhirnya menetukan laba-rugi usaha. Tidak dijelaskan pula tentang faktor-faktor yang menyebabkan fluktuasi pada investasi riil.

Walaupun oleh Mitchell disimak hampir secara menyeluruh serangkaian teori dari sejumlah pakar lainnya  mengenai siklus ekonomi, segala sesuatu itu juga disajikan dalam karyanya yang disebut di atas, Wesley Mitchell sendiri dengan sadar dan sengaja tidak menyusun dan menyajikan sebuah teori umum mengenai siklus ekonomi. Sebab, ia berpendapat bahwa setiap siklus ekonomi mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Hal yang penting bagi Mitchell ialah agar dikumpulkan secara cermat data-data empiris-statistik yang berkenaan dengan masing-masing siklus ekonomi dalam perkembangannya.

Tujuan dan perhatian Mitchell ialah untuk mengadakan deskripsi mengenai urutan tahapan dalam serentetan kejadian ekonomi (sequence of economic events). Gambaran yang diperoleh dengan begitu memang menunjukkan adanya pola yang tertentu dalam perkembangan satu siklus ke siklus lainnya. Akan tetapi satu sama lain berjalan dalam kerangka keadaan dimana segi institusional lebih kurang tetap sama. Dalam uraian serupa itu, akan tersedia suatu pandangan mengenai kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi pola dan arah siklus dalam kegiatan ekonomi. Namun, hal itu tidak memuat penjelasan atau kajian tentang sebab-sebab yang mendasari perana kekuatan-kekuatan yang menentukan perkembangan ekonomi.

Wesley Mitchell dalam pendekatannya terhadap permasalahan siklus ekonomi dapat dianggap sebagai penerus dari karya ilmiah yang dirintis oleh Clement Juglar dalam abad XIX.

Mitchell memang mengaku sebagai pengagum Juglar yang dianggapnya telah menciptakan sebuah karya besar dalam hal pengumpulan fakta (great book of facts). *)

Sumbangan besar karya Mitchell ialah bahwa serangkaian tinjauan atas masalah-masalah ekonomi dilengkapi dengan data-data empiris-statistik yang amat banyak dan sangat luas. Oleh Mitchell dirintis kelengkapan tinjauan ekonomi dengan dukungan ilmu statistik dan ilmu matematika. Hampir sepuluh tahun kemudian oleh seorang pakar ekonomi lainnya, Simon Kuznets yang juga berasal dari National Bureau of Economic Research, dilakukan paduan integratif antara teori ekonomi-ilmu statistik-ilmu matematika. Pengumpulan data-data empiris-statistik oleh Kuznets didasarkan atas dan disusun ke dalam suatu kerangka analisis ekonomi sehingga dapat disajikan sebuah teori siklus ekonomi yang khusus menyangkut pembentukan modal dan pendapatan.

D. Faktor Moneter dalam Siklus Ekonomi

Friedrich von Hayek (1899-…); R. C. Hawtrey (1879-1975)

Catatan pengamatan umum

Selalu terdapat perbedaan pandangan di antara para ahli ekonomi mengenai sifat hubungan antara perkembangan harga dan siklus kegiatan ekonomi.

Sementara kalangan berpendapat bahwa perkembangan harga menjadi sebab utama yang mempengaruhi jalannya siklus ekonomi. Sebaliknya, banyak kalangan lain berpendirian bahwa perkembangan harga merupakan akibat dari peranan-peranan kekuatan yang lebih mendasar dalam kegiatan ekonomi riil (dalam kegiatan produksi, transportasi, perdagangan). Faktor-faktor fundamental dalam ekonomi riil itulah yang mengandung dampak terhadap siklus ekonomi sehingga pola perkembangan ekonomi ditandai oleh menaiknya atau menurunnya harga barang dan jasa.

Di kala kekuatan-kekuatan  mendasar itu menyebabkan semakin meningkatnya ekspansi kegiatan ekonomi, maka akan terjadi kenaikan harga. Sebaliknya, jika kekuatan-kekuatan yang mendorong kegiatan ekonomi menjadi lemah, maka perkembangan menjurus ke stagnansi yang ditandai oleh tingkat harga yang rendah dan tertekan. Dalam pandangan ini harga dianggap sebagai akibat dari serangkaian kekuatan yang mendasari fenomena ekonomi pada permukaan. Perkembangan harga dalam jangka menengah dan jangka panjang harus dilihat sebagai pertanda (indikator) dari dampak kekuatan yang lebih mendalam, yang menimbulkan adanya tahap ekpansi ataupun tahap depresi dengan keadaan stagnansi.

Kecenderungan dalam perkembangan harga merupakan semacam termometer-statistik untuk memantau lama-tidaknya tahap ekspansi ataupun panjang-pendeknya tahap resesi dan depresi.

Di pihak lain, golongan ahli ekonomi yang menganut pandangan yang berlainan, justru mengutamakan peranan jumlah uang dan harga sebagai faktor utama yang mempengaruhi pola perkembangan ekonomi.

Sebab-sebab bagi kegiatan ekspansi ataupun keadaan stagnansi langsung berkaitan dengan gerak perkembangan harga; sedangkan perkembangan harga bersangkutpaut dengan perubahan-perubahan pada jumlah uang dalam peredaran. Perkembangan moneter menjadi sebab utama bagi kecenderungan dalam perkembangan harga. Pada gilirannya perkembangan harga mempengaruhi siklus kegiatan ekonomi.

Perkembangan harga yang cenderung menaik mengandung dampak awal yang menguntungkan kegiatan ekonomi sehingga mendorong ke arah ekspansi jangka menengah atau panjang. Sebaliknya kecenderungan harga yang menurun akan menekan kegiatan usaha sehingga perkembangan menjurus kepada stagnansi dalam kegiatan ekonomi pada umumnya.

  1. 1.        Friedrich von Hayek, Monetary Theory and The Trade Cycle (1933); Prices and Production (1935)

Dia adalah seorang pemikir ekonomi yang tenar dalam tahun 1974 meraih Hadiah Nobel di bidang ilmu pengetahuan ekonomi. Hayek dianggap sebagai wakil utama dari kelanjutan mazhab Austria dalam abad XX ini. Sejak tahun 30-an dan selama enam dasawarsa, peranan Hayek sangat menonjol sebagai pemikir dan pengarang yang amat produktif dalam dunia ilmu ekonomi. Hayek merupakan tokoh pendahulu (bersama Irving Fisher sebelumnya) dari aliran golongan monetaris (Milton Friedman) dan pendukung teori ekspektasi rasional (Lucas) yang berpengaruh di dasawarsa ’70 dan dasawarsa ’80. Hayek mula-mula belajar ekonomi di Universitas Wina dan berguru pada Friedrich von Wieser. Kemudian secara berturur-turut Hayek menjadi guru besar di Universitas Wina, dalam tahun 1930 pindah ke Inggris menjadi guru besar di London School of Economics, dan di tahun 1950 menjadi guru besar d Universitas Chicago, Amerika Serikat. Sejak tahun 1962 ia kembali ke Eropa dan menjadi guru besar di Universitas Frieburg, Jerman Barat dan di Universitas Salzburg, Austria.

Ciri pokok dalam pemikiran Hayek ialah keterkaitannya antara teori tentang uang dan teori tentang siklus ekonomi. Sedangkan teorinya tentang siklus ekonomi merupakan suatu integrasi antara teori moneter dan teori tentang modal.

Fenomena dalam ekonomi riil (yang berbeda dari fenomena moneter) menurut Hayek tidak dapat menjelaskan secara memadai beralngsungnya siklus ekonomi, di kala uang dan harga sudah menjadi bagian integral dalam tata susunan ekonomi secara menyeluruh. Karena adanya suatu proses transformasi moneter, maka akan dialami danpak gangguan secara berlipat ganda dari suatu perubahan teknik terhadap ekonomi kapitalis.

Intisari dalam kerangka analisisnya dapat diungkapkan secara singkat sebagai berikut. *)

Investasi dalam barang modal tetap mendapat stimulans dengan adanya injeksi sejumlah tambahan uang yang bersumber dari persediaan uang yang sebelumnya belum digunakan ataupun dari ekspansi kredit perbankan. Jumlah uang yang “baru” itu (tambahan dari kedua sumber yang dimaksud) mengalir dalam peredaran sebagai modal uang (money capital). Timbul peningkatan ekspansi dengan adanya pembentukan modal tetap (melalui modal uang tadi). Akan tetapi volume pembentukan modal tetap itu sebenarnya berlebihan. Sebab, volume tersebut terlaksana melalui suatu proses yang oleh Hayek dianggap sebagai proses tabungan paksaan (forced saving). “Paksaan” dalam pengertian Hayek ini karena tabungan seakan-akan terciptakan melalui ekspansi moneter. Tahap ekspansi dalam kegaiatan ekonomi ditandai oleh volume pembentukan modal tetap, tetapi volume itu sebenarnya melebihi suatu tingkat yang bisa dipertahankan secara berkelanjutan (sustainable). Menurut Hayek, pembentukan modal tetap yang tingkatnya dipertahankan secara berkelanjutan ialah tingkat yang ditentukan oleh volume tabungan yang bersifat sukarela (voluntary savings). Artinya, tabungan yang tidak bersumber dari penciptaan uang baru melalui ekspansi moneter. Jika pembentukan modal tetap bersumber dari tabungan paksaan (dalam arti yang dimaksud di atas) maka akan terjadi kegaiatan ekspansi yang semakin meningkat dan juga berlebihan.

Tak dapat tiada pada suatu saat perkembangan itu akan disusul oleh tahap depresi dalam siklus ekonomi sebab volume pembentukan modal tidak dapat dilanjutkan secara terus-menerus, karena hanya berasal dari ekspansi kredit perbankan. Batas-batas terhadap cadangan bank pada dirinya menjadi kendala terhadap kelanjutan ekspansi perkreditan. Jika oleh badan penguasa moneter tidak dilakukan pembatasan dalam sistem moneter, kelanjutan ekspansi moneter menimbulkan inflasi yang tidak terkendali. Oleh sebab itu, ekspansi kredit harus dibatasi dan pada suatu ketika harus dihentikan. Pada saat itulah tidak dapat dihindarkan akan berlakunya awal tahap resesi dan depresi. Pada akhir tahap ekspansi akan terjadi kelebihan dalam stok barang modal tetap. Sebab, proses pembentukannya banyak didorong (mendapat stimulans) oleh tingkat bunga yang relatif murah bagi dana uang (money capital). Dalam proses tersebut, investasi modal membawa imbalan jasa yang semakin berkurang sehingga akhirnya berada di bawah tingkat bunga yang normal bagi tabungan sukarela.

Sepintas lalu kelihatannya ada titik persamaan antara garis pemikiran Hayek dengan garis pemikiran Tugan-Baranowski dan Arthur Spiethof. Akan tetapi perbedaannya (yang sangat mendasar) ialah bahwa Tugan Baranowski dan Spiethof mengutamakan peranan faktor-faktor dalam dunia ekonomi riil, seperti teknologi dan lain-lain sebagainya. Faktor-faktor dalam ekonomi riil itulah yang membawa perkiraan atau menimbulkan harapan mengenai imbalan jasa yang lumayan bagi investasi modal, dan oleh sebab itu terlaksanalah pembentukan modal tetap. Dalam rangka pemikiran ini, faktor moneter dianggap sebagai konsekuensi dari hasrat untuk melakukan investasi dalam dunia riil.

