I.Pengertian Teori Ekonomi

Pengertian teori ekonomi adalah abstraksi dari kenyataan ekonomi yang berupa konsep-konsep tentang variabel, asumsi, perilaku dan prediksi variabel dengan metodologi yang jelas. Uraian teori dilakukan dengan sistematik yang konsisten.

Teori ekonomi berkembang terus karena masalah-masalah ekonomi yang dihadapi manusia mengalami perubahan. Dalam usaha untuk menyelesaikan masalah tersebut lahirlah pemikiran-pemikiran yang diakui sebagai teori. Teori ini merupakan jawaban teoritik terhadap masalah tadi.

Jika jawaban teoritik tadi dapat dibenarkan oleh penelitian empirik, maka relevansi teori mendukung dalam penyelesaian masalah ekonomi. Dengan demikian teori tersebut dapat menjelaskan kenyataan ekonomi dan dapat pula meramalkan apa yang akan terjadi terhadap perilaku-perilaku variabel ekonomi.

Mempelajari teori ekonomi positif berarti mempelajari apa adanya tentang masalah-masalah ekonomi, sedangkan mempelajari ilmu ekonomi normatif cenderung mempelajari apa seharusnya. Dengan demikian mempelajari ilmu ekonomi adalah mempelajari ilmu yang relatif netral.

Mempelajari sejarah pemikiran ekonomi bertujuan agar kita dapat mengetahui perkembangan pemikiran dan teori ekonomi, memberi inspirasi, menanamkan sikap demokratik dan toleran.

 

                II.PEMIKIRAN EKONOMI NEO-KLASIK

Pemikiran ekonomi klasik telah banyak mendapat kritik tajam dari berbagai ahli ekonomi, baik yang berasal dari kubu faham sejarah, maupun kubu sosialis. Kritik-kritik tersebut diakibatkan karena ramalan kaum Klasik yang pesimis dan tidak terbukti kemudian.

Sejak tahun 1870 pengembangan teori mengalami perubahan konsep dan metodologi yang sangat besar. Perubahan-perubahan tersebut sering dinamakan revolusi teori ekonomi. Dikatakan demikian karena lingkungan teori ekonomi tidak lagi bersifat makro, tetapi cenderung lebih membahas aspek-aspek mikro. Disamping itu dasar penentuan nilai tidak lagi ongkos produksi atau nilai kerja saja, tetapi telah beralih pada teori kepuasan nilai marginal.

Karena analisis yang dibuat marx untuk meramal kejatuhan sistem kapitalis bertitik tolak dari teori nilai kerja dan tingkat upah, oleh pakar Neo Klasik teori-teori tersebut dipelajari kembali secara mendalam. Dari sekian banyak pakar-pakar Neo Klasik, ada empat orang yang melakukan penelitian tentang hal yang sama, yaitu W. Stanley Jevons (1835), Leon Warlas (1837-1910), Carl Menger (1840-1921) dan Alfred Marshall (1842-1924).

W. Stanley Jevons menulis Theory of Political Economy pada tahun 1871, Leon Warlas dari sekolah Lausanne (swiss) menulis Elements of pure economics pada tahun 1874, Carl Menger dari Austria menulis Principles of economics in germany pada tahun 1871, dan Alfred Marshall dari Cambridge University sebetulnya pernah menulis Principles of economics pada awal tahun 1870-an, namun buku tersebut baru diterbitkan 20 tahun kemudian.

Walupun mereka melakukan penelitian secara terpisah, dari hasil penelitian masing-masing mereka mengemukakan hal yang sama. Di samping kesimpulan yang dihasilkan pun sama, bahwa teori nilai lebih (surplus value) Marx tidak menjelaskan secara tepat tentang nilai komoditas. Mereka seperti menyepakati bahwa teori Marx tersebut tidak memberikan sumbangan apapun dalam perkembangan teori ekonomi. Oleh karena itu dapat diabaikan. Kesimpulan dari ke empat tokoh neo Klasik tersebut diatas telah meruntuhkan seluruh bangunan teori sosialis yang dikembangkan marx dan Engels, sekaligus menyelamatkan sistem liberal/kapitalis dari kemungkinan krisis sebagaimana diramal Marx.

             III.PERINTIS ANALISIS MARGINAL

PANDANGAN GENERASI PERTAMA (GOSSEN , JEVONS, MENGER, DAN WARLAS) TENTANG PEMAKAIAN ANALISIS MARGINAL DALAM TEOTI EKONOMI.

Para pakar neo klasik diatas dalam membahas ramalan Marx menggunakan konsep analisis marginal (marginal analysis). Kenyataan ini kemudian mempunyai arti tersendiri bagi pengembangan ilmu ekonomi. Hal tersebut karena hasil penelitian mereka yang dilakukan dengan pendekatan marginal tersebut telah menciptakan aura baru bagi pengembangan teori ekonomi modern.

Beberapa penulis ekonomi menyebut langkah yang sudah dilakukan oleh para pakar ekonomi tersebut sebagai marginal revolution. Sebab telah ditemukan sebuah analisis baru yaitu pendekatan marginal. Analisis marginal pada intinya merupakan pengaplikasian kalkulus differensial terhadap tingkah laku konsumen dan produsen serta penentuan harga-harga di pasar.

  1. 1.                  GOSSEN

Setelah tahun-tahun 1870-an terjadi perubahan besar dari teori dan metodologi ilmu ekonomi. Teori nilai tidak lagi didasarkan pada nilai tenaga kerja atau biaya produksi, tetapi telah beralih pada kepuasan marjinal (marginal utility). Pendekatan ini sebenarnya telah digunakan Ricardo dalam pembahasan sewa-lahan tetapi tidak berkembang. Demikian juga Bentham dengan filsafat Hedonisme didasarkan pada kepuasan, dan ini pun tidak berkembang.

Nama Gossen dengan sendirinya kembali muncul dan mendapat tempat yang terhormat, karena Gossen terlebih dulu telah memberikan sumbangan yang dikenal dengan hukum Gossen pertama dan kedua. Hukum pertama menjelaskan hubungan kuantitas barang yang dikonsumsi dan tingkat kepuasan yang diperoleh, sedangkan hukum kedua menerangkan bagaimana konsumen mengalokasikan pendapatannya untuk berbagai jenis barang yang diperlukannya.