Hayek mempunyai pendirian yang berlainan sekali. Peningkatan investasi dan ekspansi ekonomi disebabkan oleh faktor moneter di mana tingkat bunga bagi modal uang mengambil peranan pokok bukan karena faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat bunga normal dalam ekonomi riil. Dalam pada itu kegiatan ekspansi tidak akan berhenti karena peluang untuk investasi menjadi berkurang; melainkan ekspansi akan berhenti oleh karena volume tabungan sukarela tidak mencukupi untuk mempertahankan kelanjutan tingkat investasi yang sudah dicapai, di kala kredit perbankan akan mengalami batasannya.

Dalam pandangan Hayek, ekspansi moneter dalam tiap tahap ekspansi akan menyebabkan tingkat investasi yang tidak dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Perkembangan moneter pada dirinya membawa ekspansi maupun depresi dalam siklus ekonomi. Satu-satunya jalan pemecahan untuk menghindarkan ekspansi maupun depresi, menurut Hayek, ialah mengusahakan agar peranan yang bisa bersifat netral dalam proses kegiatan ekonomi. Di sini muncul saran pendapat Hayek tentang uang netral (neutral money). *)

Uang netral yang dimaksud dalam kerangka pemikiran Hayek merupakan ciri pokok dalam suatu sistem moneter, di mana uang berperan untuk memudahkan semacam koordinasi ataupun keserasian dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Peranan uang tidak boleh menjdi sumber gangguan terhadap keserasian dalam kegiatan ekonomi. Dalam hal ini, terdapat perbedaan antara ulasan Hayek dengan teori kuantitas tentang uang yang konvensional, sebagaimana diungkapkan mula-mula oleh Irving Fisher (MV = PT) dan Milton Friedman pada zaman sekarang. Dalam teori konvensional yang dimaksud, pusat perhatian dalam teori moneter menyangkut hubungan antara jumlah uang dan tingkat harga umum. Pendapat ini tidak disangkal oleh Hayek, akan tetapi dianggapnya masih belum lengkap. Menurut teori kuantitas yang konvensional itu, peranan uang adalah netral selama nilai uang tidak berubah diukur dengan tingkat harga umum. Sehubungan dengan itu, meningkatnya kegiatan ekonomi memerlukan pertambahan secara proporsional dalam jumlah uang yang beredar. Sebaliknya menurut pendapat Hayek, untuk menjaga agar uang berperan secara netral, maka harus dicegah adanya dampak dari injeksi tambahan uang, Di kala jumlah uang ditambah, maka uang baru yang bersangkutan merupakan injeksi tertentu, Hal ini menimbulkan distorsi di antara harga berbagai rupa barang dan jasa. Distrosi tersebut pada gilirannya menyebabkan sistem harga mengandung pertanda-pertanda yang salah mengenai selera perilaku konsumen (consumers preferences) dan mengenai tersedianya sumber daya produksi (resourse availability).

Menurut pendapat Hayek, kebijaksanaan moneter harus menghindarkan timbulnya dampak injeksi, dengan kata lain, jumlah uang harus konstan kendatipun ada pertumbuhan ekonomi secara riil. Sedangkan dalam teori kuantitas konvensional tentang uang harus dihindarkan terjadinya deflasi dalam tingkat harga; dengan kata lain, harus ada tingkat pertambahan dalam jumlah uang yang sepadan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi riil.

Dari uraian pokok di atas mengenai pandangan Hayek, nyata sekali bahwa ia menguatamakan secara berlebihan dan dengan berat sebelah peranan moneter sebagai sebab utama bagi goncangan naik-turunnya kegiatan ekonomi. Seolah-oleh diremehkan tentang adanya kekuatan-kekuatan dalam ekonomi riil yang menyebabkan terselenggaranya pembentukan modal tetap. Pertama-tama tidak dapat dibuktikan secara empiris bahwa ekspansi moneter dengan sendirinya mendorong pembentukan modal tetap yang (akan) melampaui tingkat yang dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Peningkatan investasi yang bersumber pada perubahan teknologi, misalnya menambah pendapatan dan laba perusahaan. Pengalaman menunjukkan bahwa hal itu lazimnya juga menambah tabungan perusahaan (dan tabungan tersebut bersifat sukarela). Dalam perkembangan demikian tingkat pertambahan pada pembentukan modal tetap. Bilamana tingkat ekspansi moneter adalah sama dengan tingkat pertambahan pada produksi riil, maka pasok jumlah uang bertambah dengan tingkat yang sama, dibandingkan dengan tingkat kenaikan pendapatan riil. Dalam keadaan demikian, tidak akan timbul tekanan inflasi harga.

Selain itu, dalam ulasan Hayek juga termuat pendapat yang kebenarannya disangsikan. Yaitu, seakan-akan dengan meningkatnya daya beli golongan konsumen, tingkat investasi akan menurun.

Dalam hubungan ini, ternyata Hayek mengandalkan peranan asas accelerator. Oleh Hayek dikemukakan bahwa investasi tidak langsung (induced investment) yang terlaksana sebagai akibat permintaan secara tidak langsung (principle ofe derived demand) tergantung dari: a) meningkatnya permintaan akhir (final demand) akan barang dan jasa dan b) koefisien modal (Hayek menggunakan istilah capital co-efficient), artinya :  jumlah modal yang diperlukan untuk menghasilkan produk akhir. *)

Di kala kegiatan ekspansi semakin meningkat, maka koefisiensi modal akan menurun, Dalam hal demikian, volume investasi bisa menjadi berkurang dalam jumlahnya kendatipun tingkat pertambahan pada permintaan akhir masih terus  menaik. Dengan kata lain, menurunnya koefisien modal lebih berpengaruh dalam dampaknya, dibandingkan dengan menaiknya tingkat pertambahan pada permintaan akhir. Kemungkinan tersebut bisa saja terjadi. Akan tetapi kini harus dipersoalkan: apa sebab-sebabnya koefisien modal menurun bilaman kegiatan ekspansi semakin meningkat.

Menurut Hayek, menurunnya koefisien modal disebabkan justru oleh meningkatnya permintaan konsumen. Nampaknya meningkatnya permintaan konsumen inilah yang dalam pandangan Hayek dianggap sebagai sebab yang akhirnya akan menghentikan tahap ekspansi. Sebab, konsumsi menjadi berlebihan dibandingkan dengan tabungan (sukarela) yang terlalu sedikit.

Dalam alam pikiran demikian, maka semua langkah tindakan untuk lebih meningkatkan konsumsi akan menjurus ke keadaan depresi, tak dapat tiada.

Kelemahan dalam analisis Hayek ialah sama sekali tidak ada bukti empiris-statistik mengenai pola geraknya faktor koefisiensi modal dalam siklus ekonomi. Memang bisa saja terjadi perubahan pada koefisien modal, misalnya sebagai hasil perkembangan teknologi. Akan tetapi perubahan koefisiensi modal itu bisa dalam arti menurun maupun meningkat. Tidak apriori harus selalu menurun. Ini hanya suatu hipotesis dalam kerangka analisis Hayek yang selama ini tidak dapat dibuktikan secara empiris dalam perkembangan kenyataan.

Berkurangnya investasi yang lazimnya membawa keadaan depresi dapat dijelaskan secara lebih memuaskan oleh kecenderungan menurunnya efisiensi marginal dari modal. Hal ini telah diungkapkan dalam bagian mengenai teori umum, dan akan diutarakan lagi nanti di ulasan sintesis dalam teori siklus ekonomi.

Akan tetapi lini harus dipersoalkan apa sebab-sebabnya koefisiensi model menurun bilamana kegiatan ekspansi semakon meningkat?

Menurut Hayek, menurunnya koefisiensi model disebabkan justru oleh meningkatnya permintaan konsumen. Nampaknya meningkatnya permintaan konsumen itulah yang dalam pendangan Hayek dianggap sebagai sebab yang akhirnya akan menghentikan tahap ejspansi. Sebab, konsumsi konsumsi menjadi berlebihan dibandingkan dengan tabungan )sukarela) yang terlalu sedikit!

Dalam alam pikiran demikian, maka semua langkah tindakan untuk lebih meningkatkan konsumsi akan menjurus ke keadaan depsresi, tak bisa tidak.

Kelemahan dalam analisis Hayek ialah sama sekali tidak ada buku analisis-statistik mengenai geraknya factor koefisiensi model dalam siklus ekonomi. Memang bisa saja terjadi perubahan pada koefisiensi modal, misalnya sebagai hasil perkembangan teknologi. Akan tetapi perkembangan koefisiensi modal itu bisa dalam arti menurun maupun dalam arti meningkat. Tidak apriori harus selalu menurun! Itu hanya suatu hipotesis dalam kerangka analisis Hayek yang selama ini tidak dapat dibuktikan secara empiris dalam perkembangan kenyataan.

Berkembangnya investasi yang lazimnya membawa keadaan depresi dapat dijelaskan secara lebih memuaskan oleh kecenderungan menurunnya efisiensi marginal dari modal. Hal itu telah diungkapkan dalam bagian mengenai teori umum, dan akan diutarakan lagi nanti di ulasan sintesis dalam teori siklus ekonomi.

  1. 2.        R.G. Hawtrey, Currency and Credit (1919); Reading in Business Cycke Theory (1944)

Hawtrey adalah seorang ahli moneter yang terkenal pada masa antera Perang Dunia I dan Perang Dunia II. Pandangannya mengenai masalah-masalah moneter dan siklus ekonomi dianggap dekat dengan alam pikiran Cambridge School di Inggris, walaupun Hawtry bukan seorang alumni Universittas Cambridge. Kariernya selama 40 tahun sebagai pejabat tinggi di Derpartemen Keuangan Inggris (Threasusy) dan ia baru berkecimpung dalam dunia akademik setelah berstatus purnawirawan setelah berusia 65 tahun dan menjadi Guru Besar dalam matakuliah Ekonomi Internasional.

Pemikiran Hawtrey sebagai seorang ahli moneter berkisar antara teori kuantitas tentang uang dan hubungan dengan teori tentang Siklus Ekonomi. Teori kuantitas dianggapnya sebagai penting, bahkan sebagai syarat dalam setiap pendekatan terhadap masalah-masalah ekonomi moneter. Akan tetapi menurut Hawtrey teori kuantitas itu pada dirinya sendiri belun mencukupi karena harus dikaitkan derngan pendapatan uang dan pengeluaran uang dalam masyarakat.

Dalam kerangka analisis Hawtrey, , kini sudah terlihat suatu pola pendekatan yang berkisar pada hubungan antara pendapata dan pengeluaran (income expenditure approach) serta penggunaan konsep makro agregatif  sebab pendapatan dan pengeluarandiartikan sebagai jumlah seluruhnya dalam ekonomi masyarakat.

Pokok pemikiran Hawtrey adalah, pendapatan yang menentukan pengeluaran uang, pengeluaran tersebut menentukan permintaan dan permintaan menentukan harga. Perhatikan pula, bahwa disini Hawtrey menunjuk pada pengertian tentang permintaan efektif.

Teori tentang siklus ekonomi yang dikembangkan oleh Hawtrey didasarkan atas peranan uang. Gerak perkambangan harga dan stok barang disebabkan dan didorong oleh fluktuasi dalam jumlah uang dan kredit.

Gerak gelombang kegiatan ekonomi  yang menaik dan menurun bersumber smata-mata dari factor moneter. Persediaan stok barang-barang adalah sangat peka terhadap tingkat bunga (interest elastic), oleh karena simpanan stok yang bersangkutan dibiayai oleh pinjaman. Investasi dalam modal tetap juga peka terhadap bunga, berdasarkan analisis mengenai efisiensi marginal dari modal. Dalam hal terakhir ini, saranan pendaapt Hawtrey didasarkan atas pemikiran Alfred Marshall mengenai produktivitas marginal dan modal.

Segi moneter yang penting dalam pandangan Hawtrey berkenaan dengan siklus kegiatan ekonomi ialah mengenai peranan persediaan(cadangan) uang tunai. Persediaan uang tunai tersebut mencakup uang kartal, uang giral, dan deposito.

Masyarakat ramai biasanya mempunyai sejumlah persediaan tunai. Hal ini berlaku bagi perorangan, rumah tangga keluarga, maupun satuan usaha. Permintaan akan uang dalam bentuk seruapa itu berdasarkan akan kebutuhan untuk transaksi  atau sebagai cadangan untuk hal-hal yang tidak terduga (precautionary demand) dan sebagian lagi sebagai akumulasi berbagai rupa tabungan.

Nisbah (tingkat perimbangan) antara persediaan tunai itu terhadap pendapatan mempunyai sifat yang rata-rata agak konstan. Jika persediaan tunai dinyatakan sebagai M, pendapatan sebagai Y, dan tingkat perimbangan yang bersnagkutan sebagai k, maka terdapat persamaan M = kY. Tentu adakalanya terdapat variasi-variasipada tingkat k. namun menurut Hawtrey, vaeiasi-variasi itu berjalan pada batas-batas tertentu. Maka pertimbangan antara persediaan tunai dengan pendapatan dapat dinggap konstan.

Dikala para pengusaha meminjam dari bank untuk membiayai pembelian sarana-sdarana yang diperlukan dalam proses produksi ataupun untuk menambah persediaan stok barangnya, maka dalah hal demikian akan tercipta uang baru. Ekspansi kredit yang bersangkutan berawal dari respon dunia usaha terhadap tingkat bunga. Pengusaha berusaha senantiasa cenderung menggunakan uang dengan harga murah (tingkat bunga rendah) guna memepercepat atau menambah pembelian-pembeliannya. Uang baru yang bersangkutan mengalir  dalam masyarakat dan khalayak kini menguasai persediaan tunai yang agak berlebihan. Persediaan tunai yang ditahan menjadi lebih besar oleh karena untuk sementara pendapatan melebihi pengeluaran. Pada gilirannya setelah beberapa waktu, pengeluaran juga aan bertambah. Sebagian dari persediaan tunai mengalir kembali kepada dunia usaha. Akan tetapi sebagain lainnya masih ditahan oleh khalayak sebab mereka  hendak mempertahankan nisbah (tingkat perimbangan) yang dalam analisis Hawtrey dianggap konstan antara  persediaan tunai terhadap pndapatan yang sudah bertambah dalam proses dimaksud diatas.

Dalam dunia usaha persediaan stok menjadi berkurang karena pengeluaran yang dilakukan oleh para konsumen. Pengeluaran menurun sampai dibawah tingkat yang biasanya dipertahankan dalam pengelolaan usaha yang bersangkutan.

Pada saat itu ada kecenderungan untuk menggunakan tambahan tunai (yang tadi mengalir kembali dari pihak konsumen) guna melakukan pembelian untuk melengkapi persediaan stok barangnya. Karena volume penjualannya juga telah bertambah, kini lazimnya diadakan stok barang pada tingkat yanglebih tinggi dibandingkan dengan tahap sebelumnya. Hal itu berarti akan diadakan tambahan pinjaman dari bank sehingga volume kredit perbankan menjadi lebih besar lagi.

Menurut Hawtrey dalam tata susunan ekonomi dimana uang menjalankan peranan penting dan dengan praktek lembaga-lembaga keuangan yang berjalan, ada kecenderungan kearah timbulnyafluktuasi. Selama jumlah kredit diatur berdasarkan nisbah cadangan (reserve ratics), selalu akan terjadi siklus ekonomi secara berulang yang ditandai oleh naik turunnya kegiatan usaha.

Selalu memakan waktu, sebelum arus uang (baru) dalam peredaran mengalir kembali. Factor waktu ini menyebabkan terjadinya kelambatan mengenai dampak dari ekspansi kredit maupun kontraksi kredit. Jika bank sentral menunggu secara pasif sampai saatnya cadangan perbankan dipengaruhi oleh dampak momentum sesuatuekspansi kredit atau suatukontraksi kredit dan tidak mengambil tindakan sebelum itu, maka tidak dapat dihindarkan adanya ekspansi kegiatan ekonomi yang semakin meningkat yang kelak disusul oleh keadaan depresi dan pengangguran.

Ekspansi kredit dan kontraksi kredit yang susul menyusul sevara periodic merupakan akibat kelambatan reaksi dari pihak pemegang persediaan uang tianai terhadap gerak gerik kredit perbankan.  Ekspansi kredit tidak segera disertai oleh  pertambahan penerimaan bagai para karyawan dunia usaha. Disaat penerimaan itu bertambah, sebagian besar dari tambahan akan dikeluarkan dan tidak ditahan sebagai persediaan uang tunai. Uang yang dikeluarkan pada suatu hari, dan melalui took-toko kemmbali ke dunia perbankan beberapa hari kemudian, semua itu tidak mempengaruhi cadangan perbankan.

Dengan penerimaan yang bertambah terus, persediaan juga meningkat secara bertahap. Kecenderungan ini akan terus berlaku sampai persediaan tunai mencapai tingkat perimbangan yang sepadan dengan pertambahan penerimaan.

Akan tetapi proses yang dimaksud itu memakan waktu yang cukup lama. Bertambahnya persediaan uang tunai tidak terlaksana secepat bertambahnya penerimaan. Persediaan uang tunai pertambahannya selalu ketinggalan dibandingkan dengan pertambahan penerimaan. Kredit perbankan mula-mula meningkat, kelak penerimaan bertambah dan pertambahan npada persediaan tinai baru menyusul kemudian. Kecenderungan tersebut akan menguras cadangan perbankan sampai pada suatu saat  keadaan berbalik dan uang semakin mengalir ke bank.

Hal itu membawa akumulasi cadangan perbankan yangmulai berlebihan. Keadaan tersebut pada gilirannya membuka kesempatan untuk ekspansi kredit lagi.

Factor waktu itu karena sebagian uang dalam peredaran untuk beberapa lama senantiasa ditahan sebagai persediaan tunai di kalangan khalayak. Menyebabkan terjadinya osilasi naik turunnya kegiatan ekonomi dalam kehidupan masyarakat.

Akumulasi cadangan perbankan yang berlebihan mendorong para bankir untuk menurunkan tingkat bunganya. Hak ini memberikan perangsang bagi para pengusaha untuk mengadakan atau menambah ppinjaman ke bank. Harga barang cenderung naik dan kemudian upah meningkat. Akan tetapi beberapa akan berlalu sebelum satu sama lain menjelma menjadi uang yang beredar sehari-hari dalam pergaulan.

Pada bankir biasanya tidak menyadari bahwa telah terjadi suatu ekspansi perkreditan yang berlebihan, sdampai uang yang terus mengalir keluar dari bank-bank sudah sangat mengurangi nisbah cadangan perbankan sendiri. Pada tahap itu jumlah kredit yang masuk dalam peredaran sudah jauh melampauitingkat yang dianggap lazim dan wajar dalam dunia perbankan. Pada saat itulah bank-bank meningkatkan tingkat bunga diskontonya. Hal ini menyebabkan para pengusaha mengurangi persediaan stoknya dan pada gilirannya mengurangi pesanan ordernya kepada pihak produsen pemasoknya. Harga barang akan menurun, akan tetapi tingkat upah biasanya masih bertahan dalam beberapa waktu. Begitu pula persediaan uang tunai pada saat itu masih bertahan di kalangan masyarakat umum. Dikala persediaan uang tunai mengalir kembali dalam jumlah uang besar kedalam dunia perbankan, sebenarnya sebelum itu adalah terjadi suatu kontraksi dalam perkreditan bank.

Dalam keadaan demikian, dengan masuknya lagi banyak uang kedalam bank, nisbah cadangan perbankan meningkat lagi. Dengan kata lain kini dialami liquiditas yang berlebihan dalam dunia perbankan. Tingkat diskonto bank akan diturunkan lagi sebagai perangsang bagi para  pengusaha untuk mengmbah stoknya dan meningkatkan volume transaksi usahanya. Dengan begitu akan mulai lagi tahap ekspansi dalkam kegiatan ekonomi.

Suatu kedaan equilibrium hanya akan terpelihara jika tidak terjadi kelambatan waktu yang dimaksud diatas sebab factor kelambatan waktu itulah yang menyebabkan gerak gerik yang silih berganti antara kelebihan dan kekurangan pada cadangan perbankan. Satu sama lain berkaitan dengan praktek-praktekkebijaksanaan moneter/perbankan untuk mendasarkan suatu cadangan perbankan pada nisbah (rasio/tingkat perimbangan) antara cadangan perbankan dan jumlah uang dalam peredaran (tingkat cadangan dinyatakan sebagai persentae dari jumlah kredit yang masuk peredaran uang). Kenyataan tersebut oleh Hawtrey diaanggap sebagai sebab utama bagi terjadinya gerak gelombang dalam siklus ekonomi.

Hawtrey kini mengemukakan pendapatnya agar bank sentral sebagai badan pengatur moneter jangan mengutamakan cadangan perbankan dalam nislahnya dengan jumlah uang yang beredar melainkan harus berpangkal pada arus  (flow) dalam daya beli masyarakat. Sebab yang mengambil peranan penting ialah arus uang itu yang secara efektif menjadi arus daya beli, dan bukan jumlah uang (sebagai stok) yang beredar pada suatu ketika. Sebab persedfiaan uang tunai yang tidak dikeluarkan itu (cash balance atau dalam istilahHawtrey unspent margin) mencakup uang kartal yang beredar beserta kredit yang dipinjam dari bank.

Dalam keadaan dimana tidak pengawasan atau pengaturan terhadap dunia perbankan, maka tingkat bunga diskonto ditentukan secara otomatis oleh nisbah cadangan perbankan sendiri. Keadaan serupa itulah yang menyebabkan bank-bank sering terlambat untuk mencegah terjadinya inflasi ataupun deflasi. Oleh karena itu, hebdsaknya tingkat diskonto dinaikan ataupun diturunkan dengan lebih cepat oleh bank sentral. Dengan jalan tersebut, dapat diadakan stabilisasi pada arus daya beli dan pada tingkat harga umum. Dalam pandangan Hawtrey, pengendaklian tingkat bunga seperti yang dimaksud sudah cukup efektif untuk menggulangi guncangan harga yang naik turun dalam siklus ekonomi.

Pokok permasalahan berekisar antara cepat lambatnya respons dan reaksi oleh pihak para pegdagang.  Sebab hal ini merupakan factor strategis dalam proses kegiatan usaha. Masalah mengatur stabilisasi harga menyangkut mengatur pinjaman dari bank kepada dunia usaha.

Volume pinjaman tersebut dapat diatur melalui tingkat diskonto. Pengendalian tingkat diskonto harus dilakukan ileh bank sentral lepas dari nisbah cadangan perbankan terhadap volume kredit yang dipiinjamkannya. Harus pula didasarkan pemantauan bank sentral terhadap arus daya beli dalam pergaulan (menyangkut kalangan usaha maupun rumah tangga keluarga).