Gossen lahir di Duren, Jerman pada tahun 1810. bukunya terbit pada tahun 1847 yang berjudul Entwicklung der Gesetze des menschichenVerkehrs. Gossen mengembangkan teori kepuasan yang menurun. Gossen menciptakan dua hukum kenikmatan.

Hukum pertama berbunyi : ” jika seseorang memakai suatu barang yang    semakin meningkat, maka kenikmatan total yang dihasilkannya meningkat pula, tetapi sampai pada titik tertentu kenikmatan itu menurun,             dengan denikian kenikmatan total juga menurun.

Oleh karena itu dapat diciptakan suatu rumus yang disebut kepuasan marginal (marginal utility) yaitu:

UM =  perubahan jumlah kepuasan

Perubahan jumlah konsumsi

Dengan demikian yang dimaksud dengan tingkat kepuasan             marginal adalah perubahan kepuasan yang diperoleh jika terjadi             perubahan konsumsi             satu satuan barang atau jasa.

Hukum pertama gossen ini digunakan untuk menjelaskan perilaku   konsumen yang seklanjutnya digunakan pula untuk menjelaskan           hukumnya yang kedua.

Hukum kedua ini dihadapkan dengan keterbatasan pendapatan di satu pihak, dengan keinginan yang tidak terbatas pada pihak lain.

Hukum kedua berbunyi: ” konsumen berperilaku dengan mengalokasikan pengeluarannya sedemikian rupa sehingga satuan terakhir pendapatan (uang) yang dibelanjakannya menghasilkan kepuasan marginal yang sama antara satu barang tertentu dengan kepuasan marginal yang tercipta dari satuan pendapatan terakhir yang dibelanjakan untuk setiap barang lain.”

 

Jadi jika seorang konsumen mempunyai kebutuhan tiga jenis barng yaitu X< Y dan Z maka rumusan hukum kedua Gossen ini adalah:

UMx = Umy = Umz

Hx               Hy        Hz

Ket:     UMx adalah kepuasan marginal yang diperoleh dari satu satuan barang X

Hx adalah harga barang X

Jadi dari hukum Gossen tersebut terlihat bahwa bukan jumlah kepuasan ataupun kepuasan rata-rata yang menentukan keputusan konsumen. Faktor yang menentukan adalah tingkat kepuasan marginal. Inilah salah satu inti dari teori ekonomi Neo-Klasik

Namun dengan adanya kendala ini, kepuasan maksimum yang bisa diperoleh (sesuai dengan keterbatasan sumber daya dan dana tersebut) terjadi pada saat faidah marginal (marginal utility) sama untuk tiap barang yang dikonsumsi tersebut. Namun dengan syarat semua sumber daya dan dana terpakai habis seluruhnya.

Sayangnya pada masanya teori Gossen diatas tidak mendapat perhatian dari para pakar ekonomi. Baru sekitar empat puluh tahun kemudian Jevons, Menger, Bohm-Bawerk dan Von Weiser memberi pengakuan dan penghargaan atas karya Gossen tersebut.

  1. 2.                  JEVONS DAN MENGER

 Jevons

Pemikir Inggris yang datang kemudian, Jevons, sangat berutang budi pada Gossen, ketika mengembangkan teori kepuasan marjinal. Demikian juga dengan seorang pemikir dari Wina yaitu Menger pada tahun yang sama yang menjelaskan teori nilai kepuasan marjinal. Jevons berpendapat bahwa perilaku individulah yang berperan dalam menentukan nilai barang. Pilihan (preference) menimbulkan perbedaan harga, tetapi akhirnya orang akan sampai pada tingkat tidak memilih karena tingkat preferensinya terhadap semua barang telah seimbang.

Jevons menulis buku The Theory of Political Economy yang diterbitkan pada tahun 1871. pada tahun ini juga buku Menger yang berjudul Grundsaltze der Volkswirtschaftslehre, menbicarakan hal yang sama dengan apa yang telah dalam buku Jevons. Sumbangan utama Jevons terlihat dalam pemikirannya tentang nilai. Teori nilai tergantung pada kepuasan (utility).

Menurut pemikiran neo klasik tentang nilai ini dinamakan pendekatan subjektif karena bertolak pada individu dan kebutuhannya. Kelebihan jevons dalam hal ini adalah menjelaskan teorinya dengan peralatan matematika dan statistika. Jevons menyusun hukum tidak memilih ( law of indifference) yang kemudian diketahui sebagai pengandaian struktur pasar persaingan sempurna. Jevons menyatakan bahwa perbedaan harga timbul oleh karena perbedaan kesenangan.

  • Karl Menger (1840-1921)

Menger dianggap sebagai pelopor aliran Austria. Karya utamanya adalah Grunsatze der Vilks Wirtschafstlehre. Dalam buku tersebut menger mengembangkan teori utilitas marginal yang ternyata membawa pengaruh yang sangat besar terhadap pengembangan-pengembangan teori ekonomi.

Menger menjelaskan teori nilai dari orde berbagai jenis barang. Nilai suatu barang ditentukan oleh tingkat kepuasan terendah yang dapat dipenuhinya. Dengan teori orde barang ini maka tercakup sekaligus teori distribusi.

           

Pembahasan Menger ini terdiri dari 3 hal yaitu teori uang, metode dan teori ekonomi murni. Inti pendapat menger adalah:

  1. bahwa metode ekonomi diletakkan pada perilaku individu.                          Kenyataan ekonomi masyarakat bukanlah karena kekuatan-                                  kekuatan sosial, tetapi karena perilaku individu.
  2. bahwa ada 4 kondisi yang perlu dipenuhi bagi suatu barang                                     kebutuhan.
  • Barang itu adalah kebutuhan manusia
  • Barang itu mempunyai suatu kualitas yang dapat                                          memuaskan keeinginan mnusia.
  • Dalam hubungan kualitas dan kepuasan itu merupakan                                 sebab akibat yang diakui
  • Barang itu mempunyai suatu kekuatan yang mampu                                     memberi kepuasan.