Tingkat diskonto dalam kebijaksanaan moneter/perbankan menurut pandangan Hawtrey sangat mempengaruhi perilaku para pengusaha/pedagang dang kegiatan dalam dunia perdagangan. Fluktuasi dalam pembelian oleh para pengusaha merupakan titik pusat dalam fluktuasi kegiatan dunia usaha umumnya. Dikala para pengusaha/pedagang mengurangi persediaan stok  barangnya dan mengurangi pesanan pembeliannya. Hal itu akan mengurangi produksi dan menyebabkan bertambahnya pengangguran. Kemudian penerimaan juga menurun lagi sehingga pengeluaran untuk pembelian menjadi semakin berkurang. Kecenderungan dalam proses tersebut juga berlaku untuk arah jurusan yang sebaliknya. Gerak perkembangan yang naik turun berawal dari pihak kalangan pedagang dan kemudian meluas pada golongan-golongan lain dalam masyarakat.

Kelemahan pokok dalam kerangka analisisdan garis pemikitan Hawtrey lagi-lagi melekat pada haluan pendangan yang secara berat sebelah terpusat/terbatas pada peranan uang dan perbankan, seakan-akan meremehkan pertimbangan-pertimbangan yang mendorong kegiatan usaha dalam kegiatan ekonomi riil. Dalam kenyataan pengelolaan usaha, maka fluktuasi pada persediaan stok barang lebih dipengaruhi oleh pemikiran pengusaha mengenai prospek tentang penjualan barang dan perkembangan harga. Bilamana prospek perkitaannya tentang penjualan itu cerah, maka pengendalian yang semata-mata menyangkut tingkat bunga diskonto kiranyatidak mengandung dmpak besar terhadap tingkat investasi dan volume dalam persediaan stok.

  1. D.      Pendekatan Ekonometrik Terhadap Siklus Ekonomi

Jan Timbergen (1930); Ragnar Frisch (1895-1973)

Ekonometri sebagai cabang penting dari ilmu ekonomi berpokok pada perpaduan antara teori ekonomi, ilmu matematika, dan ilmu statistik. Ketiga disiplin ilmu tersebut masing-masing merupakan jalur jalur peralatan analisa yang diperlukan dalam pendekatan terhadap masalah ekonomi. Akan tetapi, pengalaman juga menunjukan bahwa masing-masing disiplin ilmu itu secara tersendiri kurang memadai untuk memperoleh pengertian mengenai hubungan kuantitatif diantara serangkaian dinamika di dalam kehidupan ekonomi modern.

Secara umum dapat dikatakan bahwa sifat dan maksud ekonometrikaialah untuk memberi substansi secara empiris-kuantitatif mengenai hubungan diantara fenomena ekonomis.

Teori ekonomi sebagai cabang ilmu pada hakikatnya merupakan suatu sisi dari ilmu logika. Akan tetapi relevansi (arti operasional) suatu teori selalu terbatas, jika teori itu tidak dikaji  dan diuji dengan pengukuran kuantitatif yang didasarkan atas data statistik empiris.

Sebaliknya pengukuran kuantitatif harus dilakukan dalam suatu kerangka teori sebagai kerangka acuan suatu system pemikiran analisa yang diperlukan untuk kajian dan tafsiran tentang pengamatan statistik. Pengukuran kuantitatif tanpa teori seperti yang dimaksud tidak pernahmenghasilkan suatu gambaran ataupun penjelasan mengenai pola dan cara interaksi diantara kekuatan-kekuatan ekonomi dalam hubungannya satu dengan yang lainnya.

Teori ekonomi dapat mengungkapkan sejumlah saranan pendapat atau informasi secara kualitatif mengenai permasalahan ekonomi. Peran ekonometri ialah untuk memberi isi dan substansi secara kuantitatif tentang pengerian ekonomi yang bersifat kualitatif. Pendekatan kuantitatif ini dilakukan dengan menyatakan teori ekonomi dalam rumusan matematik. Atau dengan kata lain suatu penyusunan model matematik dari teori ekonomi.

Hal ini dapat diuji dan diverifikasi dengan metode staatistik. Melalui pendekatan ekonometrik dapat dipantau dengan ukuran kuantitatif pengaruh hubungan tbalik antara satu variable terhadeap variable yang lainnya. Maksudnya adalah agar tersedia suatu gambaran terinci yang lebih pasti secara kuantitatif. Gambaran serupa itu dapat dijadikan landasan bagi alternatif-alternatif kebijaksanaan dengan konsekuensinya dan ramifikasinya (akibat pengaruhnya di berbagai ragam kegiatan) dari masing-masing alternatif.

Ekonometri sebagai cabang ilmu ekonomi berawal dari dasawarsa 30 sebelum Perang Dunia II. Dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya sejak itu sampai sekarang bidang ekonometri sebagai perbendaharaan ilmu ekonomi berkembang sangat pesat dan sudah sangat meluas di berbagai bidang kegiatan ekonomi masyarajat. Hal itu ditopang oleh perkembangan ilmu komputer yang memungkinkan proses komputerisasi berbagai jenis data dalam jumlah yang banyak dan dalam waktu yang singkat. Pebekaahan, pengkajian, dan penanggulangan dalam masalah-maslah ekonomi kini sudah lazim dilakukan melaluimodel-model makro-ekonometrik yang disusun untuk berbagai bidang dan tujuan kegiatan. Hal itu dapat terlihat pada kegiatan badan-badan internasional (Bank Dunia, IMF, OECD, dll), pada badan-badan pemerintahan di tingkat nasional  maupun dalam dunia swasta.

Sejak dasawarsa 70 model makro-ekonometrik banyak digunakan sebagai dasar dan pangkal tolak bagi penyusunan berbagai rupa scenario untuk perkiraan bahkan ramalan mengenai perkembanga masa depan.

Dalam proses perkembangan ekonometri itu dialami beberapa kelemahan dan kekurangan mengenai hasil yang diperolehjika telaahan dan kajiannya didasarkan semata-mata atas pendekatan ekonometrik. Sebab penyusunan modelnya mungkin kurang tepat dan/atau penggunaannya kurang cermat. Dalam pada itu harus disadari bahwa model matematik beserta pendekatan ekonometrik secara inheren mengandung kendalanyadan batasanya sendiri. Hendaknya diperhatikan bahwa mengenai sejulah variable dinamika yang dirumuskan dalam suatu model pilihannya (seleksi penyaringanya diantara berbagai rupa variabelyang jumlahnya banyak) maupun penilaiannya tentang bobot relevansi variable dinamika itu sendiri, satu sama lain dipengaruhi oleh dan tergantung dari persepsi kualitatif mengenai permasalahan yang hendak dipelajari dan ditanggungi.

Oleh sebab itu pendekatan ekonometrik dan penggunaan model (makro) ekonometrik sangat berharga sebagai jalur pendukung dan perbendaharaan ilmu ekonomi. Namun semuanya itu selalu harus dilihat dan ditempatkan dalam haluan pandangan yang lebih luas. Artinya dalam suatu kerangka teori dengan pola pendekatan dimana acuanya secara eksplisit mengandung persepsi kualitatif tentang kekuatan-kekuatan yang berkaitan denganpermsalahan yang dihadapi.

Setelah ulasan singkat diatas, tinjauan kita disini dibatasi pada beberapa cirri pokok yang menyangkut pemikiran-pemikiran dasar dalam pendekatan ekonometrik, khususnya dalam kaitan dengan siklus kegiatan ekonomi.

Sebagaimana telah disebut di bagian depan tulisan ini dan masih akan diutarakan di bagaian selanjutnya, pemikiran tentang siklus ekonomi dapat digolongkan dalam kateori teori yang bersifat endogen dan kategori teori yang bersifar eksogen. Kalau dalam teori eksogen perhatian ditujukan pada dampak pengaruhserangkaian factor dinakmika yang berasal dari luar system ekonomi sendiri, maka teori siklus ekonomi yang didasarkan atas pendekatan ekonometrik termasuk kelompok teori yang semata-mata bersifat endogen. Artinya yang diutamakan ialah peranan kekuatan-kekuatan dinamika yang sudah terkandung di dalam konstelasi ekonomi masyarakat sendiri. Salah satu cara untuk mengevaluasi model ekonometrik ialah melihat kapada unsure-unsur dinamika yang merupakan sebab utama  yang menimbulkan secara berulang gerak gelombang ekspansi dan kontraksi struktur ekonomi.

Titik berat yang diberikan kepada kekuatan-kekuatan endogen sebenarnya berawal dari pemikiran Albert Aftalion. Hal ini berkenaan dengan factor waktu ( jetinggalaan waktu/time tag) dan peran accelerator. Hal terakhir ini kemudian dalam kerangka pemikiran Beo Keynes dikaitkan denga ubungantimbal balik dengan asa multiplier (Hansen-Samuelson).

Kombinasi multiplier dan axeleration itu dalam interaksinya saru terhadap lainya telah menjadi cirri pokok dalam kerangka analisis yang mengandalkan pendekatan ekonometrik terhadap siklus ekonomi. Pendekatan ekonometrik menekankan pada gerak kegiatan yang berlangsung didalam tata susunan ekonomi dan yang secara sistematis timbul dari sifat internalnya sendiri. Kerangka susunan ekonomi itu dapat duiungkapkan sebagai suatu system yang mengandung hubungan-hunungan diantara  berbagai rupa variable ekonomi. Analisis ekonometrik menunjukan adanya hubungan konstan yang dapat menimbulkan fluktuasi dalam proses ekonomi dikala suatu keadaan equilibrium menjadi terganggu oleh suatufaktor dorongan yang bersifatsemaca kejutan. Pendekatan ekonometrik berusaha untuk mendapat pengertian secara konkrit-kuantitatif tentang mengapa dan bagaimana gerak gelombang dalam kegiatan ekonomi merupakan akibat dari respons atau reaksi oleh system ekonomi sendiri terhadap factor dorongan atau kejutan yang muncul secara kebetulan dan bersifat sekali jalan (once over).

Ilmu ekonometrik dalam hubungannya dengan siklus ekonomi mulai dirintis dalam dasawarsa 30 oleh dua pakar ekonomi termasyur dan sejak saat itu menjaditerkenal dalam dunia ilmu ekonomi yaitu Jan Timbergen dan Ragnar Frisch. Keduanya masing-masing secara terpisah tetapi hasil karyanya saling melengkapi, merupakan pemikir pioneer yang telah meletakan landasan dasar bagi perkembanganekonometrika selanjutnya sebagaimana dikenal di zaman kita ini. Sampai sekarangpun pemikiran-pemikiran yang dewasa ini dipaparkan oleh banyak ahli ekonometrika terkemuka masih menyandarkan secara sadar atau tidak sadar , unsure-unsur pikiran dasar yang telah ditemukan dalam pola pemikiran timbergen dan Frisch. Bukan kebetulan dan tepat sekali bahwa kedua pakar ekonomi tersebut secara bersamaan meraih hadiah nobel di bidang ilmu ekonomi untuk pertama kali diberikan pada tahun 1969. hal itu sebagai pengakuan dan penghargaan atas sumbangan jasanya dalam ilmu ekonomi khususnya terhadap perkembangan di bidang ekonomnetrika.

Jan timbergen adalah pakar ekonomi  dari Belanda. Perhatian timbergen ditujukan pada tiga permaslahan: pengembanan teori sebagai dasar kebijaksanaan, masalah-maalah Negara berkembang dan masalah distribusi pendapatan. Dalam pola pendekatannya selalu menonjol  kecenderungan untuk mengkaji pemikiran teoritis dalam relevansinya dengan masalah yang terjadi. Karya timbergen di bidang ekonomimdan ekonometrika sering dianggap inovatif terutama mengenai peran dinamika ekonomi. Hal itu telah meletakan landasan dasar bagi ssemua penelitian empiris-kualitatif yang kemudian menyusul tentang suklus ekonomi.