3.         pendapat Menger lainnya:

  • menger membedakan barang-barang yang mempunyai                                  sifat-sifat ekonomi dan non ekonomi. Sehingga lahirlah                           penjelasan tentang nilai barang.
  • Menurut Menger nilai suatu barang yang tersedia adalah                              sama dengan tingkat kepuasan yang terendah yang dapat                           memenuhinya.dan inilah yang menjadi ukuran untuk harga                           barang. Dengan demikian Menger telah membuka                                         hubungan antara permintaan dan penawaran.

3.                  WALRAS

Langkah lebih maju yang disumbangkan pemikir neo klasik adalah analisis yang lebih komprehensif tentang teori keseimbangan umum oleh Leon Warlas. Warlas dapat dianggap sebagai pendiri aliran atau mazhab Lausanne (Lausanne School of Economics).

Karya Walras yang lebih mengagumkan ini adalah disusunnya keseimbangan umum melalui 4 sistem persamaan simultan. Dampak sistem itu terjadi keterkaitan antara berbagai kegiatan ekonomi. Bahkan ke dalam sistem ini telah terintegrasi sekaligus teori produksi, konsumsi dan distribusi.

Asumsi yang digunakan Walras adalah persaingan sempurna, jumlah modal, tenaga kerja, dan lahan terbatas, sedangkan teknologi produksi dan selera konsumen tetap. Jika terjadi perubahan pada salah satu dari asumsi ini, maka terjadi perubahan yang berkaitan dengan seluruh kegiatan ekonomi.

Leon Walras ini sangat mahir dengan penjelasan-penjelasan matematis.   Dengan kemahirannya itu sampailah dia pada pembahasan keseimbangan pasar. Dalam sistem itu terjadi keterkaitan antara berbagai kegiatan ekonomi. Bahkan kedalam sistem ini telah terintegrasi sekaligus teori produksi, konsumsi dan distribusi.

Pendapat Warlas ini diterapkan  dengan syarat pada persaingan sempurna, jumlah modal, tenaga kerja dan lahan terbatas, sedangkan teknologi produksi dan selera konsumen tetap. Jika terjadi perubahan pada salah satunya maka terjadi perubahan yang berkaitan dengan seluruh kegiatan ekonomi.

  • Konsep Keseimbangan Umum Warlas

Secara berabad-abad pertanyaan apakah harga penentu dari pasar oleh permintaan dan penawaran dan melemparkan kepada konsumen dengan mengijinkan yang dapat tercapai penyesuaian jumlah optimum. Warlas menemukan banyak kesamaan posisi yang sulit dalam memahami. Walras tidak akan berhenti untuk menemukan kecurigaan bahwa alasan merupakan lingkaran tujuan. Mereka belum dapat memahami ke sah an bagian analisis keseimbangan, berdasar pada asumsi bahwa pasti variables dalam analysis merupakan hal yang menarik, tetapi tidak dapat dipegang dengan ide yang ada dalam bagian keseimbangan yang melibatkan tiap-tiap variables tidak mendapatkan jalan yang apapun garansi keseimbangan umum dalam keseluruhan economy dalam n pasar.

Persamaan dengan segera memperkirakan sendiri keberadaan kumpulan bersamaan persamaan. Jika tiap-tiap persamaan mewakili bagian dari keseimbangan dalam satu pasar, kalau kumpulan persamaan seperti itu akan membuktikan akan ketidak konsistennan, seperti itu tidak ada nilai dari n macam-macam variable bersma seluruh persamaan yang memuaskan. Untuk contohnya, mengnggap tiga persamaan linier dibawah dengan tiga variables :

2x + y = 10…………….(1)

x – 2z  = 1 …………….(2)

x + y + 2z = 1……………….(3)

untuk x = 3, kita mendapatkan y = 4 dan z = 1/2 dari persamaan 2; tetapi nilai y dan z tidak dapat dipastikan dengan menggunakan persamaan ketiga. Ketiga persamaan ini tidak konsisten dan kumpulan persamaan adalah kelebihan permintaan. Masalah dari permintaan adalah keberadaan keseimbangan umum sama dengan masalah mencari solusi unik untuk kumpulan persamaann yang bersamaan.

  • Sistem Walrasian

Dibawah ini parameter yang digunakan Walras dalam teorinya unruk mengetahui faktor penentu kesejahteraan diantaranya :

  1. teknik produksi yang efektif,  dalam angka menjadi tetap     menggambarkan faktor produksi yaitu jasa, tanah, modal, t, p, q…., m      menggambarkan hasil prooduk a, b, c….n dalam kolom dan m dalam          baris :

(at,ap,aq..)

(bt,bp,bq..)

(ct,cp,cq..)

  1. kelangkan atau fungsi marginal utility tiap-tiap individual dalam faktor       produksi dan m adalah konsumsi barang, nm mengadiktif dari

MU = Ф (q)

Walras mengasumsikan setiap individual mempunyai            permintaannya sendiri dalam persediaan factor jasa. Walaupun banyaknya      angka pekerja, mesin, dan lahan, persediaan jasa pekerja, modal dan lahan dalam waktu singkat menjadi variable. Untuk menyangkal saat yang sama             menyimpan asumsi produksi koefisien yang tetap kekuatan mengartikan       di sana tidak ada kumpulan harga yang jasa produktif  jelas semua factor             sama dalam pasar.

Adalah koefisien input tetap tentu saja sebagai asumsi yang penting dan dalam versi penting walras koefisien ini mengubah fungsi dari factor harga relative. Tetapi walras tidak pernah bebas memberi asumsi tentang fungsi marginal utility dan untuk itu menberi tanda kuantitas baik memiliki oleh individual perdagangan dipasar.

Jika kita menjumblahkan fungi individu permintaan dan penawaran di dalam perusahaan dan rumah tangga, kita memperoleh :

  1. persamaan pasar penawaran dalam menghasilkan jasa, n dalam                     angka:

0t = ∑0t = Ft(Pt, Pp, Pq,…, Pb, Pc. Pd,…)

0p = ∑0p = Fp(Pt, Pp, Pq,…, Pb, Pc, Pd,…)

…………………………………………

  1. persamaan pasar permintaan dalam menghasilkan barang, m                         dalam angka:

Db = ∑db = Fb(Pt, Pp, Pq,…, Pb, Pc, Pd,..)

Dc = ∑dc = Fc(Pt, Pp, Pq,.., Pb, Pc, Pd,..)