Dalam karya Timbergen telah dipantau dan ditelitiserangkaian variable poko dalam proses kegiatan ekonomi, seperti laba,pah,konsumsi, bahan baku serta peralatan modal. Dalam kajian itu, sejumlah teori  dikaji berdasarkan fakta empiris yang ditemukan dalam penelitian. Dapat dikatakan bahwa pendekatan  ekonometrik dalam penelitian siklus ekonomi  berawal dari analisis timbergen yang disebut cobweb theorm. Gagasan ini mengungkapkan dengan cara apa factor  time lag pada penyesuain dalam proses produksi mempengaruhi cara penyesuaian antar pasokan dan permintaan. Sehubungan dengan iu, digambarkan ketidakstabilan yang berlangsung  di pasaran untuk berbagai jenis barang. Misalnya, untuk memelihara dan mengembangbiakan ternak sapi itu memakan waktu. Bagi seseorang peternak sapi itu memakan waktu. Bagi seorang peternak sapi, hasilnya dinilai berdasarkan perkiraan dengan harga pasar yang berlaku pada saat ini. Misalkan sekarang terjadi penyakit mulut-kaki yang menghinnggapi peternakan sapi. Lihat pada grafik 1 dan 2.

Pada grafik 1 jumlah yang tersedia untuk dijual menurun sampai  Q1. Harganya menaik sampai Pi. Tingginya harga tersebut dan usaha untuk menanggulangi penyakit yang dimaksud tadi memberi rangsangan bagi para peternak sapi untuk menambah pembiakan jumlah ternak untuk dijualditahun kudua yang  berikut dan tingkat harga menurun sampai P2. Hal ini menyebabkan jumlah yang dijual berkurang menjadi Q3 ditahun yang ke3, harga naik lagi menjadi P3 dan seterusnya. Dalam contoh kecil ini jarak ayunan menadi semakin kecil dan pada gilirannya akan tercapai lagi titik temu keseimbangan antara harga dan jumlah. Akan tetapi dalam perkembangan yang dibentangkan secara sederhana tadi belum ikut dipertimbangkan segi elastisitas perihal supply and demand. Jika permintaan kurang elastic, dibandingkann elastic pasok, artinya permintaan tidak begitu respondsip terhadap perubahan harga sehingga lereng condong pada kurvanya yang lebih tinggi, maka cobweb semakin  menyimpang sehingga terjadi ayunan yang semakin besar pada pasok dan harga.

Kenyataan empiris menandakan bahwa permasalahan sekitar barang-barang bertahan lama merupakan salah satu pokok dalam berlangsungnya siklus ekonomi. Oleh sebab itu, analisis yang disajikan oleh timbergen berdasarkan cobweb-theorm dianggap mendasar bagi penelitian mengenai siklus ekonomi. Karena selalu masih ada stok barang yang masih lama, maka keputusan untuk menambah produksi barang yang bersangkutan dipengaruhi oleh perbedaan antara stok yang masih tersedia dan stok yang dikehendaki di masa depan. Apabila stok yang dikehendaki itu berubah, hal tersebut merupakan ganguan dari luar  (dari luar system variabel).

Dari berbagai penelitian yang dilakukan Timbergen  telah ditonjolkan beberapa kesimpulan yang mengandung arti bagi evaluasi tentang sifat dan corak siklus-siklus ekonomi. Diantaranya menegenai segi moneter dan peranan bunga. Menurut timbergen peranan tingkat suku bunga nisbi tidak begitu penting. Jumlah bunga jangka pendek adalah relative sedikit dengan komponen  dalam seluruh biaya produksi, sedangkan variasi pada jumlah bunga jangka panjang juga tidak berarti. Selain itu, bertambahnya pasokan jumlah uang ataupun cepatnya laju peredaran uang dianggap sekunder bagi bertambahnya volume penjualan.

Ragnar Frisch,

Ragnar Frisch adalah pakar ekonomi asal norwegia, ragnar bias disebut sebagai pencipta kata ekonometrika bersama dengan Jean Timbergen. Mereka berhasil menytukan teori ekonomi , matematika dan statistic.

Berdasarkan pendekata ekonometrik sebagai metodologi utama, pemikiran ekonomi ragnar Frisch ditujukan pada tiga pokok permasalahan:analisis permintaan,teori produksi dan teori ekonomi makro. Pemikiran ragnar Frisch yag berkatan dengan siklus ekonomi dibeberkan dalam sebuah karya pada tangal 1933. Sejak itu pemikiran Frisch menjadi terkenal. Dalam analisisnyadisusun suatu sisteatika dinamika sisitem ekonomi secara menyeluruh dimana diadakan erbedaan antara impulses (factor pendorong gerak) dan propagationas (factor penyebaran) yang berlangsung secara bergelombang. Ada 2 hal yang mendasar dalam pembahasan siklus ekonomi menurut Frisch :

1.   menyangkut suatu analisis mengenai kejutan dari  luar (outside shock) dan dampak kejutan serupa itu yang cenderung melangsungkan dan mempertajam goyangan dalam sisitem ekonomi yang biasanya stabil.

2.  menyangkut teori murni tentang factor-faktor yang mnentukan tingkat kecepatan produksi.  Factor-faktor itu engan sendirinya juga menentukan tingkat-tingkat penjadwalan dalam pembayaran kepada pemasok sarana produksi.

Berkenaan engan factor masa yang diperlukan dalam proses produksi modern , maka terdapat suatu kelambatan waktu secara rata-rata (average time lag)antara titik awal produksi dengan saat-saat dilakukan pembayaran. Kenyataan adanya average time lag yang diaksud merupakan cirri pokok pada semua produksi kapitalis modern dan menambil posisi sentral daam banyak model ekonometrik mengenai siklus ekonomi. Bersamaan dengan asas acceleration, hal itu menjadi unsure dinamika yang utama dala model makro ekonometrik yang dikembangkan Frisch mengenai siklus ekonomi. Dalam pemikiran ini terkandung factor timelag yang sudah terkandung dalam kerangka pemikiran Aftalion, perbedan antara Frisch dan Aftalion ialah bahwa  Timbergen tidak memberi

F.   Sintesis dalam Teori Siklus Ekonomi : John Maynard Keynes (1883-1946); Alvin H. Hansen

Dalam pandangan Keynes dalam bukunya The General Theory of Employment, Interest and Money (1936), perkembangan depresi dan deflasi (tingkat harga umum yang tertekan dan daya beli riil yang rendah) serta ekspansi dan inflasi pada hakekatnya merupakan permasalahan yang berkisar pada permintaan agregatif. Perubahan pada permintaan agregatif mempengaruhi fluktuasi pada produksi dan kesempatan kerja.

Pendekatan Keynes terhadap masalah ekonomi dan kebijakannya adalah dengan pengendalian permintaan agregatif : melalui kebijakan fiskan dengan menciptakan deficit dalam keadaan depresi dan melakukan surplus dalam perkembangan ekspansi. Keynes juga menekankan pentingnya kebijakan moneter yang berhubungan dengan kebijakan fiscal yang harus melakukan respon terhadap segi permasalahan lainnya, khususnya yang menyangkut tingkat bunga.

Pokok pemikiran Keynes mengenai siklus ekonomi ialah bahwa boom (tahap ekspansi) dan slump (tahap resesi dan depresi) yang saling susul ada kaitannya dengan fluktuasi pada efisiensi marginal dari modal dibandingkan dengan tingkat bunga.

Siklus dalam kegiatan ekonomi terjadi karena adanya perubahan dalam efisiensi marginal dari modal. Hal itu dipertajam dengan hasrat likuiditas (liquidity preference) dan hasrat berkonsumsi (propensity to consume). Perubahan hasrat likuiditas dan konsumsi ini mempengaruhi osilasi dan amplitude dalam perkembangan siklus ekonomi.

Kemudian kerangka analisis pemikiran Keynes dikembangkan oleh Alvin Hansen, Fiscal Policy and Business Cycles (1941); business cycles dan National Income  (1951). Dalam pandangan Hansen adalah sangat penting untuk membedakan antara dua perubahan yang menyangkut gerak menurunnya efisiensi marginal dari modal.

Pertama, tingkat efisiensi marginal dari modal bisa menurun pada pola garis kurva. Kedua, efisiensi marginal dari modal juga bisa berubah karena terjadi pergeseran (shift) dari garis kurva itu sendiri. Huasil dari kombinasi yaitu menurunnya efisiensi marginal dari modal pada suatu kurva dan bergesernya kurva dari efisiensi marginal itu, mungkin justru meningkatkan efisiensi marginal dari modal.

Demikianlah secara pokok kelengkapan penafsiran Hansen terhadap pemikiran semua yang darumuskan oleh Keynes.

Keynes juga menunjukkan beberapa sebab berbeda yang mendorong gerak efisiensi marginal dari modal:

(1)   Ada kalanya gerak efisiensi marginal tersebut didasarkan atas perkiraan/penilaian yang realistis mengenai kebutuhan akan investasi modal dalam proses pertumbuhan

(2)   Namun, sering terjadi pula rencana gerak (schedule) efisiensi marginal dari modal terdorong oleh perkiraan-perkiraan yang sangat spekulatif mengenai imbalan jasa yang (diharapkan) akan diperoleh di masa depan.

Tetapi ketika timbul kesangsian dan keraguan sekitar benar-salahnya perkiraan yang dimaksud, maka suasana dunia usaha berbalik dari optimis-spekulatif menjadi sangat pesimis. Dengan keadaan demikian, perkembangan keadaan berubah dengan tiba-tiba dan dampak perubahannya sangat tajam dan luas. Oleh sebab itu, penjelasan tentang terjadinya suatu krisis bukanlah terletak pada terlalu meningkatnya investasi, melainkan pada keruntuhan secar tiba-tiba efisiensi marginal dari modal.

Dalam perkembangan tahap ekspansi, ada dua hal yang harus diperhatikan : (1) Pertambahan pada barang modal sudah tersedia disertai oleh biaya produksi yang meningkat; (2) Pertambahan barang modal dan meningkatnya biaya produksi masing-masing dan secara bersamaan cenderung untuk mengurangi efisiensi marginal dari modal.

Pada tahap akhir ekspansi, sering berlangsung suasana ekspektasi yang sangat optimis mengenai imbalan jasa yang dapat diperoleh di masa depan. Perkiraan tentang imbalan jasa melampaui perkiraan tentang peningkatan biaya dan mungkin juga tentang peningkatan bunga. Jika kelak perkiraan itu salah, maka akan timbul kesangsian dan keraguan sekitar prospek imbalan jasa dari investasi. Satu sama lainnya membawa akibat berantai yang meluas.

Dari uraian di atas, jelas bahwa Keynes member arti yang besar pada factor optimisme yang mendorong kegiatan ekspansi secara berlebihan dan membawa kesalahan perkiraan. Sementara itu Keynes kurang menonjolkan peranan perubahan teknologi dan pertambahan penduduk yang keduanya dan masing-masing mempengaruhi kecenderungan dalam gerak efisiensi marginal dari modal.

Faktor yang menurut Keynes sangat mempengaruhi lama atau pendeknya tahap depresi adalah masa waktu yang diperlukan untuk menampung dan menerap surplus persediaan stok yang selama resesi dan depresi telah bertambah secara kumulatif. Biaya yang tersangkut dengan penyimpanannya merupakan sesuatu yang sangat penting, sehingga bukan tidak mungkin bahwa dalam keadaan itu investasi menjadi negative. Lagi pula dalam tahap menurunnya kegiatan ekonomi (down swing), dana modal kerja untuk barang-barang yang sedang dalam proses produksi menjadi berkurang. Menurunnya investasi dalam barang modal mengandung dampak kumulatif terhadap (dis)investasi dalam persediaan stok dan pada modal kerja.

Dalam pandangan Hansen, dalam suatu keadaan tertentu dengan teknik produksi tertentu dan jumlah penduduk tertentu dimana tingkat investasi dianggap tepat karena adanya kesempatan kerja secara penuh (full employment), maka dalam perimbangan-perimbangan keadaan serupa itu, tidak dapat diperanggungjawabkan adanya tambahan investasi. Jika hal ini terjadi, maka bertambahnya barang modal tetap pada tingkat itu sewaktu-waktu bisa menimbulkan goncangan dalam gerak kegiatan ekonomi.

Kekurangan dalam kemampuan berkonsumsi (underconsumption) merupakan tema pokok dalam pemikiran ekonomi Robert Malthus, Principles of Political Economy (1878). Pendapat Malthus tidalk disangkal oleh Keynes yang menerimanya sebagai pengamatan kenyataan. Sementara itu, Keynes berpendirian bahwa underconsumption bukan menjadi satu-satunya factor konstan-otonom yang mengekang kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi dapat ditingkatkan melalui peningkatan investasi dalam produksi yang akan membawa kenaikan konsumsi. Oleh sebab itu, Keynes berpendapat bahwa masalah kekurangan dalam kemampuan berkonsumsi tidak dapat dianggap sebagai sebab sesuatu yang konstan. Sebab, keadaan tersebut dapat ditanggulangi dengan meningkatkan investasi bersama usaha lain untuk menaikkan konsumsi.

Inti dalam kerangka pemikiran Keynes-Hansen ialah kestabilan pada pendapatan (permintaan efektif) dan kesempatan kerja. Hal itu pula yang menjadi sasaran pokok dalam kebijakan pengendalian siklus ekonomi. Dalam sistem Keynes-Hansen, masalah siklus ekonomi dikembalikan sebagai bagian dari teori ekonomi umum. Memang teori tentang siklus ekonomi harus berakar dalam suatu kerangka  landasan analisis-teoretis yang mencakup pembentukan pendapatan dan kesempatan kerja serta masalah alokasi sumber daya dan dana yang sekaligus dapat menjelaskan penyebab naik atau turunnya tingkat kegiatan ekonomi masyarakat.

Kerangka analisis modern mengenai siklus kegiatan ekonomi bersangkutan dengan analisis mengenai fluktuasi pada pendapatan dan kesempatan kerja. Kerangka analisis seperti yang dimaksud itu mengandung tiga sendi pokok pemikiran, yakni:

(1) rencana gerak ataupun garis kurva (schedule) mengenai efisiensi marginal dari investasi, dilihat dalam perimbangannya dengan tingkat bunga;

(2) peranan multiplier (efek ganda) dari investasi (investment multiplier) yang berdasarkan fungsi konsumsi dalam hubungannya dengan pembentukan pendapatan;

(3) pengaruh dari perubahan pendapatan terhadap tingkat investasi, yaitu asas acceleration.

Ketiga faktor tersebut dalam kaitannya satu dengan yang lain merupakan alur perkembangan bagi proses ekspansi ataupun kontraksi dalam resesi dan depresi. Teori modern mengenai fluktuasi kegiatan ekonomi juga menjelaskan penyebab mengapa tahap ekspansi ataupun tahap depresi tidak dapat berlangsung secara terus-menerus tanpa kendala. Sebelum segi permasalahan ini ditelaah lebih lanjut, terlebih dahulu lihatlah pada beberapa ciri pokok dalam wujud paduan sintesis pada teori modern mengenai siklus ekonomi.

Pertama-tama diadakan integrasi antara imbalan jasa yang diperoleh dari investasi, tingkat biaya, dan tingkat bunga. Keduanya mengenai analisis multipilier : kenyataan bahwa fluktuasi pada investasi (yang ditentukan oleh garis kurva mengenai efisiensi marginal dari modal dibandingkan dengan tingkat bunga) menimbulkan fluktuasi pada pendapatan (menambahnya atau menguranginya) dan dengan demikian fluktuasi pada konsumsi.

Bahwasanya investasi mengandung dampak (secara berganda) terhadap pendapatan, hal itu juga sudah terungkap dalam karya-karya Spiethop, Schumpeter, Aftalion, dll. Namun, ungkapan mereka itu mengenai efek berganda baru bersifat hasil pengamatan empiris-deskriftif. Hubungan fungsionalnya dan dasar analisis-teoretisnya baru disajikan dengan jelas oleh Keynes yang mengembangkan suatu teori tentang investment multiplier berdasarkan konsep fungsi konsumsi. Baru dalam kaitannya dengan fungsi konsumsi ini terbuka kemungkinan untuk mengidentifikasi asas-asasnya dalam hubungan antara fluktuasi investasi dan fluktuasi pendapatan.

Teori tentang fluktuasi pendapatan sebagaimana sebelumnya dibeberkan oleh Spiethof dan Schumpeter, sedangkan Alfalion hanya menjelaskan sebagian dari fenomena ekonomi yang bersangkutan. Hal itu baru menjadi kerangka analisis yang bulat dan kohesif (dalam wujud kepaduan) setelah dilengkapi dengan adanya konsep consumption function dalam analisis multiplier, yang bersumber pada kerangka pemikiran Keynes. Pemikiran dalam wujud kepaduan tersebut merupakan sumbangan Keynes yang amat besar, tidak saja terhadap teori umum tentang proses pembentukan modal, melainkan sekaligus juga terhadap teori tentang siklus kegiatan ekonomi.

Peran asas acceleration melengkapi kerangka landasan pemikiran di atas. Masalahnya ialah, tidak hanya investasi otonom yang menjadi faktor di dalam menentukan tingkat pendapatan dan kesempatan kerja. Juga perubahan pada pendapatan itu sendiri secara tidak langsung menimbulkan hasrat untuk melakukan investasi (principle of derived demand). Asas acceleration tersebut untuk pertama kalinya dirumuskan oleh Albert Alfalion (lihat di muka). Kemudian dalam perkembangan teori modern sesudah Keynes, terutama sebagai sumbangan Hansen-Samuelson, terjadi integrasi pula antara asas acceleration yang dikembangkan oleh Alfalion dan investment multiplier berdasarkan fungsi konsumsi yang berasal dari pemikiran Keynes.

Asas multiplier dan asas acceleration merupakan dua segi kembar yang saling memperkuat dalam pengaruhnya terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Kombinasi kedua asas itu menyediakan alat analisis yang ampuh untuk memantau dan mengkaji gerak perkembangan sistem ekonomi yang secara besar-besaran menggunakan peralatan modal tetap. Dengan adanya investasi tersebut, faktor multiplier menjelaskan pada kita bagaimana akan berkembang pola dan arah pendapatan. Begitu pula dalam perkembangan pendapatan itu, asas acceleration mengungkapkan tentang perkembangan selanjutnya tentang investasi.

Kombinasi multiplier dan acceleration itu menyediakan suatu teori dinamika dalam perkembangan ekonomi. Keduanya menjadi ciri pokok dalam kerangka analisis yang kemudian dikembangkan dan dikenal sebagai pendekatan ekonometrik terhadap siklus ekonomi. Selain itu, kedua faktor tersebut juga menjelaskan kepada kita proses interaksi antara faktor eksogen (a.l. investasi otonom) dengan perimbangan-perimbangan keadaan endogen yang mengandung peran multiplier dan acceleration.

Teori modern tentang siklus ekonomi, yang dalam garis besarnya dapat menjelaskan mengapa dan apa sebabnya tahap ekspansi maupun maupun tahap resesi.

Dalam teori-teori yang terdahulu selalu ditonjolkan satu faktor kendala yang menghambat dan menghentikan gerak perkembangan secara kumulatif. Faktor kendala itu dikaitkan dengan terbatasnya dana pembiayaan.

Dalam gagasan Tugan-Baranowski dan Spiethof, keduanya begitu menekankan peranan investasi, juga dikemukakan bahwa ekspansi ekonomi cepat atau lambat akan mengalami batasnya karena sumber dana pembiayaan menjadi langka dan pinjaman tidak dapat disediakan lagi melalui kelonggaran kredit perbankan.

Kendala yang bersumber pada semakin langkanya dana pembiayaan juga merupakan tema pokok dalam pemikiran golongan monetaris, seperti terlihat dalam gagasan Friedrich Von Hayek, Monetary Theory abd The Trade Cycle (1933); Price and Production (1935).

Menurut Hayek, setelah beberapa saat berlalu, ekspansi dalam kegiatan ekonomi tidak lagi dibiayai lagi dengan tabungan “murni”, melainkan seakan-akan dengan tabungan “paksaan” melalui ekspansi kredit. Akan tetapi ekspansi kredit mengandung batasnya sendiri karena cadangan perbankan juga terbatas. Dalam keadaan demikian, tingkat bunga untuk pinjaman melampaui tingkat imbalan jasa untuk investasi baru. Hal itu akan menghentikan ekspansi moneter dan ekspansi kegiatan ekonomi. Arus uang dalam peredaran dan berkurangnya cadangan dalam dunia perbankan menjadi faktor penghambat yang akhirnya menghentikan kelangsungan dalam kegiatan ekspansi.

Berbeda dengan pandangan di atas, dalam teori modern terdapat tiga rupa kendala yang terkandung di dalam proses kegiatan ekonomi sendiri, yaitu yang disebut sebagai self-limiting factors :

(1) Menurunnya efisiensi marginal dari modal; untuk sebagian karena rencana geraknya menurun pada garis kurva yang sama dengan semakin bertambahnya investasi, untuk sebagian juga karena ada pergeseran dari skedul efisiensi marginal itu sendiri;

(2) Asas acceleration : investasi tidak langsung menjadi semakin berkurang karena pada tahap full employment (kesempatan kerja yang dimanfaatkan secara penuh), maka laju pertumbuhan produksi juga semakin menurun;

(3) Sifat dan lereng kecondongan (slope) pada fungsi konsumsi: pada tahap itu terjadi kesenjangan antara tabungan dan pendapatan, serta kesenjangan tersebut harus terus diisi oleh tambahan investasi jika hendak dicegah kemunduran dalam kegiatan ekonomi secara menyeluruh.

Kombinasi ketiga faktor kendala yang dimaksud di atas dapat menjelaskan fenomena berakhirnya tahap kegiatan ekspansi. Pada tingkat puncak, akan dialami titik balik (upper turning point) kearah menurunnya kegiatan ekonomi.

Garis lereng condong (slope) dari fungsi konsumsi cenderung mengandung batas maksimal bagi ekspansi. Pada tahap dimana kegiatan ekonomi mendekati full employment akan terjadi ketimpangan antara konsumsi dan investasi, serta ketimpangan itu menjadi semakin besar. Dalam ekspansi yang berkepanjangan, kesenjangan tersebut secara absolute menjadi lebih besar, tetapi secara proporsional relative konstan karena masih ada investasi tambahan untuk mengisi kesenjangan yang bersangkutan. Akan tetapi, keadaan serupa itu semakin sulit untuk dipertahankan.