…………………………………………

Kedepan jumlah factor permintaan jasa harus sama dengan jumlah yang ditawarkan dan harga barang jadi harus sama dengan rata-rata biaya produksi. Ini ada dua kumpulan persamaan yang ada dimasa kedepan :

  1. kondisi pasar clearing untuk n factor pasar adalah at, bt, ct, ap,                      bp,….,kita tahu:

atDa + btDb + ctDc + … = 0t

apDa + bpDb + cpDc + … = 0p

……………………………………………………

  1. persamaan dari setiap biaya dan harga untuk m barang jadi

atPt + apPp + aqPq +… =1

btPt + bpPp + bqPq +… = Pb

…………………………………………..

  • Adanya Keseimbangan Umum

Pada umumnya sama jelasnya keadaan solusi harus memuaskan lengkap dan tetap.mengira permintaan dan penawaran adalah sesuatu penentuan titik nol yang baik atau harga positif (lihat gambar 13-1).

Gambar 13-1

                                 P               D                                   S

Q

Ini adalah untuk pemecahan yang baik atau suatu gangguan. Jika hanya bebas menentukan harga nol, ini tidak bisa dilarang dari sistem walrian : ini adalah pasar.

  • Stabilitas Dan Faktor Penentu

Tidak cukup Untuk memperlihatkan adanya solusi dari keseimbangan ini, sama ketika keseimbangan ini unik. Ini harus juga memperlihatkan kestabilan keseimbangan, dalam kecil maupun lebar, dan ini adalah faktor penentu, yang berarti bahwa kedudukan terakhirnya bebas mengambil terhadap bagian dari keseimbangan.

  • Teori Modal

Walras adalah pertama kali yang jelas untuk kemajuan yang mendasar antara persediaan sumber daya dan  hasil aliran pendapatan jasa. Walras menentukan seluruh pemberian sumber daya adalah modal tetap, dalam seluruh modal, seluruhnya dinamakan bentuk kekayaa sosial yang mana akan di gunakan dengan segera.

  • Teori Moneter

Walras menjaga kesimetrian sistem oleh perputaran modal dengan permintaan uang yang ada di tangan. Jumlah persediaan barang dan uang beredar antara permintaan dan penawaran  sekarang mendapat fungsi semua harga, dan bisa pasar clearing dan kondisi tidak mengambil keuntunga dari pembangunan agar keberadaan sistem menjadi solusi.

Total dari penjumlahan keamaan uang yang cair yang di tangan masyarakat harus sama dalam persamaan keseimbangan pengeluaran persediaan uang. Dalam jalan ini walras mengambil teory uang kedalam sistem keseimbangan umum.

  • Kontribusi Dalam Mengevaliasi Walras 

Ide besar munculnya ekonomi Ricardo adalah ketergantungan pada harga dan kuantitas. Para ekonom mengetahui bahwa sesuatu tergantung pada sesuatu lainnya. Tapi semuanya diimpikasikan menurut generalisasi Walras ini. Ekonomi Walras adalah ekonomi yang membahas masalah pada masa sekarang. Misalnnya teori uang modern, perdagangan internasional, ketenagakerjaan, dan pertumbahan ekonomi adalah teori keseimbangan umum yang sederhana. Ekonomi kesejahteraanpun berasal dari teori keseimbangan tersebut.

Sewaktu Warlas meninggal kedudukannya digantikan oleh Vilfredo Pareto. Pareto ini meneruskan aliran matematika yang sudah dikembangkan Warlas, ia juga banyak membantu Warlas dalam menjelaskan kondisi-kondisi yang harus dipenuhi agar sumber-sumber daya dapat dialokasikan sehingga memberikan hasil yang optimum dalam suatu model keseimbangan umum.

Jevons, Menger dan Warlas secara bersama-sama telah mengembangkan analisis yang sifatnya revolusioner tentang faktor-faktor yang menentukan harga relatif. Semuanya tidak setuju dengan teori nilai biaya produksi (Cost of  Production Theory Of Value) dari kaum klasik sebab teori ini dinilai tidak berlaku secara umum. Mereka secara tegas juga mengkritik teori nilai upah buruh (labor theory of value) Richardo serta teori biaya produksi dari senior dan Mill. Teori biaya produksi yang ditentang itu mengatakan bahwa harga barang ditentukan oleh biaya-biaya yang diperlukan untuk menghasilkan barang tersebut.

Jika diperhatikan semua teori yang telah dikemukakan, ada satu hal yang masih tetap ada sejak masa klasik, yakni asumsinya tentang keadaan struktur pasar dan konsumen serta produsen yang rasional. Namun demikian, teori-teori ini semakin bersifat abstrak dan makin banyak menggunakan matematika. Dengan demikian model-modelnya makin sederhana. Hal ini pula yang dikemudian hari akan mendapat kritik dari ahli-ahli lainnya.

             IV.PANDANGAN GENERASI KEDUA

 

Jika dibandingkan dengan pemikiran ekonomi pada kelompok generasi pertama Neo-klasik, maka pemikiran-pemikiran pemikir kedua tampak lebih tajam dan lebih spesifik. Hal ini dapat terjadi karena pemikiran generasi kedua menjabarkan lebih lanjut perilaku variabel-variabel ekonomi yang sudah dibahas sebelumnya. Lingkup yang dibahas telah berkembang dari produksi, konsumsi dan distribusi yang lebih umum beralih pada penjelasan yang lebih tajam.

Nama pemikir generasi kedua ini cukup banyak, sehingga yang akan dibahas hanya sebagian saja seperti Marshall, Wicksteed, Wicksell, Clark dan Pareto. Pemikiran-pemikiran yang kemungkinan disinggung sepintas yaitu seperti Eugen Van Bohm Bawerk (1851-1914), Edgeworth (1845-1926).

J.B Clark mengemukakan nilai etik teori produktivitas marginal. Pandangan-pandangannya dimuat dalam buku J.B Clark yang berjudul Distribution of Wealth yang terbit pada tahun 1899. Dalam teori distribusinya ia mempunyai beberapa asumsi;

ü  Berlaku kepuasan yang menurun

ü  Produksi langsung dalam kondisi hasil lebih yang berkurang

ü  Barang-barang ekonomi terbagi dua, yaitu barang konsumsi yang digunakan sekarang dan barang-barang yang menciptakan kekayaan di masa yang akan datang.

Kapital menurut Clark

Modal adalah barang nyata yang digunakan sebagai alat produksi dan sebagai harta yang produktif. Menurutnya modal adalah barang-barang sekarang yang lebih penting dari dari barang-barang yang akan datang. Karena itu lahirlah bunga. Ternyata pada kenyataannya barang-barang sekarang (modal) itu lebih bernilai daripada di masa depan. Clark menjelaskan bahwa itu dikarenakan:

  1. karena ada perbedaan kebutuhan sekarang dan mendatang.

Hal ini disebabkan nilai barang tergantung pada kepuasan marginal yang     menurun, jika jumlahnya meningkat, dan dengan barang sekarang itu   diharapakan mendatangkan pendapatan di masa yang akan datang             menurun. Hal ini dijelaskan jika mereka memegang uang. Jika individu       ingin menggunakan uangnya sebagai alat yang menyimpan nilai, bukan      sebagai alat pertukaran, maka ini berarti mengalihkannya dari barang-            barang sekarang menjadi barang masa depan.

  1. orang selalu menaksir kebutuhan masa depan lebih rendah (under    estimate), karena barang-barang sekarang memberikan premium atau agio          terhadap masa depan.
  2. adanya keunggulan teknis sekarang dari masa datang.

Keunggulan teknik produksi sekarang daripada masa datang menjadi         kontroversi antara J.B Clark dan Fisher. Pandangan Fisher mengenai modal dan bunga. Pada tahun 1907 Fisher menerbitkan buku The Teory     of rate of interest.  Menurutnya faktor-faktor produktif menciptakan      pendapatan sepanjang digunakan. Pendapatan itu diukur dengan dasar          sekarang (discounted), seperti sewa dan bunga, dua cara untuk        menghitung pendapatan tersebut.

Bunga merupakan faktor penyesuaian arus modal di pasaran karena perhitungan waktu sekarang dan mendatang. Pemilik modal senantiasa mencari alternatif penggunaan modal, misalnya mmbeli mesin untuk meningkatkan pendapatan masa datang. Begitu juga dengan orang yang melalui pelatihan kerja dengan harapan pendapatan masa datang meningkat.

Jadi ada dua kekuatan yang melahirkan bunga dalam ekonomi. Pertama kekuatan subjektif, yaitu preferensi waktu dari  individu tentang masa kini dan mendatang. Serta kekuatan objektif yaitu ketergantungan orang terhadap kesempatan investasi dan produktivitas faktor yang dimiliki.

Kontroversi teori produksi maginal

  1. Pertentangan pemikiran antara para ahli neoklasik seperti J.B. Clark dapat menjadi sumber inspirasi dari perkembangan ilmu ekonomi dalam menjelaskan teori distribusi fungsional, ditafsirkan oleh J.B Clark mempunyai nilai etik, yang secara langsung membantah teori eksploitasi. Dengan teori produktivitas marjinal upah tenaga kerja, laba serta lahan dan bunga ditetapkan dengan objektif dan adil. Tetapi masalahnya, apakah setiap pekerja mendapat upah sama dengan PPMt nya?
  2. Penggunaan pendekatan matematis dalam analisis ekonomi terutama dalam fungsi produksi semakin teknis, dan dengan penggunaan asumsi-asumsi yang dialaminya juga bertambah seperti dalam kondisi skala tetap, meningkat atau menurun. Hal ini dikaitkan pula dengan bentuk kurva ongkos rata-rata, oleh Wicksell. Hal ini merupakan sumbangan besar dalam pembahasan ongkos perusahaan dan industri. Pada saat kurva ongkos rata-rata menurun, sebenarnya pada fungsi produksi terjadi proses increasing returns, dan pada saat kurva ongkos naik, pada kurva produksi terjadi keadaan decreasing returns. Selanjutnya, pada saat ongkos rata-rata sampai pada titik minimum, pada fungsi produksi berlaku asumsi constant return to scale.
  3. Pemikiran lain yang menjadi sumber kontroversi seperti pandangan Bohm Bawerk telah menimbulkan kontroversi pula tentang hubungan antara modal dan bunga. Kontroversi ini pun timbul dari pandangan J.B. Clark. Clark mempunyai pendapat bahwa barang-barang sekarang mempunyai nilai lebih tinggi daripada masa depan, karena itu timbulah bunga. Tetapi, bunga juga dipengaruhi oleh produktivitas melalui keunggulan teknik. Bohm Bawerk memberikan adanya premium atau agio, karena kebutuhan sekarang lebih tinggi daripada masa datang. Tetapi, Fisher melihat dari arus pendapatan masa depan perlu dinilai sekarang, yang dipengaruhi oleh kekuatan subjektif dan objektif. Fisher menjelaskan pula terjadinya bunga melalui permintaan dan penawaran terhadap tabungan dan investasi. Fisher memberi sumbangan pula pada tingkat bunga. Tingkat bunga merupakan marginal rate of return over cost.
  4. V.            BAPAK  EKONOMI  Neo-Klasik

Marshall adalah salah satu bapak ekonomi aliran neo klasik. Marshall sebenarnya dapat dimasukan pada generasi pertama pemikir Neo-Klasik, tetapi karena bukunya yang terkenal terlambat diterbitkan maka para ahli mengelompokannya kedalam generasi kedua. Dia pula yang menyelesaikan kontroversi antara nilai yang ditentukan oleh ongkos produksi dan nilai yang ditentukan oleh kepuasan marginal.

  • PERMINTAAN DAN PENAWARAN MENURUT       MARSHALL.

Ada masalah pada teori permintaan Marshall, yang belum dapat diselesaikan. Meskipun demikina dia berhasil menghitung elastisitas permintaan. Dengan kurva permintaan yang menurun dari kiri atas ke kana bawah; setiap barang dapat dihitung bilangan yang menyatakan tingkat hubungan antara jumlah barang yang diminta dengan tingkat harga. Bilangan ini disebutnya koefesien elastisitas harga. Yang dapat dirumuskan sebagai berikut:

η = perubahan jumlah barang yang diminta (%)

perubahan tingkat harga

Koefisien ini juga untuk penawaran. Marshal membaginya menjadi 3 perilaku hubungan. Pertama elastik sempurna, kedua elastik dan ketiga tidak elastik (inelastik).