Pertama, karena laju pertumbuhan produksi semakin menurun pada tahap dimana segenap sumber daya dan dana telah digunakan secara penuh. Pada saat itu mulailah berlaku asas acceleration dalam arti : investasi secara tidak langsung menjadi berkurang. Tingkat investasi tidak langsung kini mempunyai landasan yang kurang kokoh. Sebab, kelangsungan investasi serupa itu tergantung dari kelangsungan tingkat kenaikan yang kontinu pada permintaan akhir (final demand).

Dalam tahap berikutnya, investasi otonom juga berkurang apabila ekspansi berlangsung panjang. Kesempatan untuk investasi baru yang pada mulanya diciptakan oleh kemajuan teknologi dan serangkaian dinamika lainnya cenderung mencapai suatu keadaan dimana segala peluang sudah dimanfaatkan. Kemajuan yang bersandarkan pada kemajuan teknologi dan inovasi tidak berjalan dengan mulus, melainkan terjadi secara tiba-tiba pada waktu-waktu tertentu. Dalam kejadian-kejadian itu, maka ketinggalan (backlog) dalam investasi (otonom dan investasi tidak langsung) untuk sementara dapat mengisi kesenjangan (gap) antara konsumsi dan pendapatan. Akan tetapi ketika backlog itu sudah terpenuhi dan pada saat itu laju pertumbuhan sudah menurun, maka baik investasi otonom maupun investasi tidak langsung juga cenderung semakin berkurang. Dengan sendirinya kegiatan ekspansi menjadi tersendat-sendat dan akhirnya akan berhenti. Investasi sudah mencapai suatu tingkat yang sesuai dengan kebutuhan yang ditentukan oleh pertumbuhan dan kemajuan teknis. Investasi baru secara netto menurun dan pendapatan berkurang dengan berlipat ganda.

Serangkaian faktor yang diungkapkan di atas juga menyebabkan mengapa sebaliknya keadaan depresi tidak berlangsung secara terus-menerus dengan tidak ada akhirnya. Keadaan depresi juga menghadapi tingkat akhirnya. Ketika depresi berlangsung lama, maka landaian atau slope fungsi konsumsi adalah demikian rupa sehingga konsumsi akan menurun dengan laju yang lebih lamban (tingkat menurunnya lebih sedikit), dibandingkan dengan tingkat berkurangnya pendapatan. Kekuatan-kekuatan kontraksi menjadi semakin lemah. Asas acceleration dan permintaan tidak langsung mulai berpengaruh dan dampaknya akan semakin melunakkan kekuatan-kekuatan kontraksi. Akhirnya akan berperan kemajuan teknologi dan inovasi, satu sama lain membuka kesempatan lagi bagi investasi baru.

Serangkaian factor kendala terhadap kelangsungan ekspansi maupun terhadap kelangsungan kontraksi dalam depresi juga menjelaskan tentang penyebab adanya osilasi dalam perkembangan ekonomi sehingga kegiatan ekonomi menunjukkan suatu pola gerak yang menaik dan menurun. Perkembangan dalam tata susunan ekonomi yang bersangkutan tidak bergerak secara kumulatif tanpa ada akhirnya. Selalu ada faktor-faktor (yang bersifat endogen) yang membatasi proses-proses kumulatif tersebut, baik terhadap kegiatan ekspansi maupun terhadap kontraksi dalam depresi. Segala sesuatu berkisar pada peranan :

(1) rencana gerak (skedul) efisiensi marginal dari modal;

(2) asas acceleration;

(3) landaian atau lereng condong (slope) pada fungsi konsumsi.

Fungsi konsumsi bersamaan dengan fungsi investasi, baik itu investasi otonom dan investasi tidak langsung (skedul efisiensi marginal dari modal bersama asas acceleration) dapat menjelaskan proses perkembangan yang melalui tahap ekspansi, tahap depresi yang mengandung kontraksi, tahap pemulihan ekonomi. Perkembangan tersebut menunjukkan pola gerak secara bergelombang dengan adanya tingkat puncak (tertinggi) dimana kegiatan berbalik (upper turning point) dan tingkat terendah; setelah itu kegiatan ekonomi pulih kembali (lower turning point).

Dengan demikian siklus ekonomi dengan pola kegiatan yang menaik dan menurun merupakan ciri yang inheren (melekat) dalam proses perkembangan ekonomi modern. Berdasarkan sintesis pemikiran tentang siklus ekonomi yang dikembangkan oleh Keynes dan Hansen (beserta Samuelson) sebagaimana secara pokok dijelaskan di atas., maka oleh golongan Keynes dan Neo-Keynes dipaparkan suatu pertimbangan dasar dalam kebijakan Negara, yaitu agar melalui kebijakan fiskal yang kontra-siklis dapat diredakan dampak negative yang terkandung dalam fluktuasi ekonomi. Sasarannya ialah mencegah laju ekspansi yang terlalu cepat dan sebalikknya melunakkan akibat keganasan dalam depresi sehingga kestabilan ekonomi dapat terpelihara dalam keasaan kesempatan kerja secara penuh.

 

G. Ulasan ringkas Teori Siklus Ekonomi. Interaksi antara Kekuatan-kekuatan Endogen dan Eksogen

Ada baiknya kita memperhatikan sifat serangkaian faktor dinamika yang mengambil peranan strategis dalam mendorong kegiatan ekonomi yang berjalan menurut pola gerak gelombang yang menaik dan menurun.

Seperti setelah dibahas sebelumnya, dapat dibedakan antara faktor dinamika yang bersifat endogen dan yang bersifat eksogen. Hal yang penting adalah segi interaksinya (hubungan pengaruhnya secara timbal-balik) diantara kedua kelompok jenis dinamika tersebut.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kekuatan-kekuatan endogen timbul secara internal dari kegiatan ekonomi yang berjalan dalam struktur ekonomi yang sedang berlaku. Naik-turunnya investasi, produksi dan pendapatan sering disebabkan oleh serangkaina kekuatan dan pertimbangan yang terdapat di dalam proses kegiatan ekonomi sendiri. Namun, tidak jarang perubahan dalam perkembangan ekonomi (dalam arti adanya ekspansi dan depresi) disebabkan oleh kekuatan-kekuatan yang berasal dari luar kegiatan ekonomi, yaitu dinamika eksogen. Kekuatan-kekuatan eksternal tersebut bersangkutan dengan perubahan-perubahan dalam keadaan diluar ekonomi dan bisa terjadi sewaktu-waktu secara kebetulan, atau bisa timbul secara periodik (karena bencana alam atau penemuan-penemuan baru). Dampak dinamika eksogen itu besar dan luas terhadap perkembangan di bidang ekonomi masyarakat.

Dalam tingkat pertama, kekuatan-kekuatan eksogen cenderung mengubah parameter-peremeter dan data-data yang sebelumnya dianggap sebagai faktor konstan dalam proses ekonomi. Perubahan pada parameter ataupun faktor konstan itu menimbulkan fluktuasi dalam kegiatan ekonomi sebagai respon atau reaksi dari tubuh ekonomi masyarakat secara menyeluruh. Dalam kenyataannya, respons dan reaksi yang dimaksud tidak dengan segera membawa penyesuaian dengan perubahan-perubahan yang bersifat eksternal. Selalu terjadi ketinggalan waktu (time-lag) sebelum terselenggarakannya penyesuaian yang diperlukan. Dengan kata lain, baru setelah beberapa waktu berlalu akan berperan serangkaian kekuatan endogen yang menimbulkan ataupun memperkuat gerak menaiknya atau menurunnya kegiatan ekonomi. Walaupun ada time-lag, pandangan kita mengenai kekuatan-kekuatan yang mendasari siklus ekonomi harus ikut memperhitungkan dorongan atau gangguan eksternal, tidak mungkin tidak.

Setelah kita menyimak pemikiran-pemikiran pokok dalam sejumlah teori siklus ekonomi yang dijelaskan sebelumnya, maka menarik perhatian seakan-akan justru diutamakan peranan dinamika yang dalam kerangka analisi dikembangkan oleh Keynes-Hansen (dan Samuelson). Hal itu memang dapat dipahami, sejauh menyangkut perkembangan jangka pendek seperti dalam Siklus Kitchin.

Juga dalam Siklus Juglar yang mencakup kurun waktu jangka menengah, proses ekspansi dan depresi untuk sebagian besar dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan endogen yang berlangsung secara kumulatif. Namun, tidak dapat disangkal bahwa juga dalam jangka menengah itu sudah dialami kejadian-kajadian yang bersumber pada dinamika eksogen : khususnya menyangkut titik-titik baliknya (turning points) dalam perkembangan, apakah itu pada tingkat puncaknya (upper turning point) ataupun pada tingkat terendahnya (lower turning point).

Oleh sebab itu, penulis sendiri melihat gerak gelombang dalam siklus ekonomi sebagai akibat campur atau lebih tepat sebagai cermin interaksi antara dinamika endogen dan dinamika eksogen satu sama lain menjadi semakin nyata dalam gelombang jangka panjang (Kondratieff).

Titik berat yang diberikan kepada kekuatan-kekuatan endogen sebenarnya berawal dari Albert Alfalion. Dalam gagasannya, diungkapkan respons dan reaksi dunia usaha yang selalu terlambat di dalam menyesuaikan kapasitas modal tetap yang sudah terpasang terhadap perubahan-perubahan pada permintaan.

Selalu dialami secara bergantian kelebihan dan kelangkaan dalam kapasitas produksi terpasang, sebab harus dilalui jangka waktu tertentu antara keputusan untuk menambah peralatan modal dan selesainya pembuatan modal itu. Lagi pula sekali tambahan modal tetap terpasang, maka usia kerjanya juga bisa relative panjang.

Faktor waktu tersebut dalam sistem produksi modern menjadi penyebab keterlambatan dan ketidaksempurnaan dalam penyesuaian kapasitas produksi beserta hasil produksinya terhadap perubahan pada permintaan.

Dalam pemikiran selanjutnya mengenai siklus ekonomi, serangkaian variabel endogen itu sebagaimana dikembangkan oleh Alfalion menjadi inti dalam teori-teori siklus ekonomi yang berdasarkan pendekatan ekonometrika.

Model-model ekonometrika mengungkapkan rupa-rupa kegiatan yang akan berjalan dalam tata susunan ekonomi sebagai respons dan atau reaksi terhadap suatu faktor dorongan atau suatu kejutan awal.

Kerangka landasan pemikiran Schumpeter beserta pola pendekatannya terhadap permasalahan siklus ekonomi sebenarnya juga termasuk kelompok teori siklus ekonomi yang masih bersifat endogen.

Dalam pandangan Schumpeter peran wirausaha merupakan faktor pendorong utama dalam menggerakkan kegiatan ekonomi yang menaik dan menurun secara bergelombang. Perilaku wirausaha dengan inovasinya mengandung ramifikasi, seakan-akan sistem ekonomi meninggalkan suatu keadaan equilibrium. Semakin jauh kegiatan ekspansi berada dari keadaan equilibrium, semakin terasa adanya kekuatan-kekuatan tandingan yang terkandung dalam sistem ekonomi dan yang akan menarik kembali kegiatan ekspansi pada suatu equilibrium. Sebaliknya, dikala dalam suatu resesi serangkaian kekuatan menjurus pada keadaan depresi, akhirnya akan muncul kekuatan-kekuatan tandingan (dari dalam tata susunan ekonomi sendiri) yang memulihkan kegiatan ekonomi dan mendorongnya kearah equilibrium lagi.

Keadaan equilibrium itu, pasca ekspansi maupun pasca depresi, mungkin sekali terletak pada tingkat harga dan biaya yang berlainan, dibandingkan dengan equilibrium yang lama.