  • PENURUNAN KURVA PERMINTAAN

Marshall adalah penulis pertama setelah Walras dan secara eksplisit menurunkan kurva permintaaan dari fungsi kebutuhan. Prinsipnya adalah Marshall memberikan kesetimbangan untuk kesetimbangan konsumsi komoditas x sehingga MUx=PxMUn disini muncul aturan keseimbangan maginal

MUx/Px=MUy/Py=MUz/Pz=MUn

MUn adalah kebutuhan marginal uang. Kebutuhan marginal agak membingungkan karena yang Marshall maksudkan adalah bukan dari pemegang uang saham secara individual tetapi kebutuhan marginal dari laju pendapatan uangnya. Dalam kesetimbangan, seseorang akan berkeinginan untuk memegang uang sahamnya yang membuatnya melebihi keinginan tertentu.

M/P=kY/P

Selain itu, terdapat tiga bentuk equivalen aturan keseimbangan marginal untuk keseimbangan konsumen:

  1. Konsumen memaksimalkan kepuasannya ketika dia menyeimbangkan dasar ukuran kebutuhan marginal pada seluruh barang-barangnya dengan demikian kebutuhan marginal setiap barang terukur oleh harganya.
  2. Konsumen memaksimalkan kepuasan ketika dia menyeimbangkan pebandingan antara kebutuhan marginal dengan pebandingan harga koespondensi untuk setiap pasang barang yang dikonsumsi.
  3. Konsumen memaksimalkan kepuasannya ketika dia menyeimbangkan kebutuhan harga dari setiap barang yang dibeli dalam pembelian harga pasar.

Apabila konsumen telah mencapai kesetimbangan dan Px turun, persamaan MUx=PxMUe menjadi tidak seimbang, sehingga harus dibeli lebih banyak x untuk mengurangi MUx, dan konsumen akan membeli lebih banyak x ketika harga turun akibat rendahnya Px, dan memperoleh MU yang besar dari x dibanding komoditi lain. Hukum kebutuhan marginal yang berkurang menjamin bahwa MUx turun sebanyak yang dibeli untuk kembali setimbang.

Metode Marshall dalam kurva penurunan permintaan dari kurva utility didasarkan pada pendapatan tambahan. Fungsi kebutuhan: fungsi kebutuhan dari setiap barang yang dibeli oleh seseorang bebas. Fungsi MU tidak membenarkan pertimbangan untuk mengganti dan melengkapi komoditi, semua komoditi diperlukan sebagai barang yang bebas. Tetapi Marshall menyadari ada beberapa komoditi yang mempengaruhi komoditi lainnya. X dan y adalah pengganti ketika MUx menurun seiring dengan jumlah y yang meningkat.

Marshall juga, mengemukakan tentang kekonstanan kebutuhan marginal uang (MUe). Dia berpendapat MUe konstan di kebanyakan kasus. Kekonstanan absolut MUe menjadi hal yang jarang sehingga dapat diperagakan dengan mudah. Perubahan harga yang akan meninggalkan MUe yang tidak berpengaruh dapat diketahui dari fungsi MU dengan elastisistas tunggal yang sama untuk bersatu dalam interval yang sesuai. Marshall sangat puas terhadap pandangan bahwa MUe diperkirakan konstan untuk perubahan kecil dari harga barang yang tidak penting, dimana barang-barang tersebut tidak berpengaruh terhadap total pembelanjaan perseorangan. Untuk tujuan-tujuan praktis, MUe tetap konstan dan bisa diarahkan menjadi unit pengukuran dari kebutuhan perseorangan, melalui peningkatan kebutuhan total yang diperoleh dari penambahan $1 pada total yang dihabiskan perseorangan. Rumus utamanya:

Px=MUx/MUe

  • ILMU EKONOMI MARSHALL : UTILITY DAN PERMINTAAN

Metode ini dapat diartikan bahwa kegunaan marginal sama dengan produk marginal dalam teori konsumsi. Teori konsumsi ini timbal balik dengan Mue (dapat disebut pendapatan marginal dari kegunaan). MUe adalah penambahan satu dollar pada total belanja konsumen dari total hasil kegunaan. Terdapat sebuah pernyataan bahwa px=MUxMRu dan dari pernyataan ini kurs marginal merupakan subtitusi antara uang dan komoditi. Maka dari itu MRu=Mu, yaitu sebagai produk pendapatan marginal yang sama dengan produk marginal.

MRu selalu berubah pada saat harga komoditi berubah. Hal ini tidak akan terjadi bila kegunaan marginal dan kurva permintaan dari komoditi menyerupai hiperbola. Misalkan harga jatuh, kurva permintaan untuk x didapat dari kurva permintaan bertahap.

Dalam keseimbangan, persamaan konsumen adalah Mux ke Px.Mue. dan disaat px=px1 konsumen membeli q1. disaat harga lebih rendah (px2), kurva bergerak turun karena adanya subtitusi. Apalagi melihat pada kegunaan marginal dengan berbagai harga, dapat dilihat pada perpindahan Mux/Px (dalam gambar dibawah). pada dua barang atau lebih, berarti qx dan qy akan dibelanjakan dan membuat pendapatan habis. Jika kita hilangkan peran konsumen pada pendapatan, akan menyebabkan harga jatuh dipx, maka x akan bertambah dan y berkurang. Jika ada penambahan pendapatan x akan sama dengan y.

Kurva permintaan terkandung variabel x dan y. dan selama ini x dan y diasumsikan sebagai barang bebas. Jika x dan y adalah barang subtitusi atau komplementer, maka akan menimbulkan kesulitan dalam pertimbangan. Dan ini menitikberatkan pada fungsi kegunaan marginal yang digambarkan pada asumsi selera, pendapatan dan harga semua barang. Jika x dan y adalah subtitusi, Muy/Py akan turun lebih banyak dan jika mereka komplementer maka Muy/Py akan bergeser naik. Dapat dimungkinkan bahwa kurva MUx/Px2 akan turun dan keseibangan x akan meningkat. Dan dapat disimpulkan bahwa kurva permintaan adalah hasil dari pendapatan yang diperoleh dari persaingan antara dua barang. Barang inferior adalah barang yang elastisitas pendapatan dari permintaannya negatif.