Proses perkembangan tadi oleh Schumpeter dianggap sebagai ciri inheren (melekat) dalam perekonomian ekonomi modern yang dinamis. Dalam tata susunan ekonomi modern, kekuatan-kekuatan dinamika berkisar pada peran wairausaha yang melaksanakan inovasi dengan mengandalkan hasil kemajuan teknologi. Proses tersebut menimbulkan siklus demi siklus yang ditandai oleh goyangnya dan kadang kala oleh goncangan.

Kita melihat bahwa dalam kerangka pemikiran Schumpeter, setidaknya secara tersirat, faktor-faktor wirausaha-inovasi-teknologi dianggap sebagai serangkaian dinamika endogen dalam ekonomi masyarakat, baik dalam jangka pendek maupun untuk jangka panjang.

Dalam hubungan ini, harus ditunjukkan keterbatasan dan kelemahan yang terkandung dalam gagasannya. Dalam hal permasalahan siklus ekonomi, kerangka landasan dan garis pemikiran Schumpeter terlalu ditandai oleh cirri dimensi tunggal (one-dimensional). Oleh sebab itu, analisisnya masih  bersifat parsial. Schumpeter memberikan bobot yang terlalu besar dengan penekanan yang berat sebelah pada perkembangan teknologi dan penerapannya melalui inovasi yang diselenggarakan oleh wirausaha. Seolah-olah hal itu merupakan faktor kekuatan otonom secara tersendiri dan sekaligus juga sebagai dinamika yang inheren (semata-mata endogen) dalam kehidupan ekonomi masyarakat.

Memang diakui bahwa fluktuasi ekonomi bersangkutan dengan perubahan yang terjadi dalam proses ekonomi yang berjalan seperti organisme. Akan tetapi tidak dapat disangkal pula bahwa proses ekonomi sering mendapat dorongan atau mengalami gangguan dari faktor-faktor eksternal, di luar kegiatan ekonomi masyarakat. Faktor-faktor eksternal itu merupakan dinamika eksogen yang sangat mempengaruhi pola, arah, dan sifat kegiatan ekonomi dalam perkembang selanjutnya (meskipun dengan adanya time lag).

Siklus ekonomi bukanlah produk semata-mata atau utama dari teknologi-inovasi-perilaku wirausaha. Peran wirausaha dan penyelengaraan inovasi berdasarkan kemajuan teknologi, satu sama lain saling berkaitan dan tidak bisa membentuk kekuatan sendiri atau mandiri. Sebab, munculnya sekelompok wirausaha yang berhasil melakukan inovasi dengan mengandalkan kemajuan teknologi, harus dilihat kaitannya dalam perkembangan dan perubahan dengan bidang lain yang beranekaragam dalam kehidupan masyarakat secara menyeluruh.

Dengan menekankan pada peranan wirausaha, inovasi, teknologi sebagai dinamika endogen, Schumpeter mengabaikan pengaruh kekuatan dinamika eksogen yang sangat mendasar, seperti : perkembangan penduduk, terjadinya peperangan, perubahan alam, dan penemuan baru di luar ekonomi. Semua itu membawa perubahan dalam tata kehidupan masyarakat secara menyeluruh. Dinamika eksogen ini mendesak adanya adaptasi dalam sistem ekonomi. Dalam proses adaptasi tersebut terjadi serangkaian osilasi atau goyangan (goncangan) secara bergelombang. Oleh sebab itu, kekuatan dinamika eksogen mempunyai dampak yang sangat penting dalam proses ekonomi dan harus dilihat interaksinya dengan dinamika endogen. Semuanya akan semakin menonjol apabila dilihat dalam perkembangan kegiatan ekonomi jangka panjang.

Sintesis dalam kerangka analisis Keynes-Hansen menyediakan suatu teori yang terpadu mengenai berbagai permasalahan siklus ekonomi. Sintesis dalam teori tersebut memberikan pengertian bulat tentang fenomena gerak gelombang yang mengalami goyangan osilasi dalam kegiatan ekonomi. Sekaligus menunjukkan sebab terjadinya dasar perubahan yang bersangkutan dengan goyangan osilasi itu. Walaupun demikian, pola pendekatan Keynes-Hansen seakan-akan terpusat pada faktor-faktor dinamika endogen. Sedikit sekali perhatiannya terhadap peranan dinamika eksogen dan dampaknya yang terjadi dalam perkembangan ekonomi.

Kemungkinan besar bahwa pokok perhatian Keynes (termasuk pemikir ekonomi Neo-Keynes, Pasca-Keynes, Monetaris, Ekspektasi Rasional) terlalu ditujukan pada penanggulangan permasalahan dalam perkembangan ekonomi jangka pendek (in the long run we are all dead) yang berlangsung di negara-negara industry. Kebijakan untuk menanggulangi permasalahan itu berkisar pada pengelolaan permintaan agregatif (management of aggregate demand). Hal itu dilakukan melalui kebijakan fiskal yang kontra-siklis. Dalam tinjauan tentang teori umum di bagian pertama, telah disampaikan bahwa kekurangan dalam pemikiran Keynes dan Neo-Keynes bukan terletak pada konsistensi dalam logika internalnya, tetapi berkisar pada penyelenggaraan kebijakannya di tengah realitas perkembangan ekonomi masyarakat. Penyebab utamanya yaitu kurang diperhitungkannya parameter-parameter masyarakat politik (kekuatan eksogen) yang besar pengaruhnya dalam proses perekonomian. Hal itu menghambat kebijakan negara untuk tepat waktu dalam melakukan langkah-langkah tindakan kontra-siklis. Dengan begitu, terjadi time lag dalam respons dan reaksi oleh kebijakan negara, di samping adanya time lag yang serupa dalam dunia usaha. Penentuan waktu (timing) yang kurang tepat menghilangkan makna dan relevansi kebijaksaan kontra-siklis sehingga dampaknya menambah kesulitan yang sudah dialami.

Keterbatasan yang diungkapkan di atas menyangkut perimbangan-perimbangan keadaan yang terjadi di masyarakat negara-negara industry. Keterbatasan itu hakikatnya berkisar pada kecenderungan untuk mengabaikan pengaruh dinamika eksogen dalam interaksinya dengan peran dinamika endogen.

Pemikiran Keynes dan Neo-Keynes (golongan Monetaris dan Ekspektasi Rasional) tetertuju pada sasaran jangka pendek yang berkisar pada kestabilan ekonomi yang berdasarkan penggunaan kapasitas produksi terpasang secara penuh, kesempatan kerja secara penuh dan menghindarkan inflasi untuk menjaga kestabilan harga. Pokok keprihatinannya karena kapasitan produksi yang sudah terpasang tidak dimanfaatkan secara penuh dan bekerja jauh dibawah kemamapuannya sehingga menimbulkan pengangguran yang luas diantara angkatan kerja. Jadi, pangkal tolaknya ialah kenyataan mengenai sudah cukup tersedianya peralatan modal industry modern dalam lingkungan masyarakat dinama prasarana dan perangkat administrative-institusional juga sesuai dengan perekonomian industry modern.

Berbeda dengan kebanyakan masyarakat negara berkembang. Perbedaan mendasarnya justru terletak pada kurang memadainya kapasitas produksi yang terpasang, dibandingkan dengan tuntutan perekonomian modern. Baik menyangkut peralatan modal tetap dalam dunia usaha, maupun modal tetap masyarakat berupa prasarana fisik (jalan, jembatan, perairan, pembangkit listrik, pelabuhan dan lain-lain) dan prasarana administrative (ketataprajaan negara beserta aparatur pemerintahannya) aataupun prasarana institusioanl yang menyangkut segi kelembagaan ekonomi-sosial dalam pergaulan hidup (lembaga keuangan bank dan non bank, perkreditan rakyat dan lembaga perekonomian rakyat pada umumnya). Dengan kata lain, perimbangan structural berbeda secara fundamental dan sudah menyangkut struktur ekonomi yaitu kerangka susunan dan landasan bagi kegiatan ekonomi dalam masyarakat yang bersangkutan.

Jelas bahwa dengan keadaan ekonomi masyarakat seperti itu, teori siklus ekonomi yang mengutamakan peran dinamika endogen tidak akan berdaya untuk memberikan pengertian yang memadai tentang pola gerak perkembangan ekonomi. Hal ini berlaku juga dalam pengelolaan kebijaksanaan yang diperlukan dalam keadaan structural yang berlainan.

Kebijakan strategis ekonomis untuk negara berkembang yaitu pada perubahan structural dalam rangka pembangunan ekonomi. Kebijakan tersebut menyangkut sasaran yang lebih luas tidak hanya pengendalian permintaan agregatif. Kebijakan itu menekankan pada peningkatan kemampuan dari segi supply barang dan jasa. Hal ini dapat ditanggulangi dengan peningkatan investasi dalam modal tetap (prasarana masyarakat maupun modal dunia usaha). Dalam hal ini, investasi yang dimaksud juga mempunyai cirri yang berbeda dengan negara industry.

Pembangunan ekonomi yang berarti perubahan mendasar dalam struktur ekonomi memerlukan waktu yang cukup lama. Dalam perkembangan jangka panjang itu semakin terlihat peranan kekuatan dinamika yang bersifat eksogen. Gerak kecenderungan jangka panjang juga berlangsung menurut pola bergelombang. Dalam hubungan ini, gelombang-gelombang yang dimaksud mencakup jangka waktu yang lebih lama dibandingkan dengan silkus ekonomi jangka pendek atau menengah.

Pada gerak jangka panjang, pengaruh dinamika eksogen sering dominan dalam interaksinya dengan kekuatan dinamika endogen dalam kegiatan ekonomi yang berlangsung.

H.   Apakah Siklus Bisnis dapat Dihindari?

  • Dengan berjalannya waktu, siklus bisnis semakin berkurang kualitasnya.
  • Faktor-Faktor Penentu Stabilitas

–        Semakin sempurnanya aliran modal

–        Kebijakan pemerintah semakin terbuka dan dapat diprediksi

–        Pemahaman pemerintah yang semakin baik terhadap kondisi perekonomian dapat mencegah perekonomian menuju resesi

  • Pada dekade 1990, ekonom AS berfikir bahwa siklus bisnis sudah mati. Di AS siklus bisnis sudah tidak terjadi, tetapi SB muncul di negara lain.
  • Okun mengatakan bahwa memang karena penyebab resesi sudah dikenali, sehingga resesi dapat ditekan terjadinya, tetapi kita tidak akan mampu menghadang terjadinya resesi.

DAFTAR PUSTAKA

 

  

Sumitro Djojohaadikkusumo, perkembangan pemikiran ekonomi,buku I dasar teori dalam ekonomi umum. Yayasan obor Indonesia,Jakarta 1991.

Kusnendi, Makroekonomi dalam perspektif filsafat keilmuan. UPI 2002

Paul A. Samuelson, William D. Nordhaus. 2001. Ilmu Makro Ekonomi, Edisi Ketujuhbelas. Jakarta: PT Media Global Edukasi

Deliarnov,Perkembangan Pemikiran Ekonomi (edisis revisi). 2003. Jakarta: raja grafindo perkasa

http://m3coption.com/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=43

file://localhost/C:/Documents%20and%20Settings/aby/Desktop/New%20Folder%20(2)/STE/siklus-ekonomi.html (2008)

file://localhost/C:/Documents%20and%20Settings/aby/Desktop/New%20Folder%20(2)/STE/mac6.html

« »