  • KURVA PERMINTAAN MARSHALL

Melihat pada penelitian terdahulu, bahwa kurva permintaan merujuk pada maksud alternatif dalam pembelian di satu waktu. Untuk konsep kurva permintaan marshal, banyak perkiraan menyebut bahwa kurva permintaan adalah negatif. Kita harus bertanya pada konsumen berapa banyak mereka membeli jika barang sama, tetapi harganya berbeda. Upaya menghubungkan kegunaan dan permintaan dalam gaya Marshal melalui “Law Of Satiable Want” menghadapi dua kesulitan. Yang pertama adalah hukum penurunan kegunaan marginal tidak menyediakan  “One General Law Of Demand” dan yang kedua adalah fungsi kegunaan secara umum menghilangkan prosedur opersional pengukueran kardinal dari kegunaan. Sehingga tambahan penurunan kegunaan dari penambahan unit barang menjadi tidak berarti. Jika fungsi kegunaan barang individu ditambah, maka barang akan lebih dibutuhkan. Seperti pengukuran yang diajukan Fisher bahwa funsi kegunaan secara umum meungkin mengandung satu dari variabel fungsi kegunaan orang lain yang dapat menjelaskan bahwa perilaku konsumen sama dengan pengukuran kardinal dan ordinal dari kegunaan. Kekhawatiran Marshal tentang asumsi Mue yang konstan menujukkan kegagalannya untuk menjelaskan larangan penempatan kurva permintaan komoditi x. Penjelasan ini diambil Edgeworth yang mencakup beberapa pokok yaitu selera, pendapatan, harga barang sejenis, harga barang lain dan perkiraan harga dimasa datang.

Ada dua cara dalam memecahkan permasalahan ini. Pertama adalah dengan membantah pendapatan yang mempengaruhi perubahan harga komoditi dan perubahan yang berhubungan dengan daya beli uang. Kedua adalah seperti yang dianut Friedman, yaitu menempatkan harga barang lain dengan kondisi bahwa semua harga barang sejenis bergerak kebalikan, sehingga pendapatan tetap konstan dalam kurva permintaan. Pada dasarnya pendapatan adalah bagian dari perilaku konsumen, sehingga kurva permintaan diduga mengikuti pendapatan yang mungkin negatif atau positif. Hal ini dibenarkan oleh Marshal yang kadang-kadang menunjukkan jika kurva permintaan itu sebagai kurva pendapatan.

Selanjutnya fungsi kepuasan yang subjektif itu oleh Marshal dianggap bersifat aditif. Marshall menyelesaikan fungsi kepuasan total, sama dengan yang dilakukan Jevons, yang didasarakan pada hukum Gossen pertama dan kedua, yang akhirnya sampai pada keseimbangan kepuasan antara beberapa jenis barang. Jadi kepuasan dapat diukur melalui sistem harga.

Masalah yang dihadapai Marshall terhadap fungsi permintaan itu adalah peranan substitusi dan efek pendapatan dan adanya barang-barang normal dan barang-barang inferior. Tetapi oleh karena adanya cateris paribus, maka kelemahan teori per,intaan Marshall itu terjadi. Sehingga masalah peranan barang pengganti dan pengaruh pendapatan tidak terselesaikan. Inipun terjadi karena kepuasan marginal uang dianggap tetap (,arginal utility of money is constant).

Selanjutnya Marshall mempunyai sumbangan terbesar dalam penawaran karena klasifikasinya tentang pasar. Dengan pembagian itu maka ongkos produksi dan penawaran dapat diamati.

Dalam pembahasan sisi permintaan, marshall telah menghitung koefisien barang yang diminta akibat terjadinya perubahan harga secara relative. Nilai koefisien ini dapat sama dengan satu, lebih besar dan lebih kecil dari satu. Meskipun ada dua masalah yang belum mendapat penyelesaian dalam sisi permintaan, yakni aspek barang-barang pengganti dan effek pendapatan.

Marshall menyelesaikan pula kontroversi tentang apakah harga faktor produksi ditentukan oleh harga atau menentukan harga. Dalam hal ini marshall kembali kepada pembagian penawaran dan permintaan yang dikaitkan dengan waktu.

Dalam jangka pendek tingkat upah, sewa dan laba ditentukan oleh tingkat harga barang tetapi untuk jangka panjang kurva penawaran mulai semakin elastic, dan upah menurun menuju pada titik keseimbangan. Jadi upah, sewa dan laba dalam jangka panjang menentukan tingkat harga, tetapi dalam jangka pendek ditentukan oleh harga.

Mekanisme permintaan dan penawaran dapat mendatangkan ketidakstabilan. Karena setiap usaha yang dilakukan untuk kembali ke posisi keseimbangan ternyata membuat tingkat harga dan jumlah barang menjauhi titik keseimbangan, keadaan tidak stabil itu terjadi kalau kurva penawaran berjalan dari kiri atas ke kanan bawah. Jika vriabel kuantitas inddependen, terjadi kestabilan, tetapi jika berubah harga menjadi independen, maka keadaan jadi tidak stabil.

  • SURPLUS KONSUMEN

Pengertian ini dikaitkan pula dengan welfare economics. Surplus konsumen adalah perbedaan antara pengeluaran total konsumen yang bersedia ditanggung dengan yang debenarnya dia bayarkan. Bahwa konsumen keseluruhan mengeluarkan uang belanja lebih kecil daripada kemampuannya membeli. Jika ini terjadi maka terjadi surplus konsumen.

Selama pajak yang dikenakan pada konsumen lebih kecil daripada surplusnya itu, maka kesejahteraannya tidak menurun tetapi pajak juga dapat digunakan untuk subsidi terutama bagi industri-industri yang struktur ongkosnya telah meningkat. Marshal menjelaskan pula mengapa kurva ongkos total rata-rata menurun dan meningkat. Hal ini berkaitan dengan faktor internal dan eksternal perusahaan.

  • KESEIMBANGAN YANG TIDAK STABIL

Jika keseimbangan terganggu maka apakah proses selanjutnya akan kembali menuju ke tingkat keseimbangan atau bukan. Jika tidak, maka terjadi ketidakstabilan.

Pada model Marshall kuantitas adalah independen tetapi pada warlas harga lah yang independen. Namun kesimpulan yang dicapai sama. Pada kedua gambar ini kurva penawaran berjalan dari kiri atas ke kanan bawah, demikian juga kurva permintaan.

Padahal logika dari penawaran adalah bahwa meningkatnya tingkat harga, penawaran terus ditambah dan sebaliknya. Tetapi dalam kasus ini ternyata kuantitas yang ditawarkan turun pada saat harga yang lebih tinggi. Demikian juga dilihat dari segi permintaan. Jadi tingkat harga tidak menuju pada keseimbangan, inilah keseimbangan yang tidak stabil.

Itulah salah satu sumbangan dari marshall, namun demikian masih banyak hal yang masih mendapat perhatian lebih lanjut, seperti masalah ekonomi eksternal, pengaruh substitusi dan pendapatan.

Secara singkat, hasil pemikiran Marshall adalah sebagai berikut:

  1. Sumbangan yang paling terkenal dari pemikiran Marshall dalam teori nilai merupakan sitetis antara pemikiran pemula dari marjinalis dan pemikiran Klasik. Menurutnya, bekerjanya kedua kekuatan, yakni permintaan dan penawaran, ibarat bekerjanya dua mata gunting. Dengan demikian, analisis ongkos produksi merupakan pendukung sisi penawaran dan teori kepuasan marjinal sebagai inti pembahasan permintaan. Untuk memudahkan pembahasan keseimbangan parsial, maka digunakannya asumsi ceteris paribus, sedangkan untuk memperhitungkan unsur waktu ke dalam analisisnya, maka pasar diklasifikasikan ke dalam jangka sangat pendek, jangka pendek, dan jangka panjang. Dalam membahas kepuasan marjinal terselip asumsi lain, yakni kepuasan marjinal uang yang tetap.
  2. Pemikiran Alfred Marshall mahir dalam menggunakan peralatan matematika ke dalam analisis ekonomi. Dia memahami, bahwa untuk memudahkan pembaca, maka catatan-catatan matematikanya diletakkan pada bagian catatan kaki dan pada lampiran bukunya. Pembahasannya tentang kepuasan marjinal telah mulai sebelum 1870, sebelum buku Jevons terbit, tetapi karena orangnya sangat teliti dan modes, dia tidak mau cepat-cepat menerbitkan bukunya.
  3. Dalam pembahasan sisi permintaan, Marshall telah menghitung koefisien barang yang diminta akibat terjadinya perubahan harga secara relatif. Nilai koefisien ini dapat sama dengan satu, lebih besar dan lebih kecil dari satu. Tetapi, ada dua masalah yang belum mendapat penyelesaian dalam hal sisi permintaan, yakni aspek barang-barang pengganti dan efek pendapatan. Robert Giffen telah dapat membantu penyelesaian kaitan konsumsi dan pendapatan dengan permintaannya terhadap barang-barang, sehingga ditemukan Giffen Paradox. Peranan substitusi kemudian diselesaikan oleh Slurtky.
  4. Marshall menemukan surplus konsumen. Pengertian ini dikaitkan pula dengan welfare economics. Bahwa konsumen keseluruhan mengeluarkan uang belanja lebih kecil daripada kemampuannya membeli. Jika itu terjadi maka terjadi surplus konsumen. Selama pajak yang dikenakan pada konsumen lebih kecil daripada surplusnya itu, maka kesejahteraannya tidak menurun. Tetapi, pajak juga dapat digunakan untuk subsidi, terutama bagi industri-industri yang struktur ongkosnya telah meningkat. Marshall menjelaskan pula mengapa kurva ongkos total rata-rata menurun dan meningkat. Hal ini berkaitan dengan faktor internal dan eksternal perusahaan atau industri.
  5. Mekanisme permintaan dan penawaran dapat mendatangkan ketidakstabilan, karena setiap usaha yang dilakukan untuk kembali ke posisi seimbang ternyata membuat tingkat harga dan jumlah barang menjauhi titik keseimbangan. Keadaan tidak stabil itu terjadi jika kurva penawaran berjalan dari kiri-atas ke kanan-bawah. Jika variabel kuantitas independen, terjadi kestabilan, tetapi jika berubah harga menjadi independen, maka keadaan menjadi tidak stabil.

KESIMPULAN

Penemu teori Marginal Utility (MU) pada awalnya meragukan adanya ukuran untuk mengukur utility (kegunaan). Menger dan Walras tidak secara serius mengajukan pertanyaan tentang kemampuan mengukur itu. Jevons pun awalnya menyangkal bahwa utility bisa diukur tetapi kemudian ia tersugesti sebuah cara untuk mengukurnya dengan mengira-ngira konstanta MU uang, dan cara tersebut kemudian diadopsi dan disempurnakan Marshall. Marshall juga merupakan penulis pertama setelah Walras dan secara eksplisit menurunkan kurva permintaaan dari fungsi kebutuhan. Metode Marshall dalam kurva penurunan permintaan dari kurva utility didasarkan pada pendapatan tambahan. Marshall juga, mengemukakan tentang kekonstanan kebutuhan marginal uang (MUe). Dia berpendapat MUe konstan di kebanyakan kasus.

Dalam teori Marshall yang lain, Marshall menyebutkan bahwa surplus konsumen adalah kelebihan dari harga, dimana konsumen mau membayar lebih dari harga sebenarnya. Sedangkan mengenai analisis pajak Bounty, disimpulkan bahwa suatu negara dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi melalui penurunan pajak yang dambil dari sektor industri. Pengurangan pajak ini memungkinkan untuk memproduksi penawaran yang lebih rendah karena dengan penawaran harga meningkat sangat berhubungan dengan tabungan yang menyebabkan produksi unit marginal superior pada harga akan lebih rendah.

DAFTAR PUSTAKA

 

Dellarno. 2007. Pemikiran Ekonomi. PT. Raja Gravindo. Jakarta.

Djojohadikusumo, Sumitro. 1991. Perkembangan Pemikir Ekonomi. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta.

Hasimbuan, Nurimansyah. 1987. Sejarah Pemikiran Ekonomi Modul UT. DEPDIKBUD: Jakarta

http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/03/revolusi-teori-ekonomi-mikro-dan-makro.html

http://pustaka.ut.ac.id/puslata/online.php?menu=bmpshort_detail2&ID=115

http://www.geocities.com/ekonomipolitik/ekopol/harwib.html

« »